Archive for the 'Uncategorized' category

berbagi pengalaman hamil dan melahirkan

Sep 25 2018 Published by Dini Susanti under Uncategorized

Semoga bermanfaat untuk calon ibu maupun ibu muda lainnya..

HAMIL

Tanda-tanda kehamilan :
Tidak menstruasi pada tanggal yang biasanya menstruasi, biasanya telat hingga berminggu minggu, tidak ada salahnya mencoba tes kehamilan dengan test pack yang murah meriah, harganya berkisar Rp.3000 an tersedia di apotik2. Saya sendiri sering dimarahi suami karena keseringan coba-coba tes (hehe) tak apa kok asalkan hati senang. Dan pasti tambah senang jika hasil tes pada kertas tes bergaris dua berwarna merah muda..banyak2lah bersyukur..lalu sampaikan pada suami kejutan tersebut..sapa tau dapet hadiah dari suami :)

Hamil bulan 1 – 3 :
Disebut juga trisemester pertama, ini adalah usia yang rawan bagi ibu hamil dan bayinya. Mual dan muntah sangat besar kemungkinan terjadi pada usia kehamilan ini. Bisa terjadi pada pagi hari, atau bisa juga pada malam hari seperti saya, mual dan muntah justru pada malam hari setelah pulang kerja. Atasi dengan segera, jika anda ke dokter biasanya diberi obat mual, namun coba atasi dengan beberapa saran di artikel “mual muntah saat hamil” itu bisa juga dicoba karena yang terpenting pada usia kehamilan ini, makanan harus masuk. Jangan sampai calon ibu kekurangan nutrisi. Karena otak janin dan tulang belakang sedang berkembang. Jika terlanjur muntah, minumlah air hangat campur madu. Minum teh manis jangan terlalu banyak karena teh bisa mengikat garam dalam tubuh sehingga pada bagian tertentu tubuh bisa terjadi pembengkakan.

Hamil bulan 4 – 6 :
Disebut juga trisemester kedua, umumnya rasa mual mulai berkurang, berat badan meningkat cepat. Pada bulan ke-4 akan mulai terasa gerakan janin. Tubuh sudah mulai bersemangat dibanding dengan trisemester pertama tubuh sudah mulai beradaptasi dengan perubahan hormonal yang terjadi. Ngidam umumnya terjadi di masa ini. Menurut beberapa literatur yang pernah saya baca, ngidam makanan tertentu dapat diartikan bahwa tubuh kekurangan zat-zat tertentu yang kemudian di dorong dengan keinginnan memakan makanan tertentu. Namun ngidam yang aneh-aneh dan berlebihan kemungkinan dapat disebabkan ingin menarik perhatian suami..heheh makanya para suami ayolah obral kasih sayang untuk istrinya dimasa ini.

Hamil bulan 7 – 9 :
Disebut juga trisemester ketiga, rasa lelah pada trisemester pertama kembali terulang di trisemester ketiga ini, terutama untuk para ibu pekerja. Lelah disebabkan beban tubuh semakin tinggi karena janin berkembang sangat pesat dan mendorong tubuh kedepan, sehingga gaya berjalan ibu disarankan untuk menarik bahu agak kebelakang dan punggung diluruskan, menurut suamiku seperti gaya jalan pragawati..disarankan pada usia ini bagi yang memiliki waktu luang untuk mengikuti senam hamil, dimomen ini nanti ibu bisa bertemu dengan banyak calon ibu lainnya untuk berbagi pengalaman, tips, maupun konsultasi dengan bidan yang membimbing senam hamil. Ada acara makan snack dan minum susu juga lho..saya ikut di rsia hermina dengan biaya rp. 15.000/kedatangan. Ikut senam setiap sabtu pagi diantar suami. Di sana juga diajarkan latihan mengejan nanti untuk kelancaran persalinan. Sungguh banyak kegunaannya..terutama bagi calon ibu yang akan deliver anak pertama seperti saya.. Oya, perbanyak duduk bersila di usia ini ya..agar gravitasi bumi bisa menempatkan posisi bagian terberat janin yaitu kepala janin menempati panggul ibu.

Continue Reading »

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Hidup yang kota

Sep 09 2015 Published by Dini Susanti under Uncategorized

Saya pernah memperkerjakan seorang asisten rumah tangga dari desa terpencil. Dia sering sekali memasak mie instant yang di stok di rumah. Alasannya karena di desanya warung/minimarket jauh, mie instant makanan yang sering dibeli jika sengaja belanja ke minimarket terdekat yang jaraknya berkilometer jauhnya dari desa dia. Alhasil dengan stok mie instant yang banyak dia senang sekali, saya hampir2 memarahinya bukan karena stok cepat habis namun karena saya khawatir dengan kesehatannya bila terlalu banyak makan mie. Kalau dia sakit majikannya juga yang repot. 

Selain kesukaannya terhadap mie instant, dia pun suka pakai ‘banget’ makanan2 yang dia sebut sebagai makanan kota. Padahal lazim ditemukan disetiap tempat seperti pizza, donat, lemper, kue lumpur, dan lain2 makanan olahan. Dia mengatakan bahwa di desa, dia dan keluarganya terbiasa memasak dengan hasil alam. Sayuran mereka petik dari kebun, seperti daun singkong, daun pepaya, daun lalapan, dan ikan mereka tangkap sendiri dari sungai. Saya ternganga takjub dan sempat memiliki niat untuk mengunjungi desanya. Namun saya urungkan setelah dia menceritakan betapa jauh desanya dapat dijangkau. Apabila pulang mudik dia naik mobil travel dan berhenti di kota. Kemudian naik angkutan umum menuju suatu tempat, kemudian naik ojek lalu menuju suatu tempat dia berjalan kaki menuju rumahnya. Dan perjalanan ke desa mencapai waktu lebih dari 8 jam. Berangkat pagi sampai sore/malam. Wah membayangkannya saja saya lelah.

Saya bayangkan, betapa sederhana sebenarnya kehidupan di desa terpencil. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Yang bisa dikatakan rumit dan penuh gempita. Juga betapa indah sebenarnya dengan eksotisme keaslian alamnya,  kesegaran udaranya dan kelezatan makanan organiknya. Namun jika bisa indah dan sederhana mengapa asisten saya itu mencari nafkah di kota?.. Alasan dia belum sempat saya tanyakan hanya tiga bulan bekerja dia meminta berhenti karena kekasihnya di desa meminta dia untuk menikah dengannya. Suatu kabar gembira yang harus disegerakan, saya hadiahi dia dengan kado pernikahan. 

Kehidupan memang semestinya sederhana. Manusia yang membuat rumit. Tidak di kota tidak di desa tidak dimanapun. Terpenting memang mesti tawakal, seperti burung yang terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ke sarang di sore hari dengan perut kenyang, asisten saya bertawakal dengan mencari rezeki jauh dari desanya. Dan keluarga kami bertawakal dengan menjalani kehidupan di perkotaan yang penuh gempita. Selain rumit juga banyak kenyamanan fasilitasnya. 

Kerumitan kadang sebenarnya hanya ada dalam pikiran saja.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

One response so far

Tulisan dan bahasa jiwa

Sep 08 2015 Published by Dini Susanti under Uncategorized

Masih selalu terngiang ucapan sekaligus nasihat dari ayah saya, ‘jaga nama baik, menjaganya sungguh sulit dan merusaknya sangat mudah’. Sehingga kemudian dalam langkah hidup saya berhati2 agar tetap menebar harum dalam berucap, dan bersikap. Termasuk yang paling terpenting juga dalam tulisan2 saya dalam blog ini, pun dalam media sosial lainnya. 

Jaman ayah masih muda atau masih aktif bekerja, teknologi belum berkembang sedemikian pesat, mungkin juga ga terbayang majunya dunia maya dan gempita media sosial. Nasihat ayah diatas tidak menjadi usang malah semakin penting. Dalam gempita media ini orang bisa membaca siapa diri kita hanya dari apa yang keluar dari barisan huruf yang terpapar depan mata. Hanya dari status yang keluar, hanya dari komentar kawan yang belum tentu benar. Dan jika usia dicukupkan olehNya hanya pada hari ini. Kesan terakhirlah yang akan dikenang pembaca…. 

Dunia maya cukuplah menjadi penghubung silaturahmi saja. Apa adanya diri kita biarlah terlihat dalam dunia nyata. Betapa hangatnya kita, kesantunan kita, dan komunikasi yang saling timbal balik yang bila salah bisa saling ralat dan memaafkan. Yang kadang jarang terjadi dalam komunikasi dunia maya, karena tulisan sulit berkata dalam bahasa jiwa. 

-note to my self-

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

3 responses so far

Berapa Harga Anak Kita?

Mar 11 2015 Published by Dini Susanti under Uncategorized

BERAPA HARGA ANAK KITA ?
Share dari Ummu Rum

Berapa harga anakmu?
Nilai anak tak bisa diukur dengan materi, benarkah….?

Kadang dia lebih rendah dari sebuah guci kristal.
Ketika guci itu pecah tanpa sengaja, maka rasa marah kemudian memecahkan perasaan anak, merendahkan nilai anak….
guci lebih berharga saat itu..!

Kadang dia lebih rendah nilainya dari sebuah mangkok atau piring..
Yang jika pecah, suara kemudian meninggi memecahkan hati sang anak..

Atau lebih rendah dari semangkok sayur yang tertumpah, karena tangan kecilnya berusaha membantu ibu di dapur.

Mata yang melotot terasa lebih pantas walaupun harus menumpahkan air mata sang anak…!

Atau lebih rendah dari sebuah mobil baru yang jika tergores, maka goresannya dianggap lebih berbahaya ketimbang goresan luka di hati sang anak…

Kadang anak jg lebih rendah nilainya dibanding facebook atau pertandingan bola.

Sehingga lebih banyak waktu dan keseriusan yang dihabiskan untuk facebook dan nonton bola ketimbang mendengarkan cerita anaknya di sekolah..

Kadang anak lebih rendah nilainya dari handphone..

“gak boleh nanti rusak…!”
kekhawatiran HP rusak lebih besar dibanding kekhawatiran rusaknya perasaan sang anak.

Berapa nilai anak bagi kita?

ialah sejauh keikhlasan kita menahan diri hingga tidak merusak hatinya….

ialah sejauh kemampuan kita menempatkan harga dirinya jauh diatas benda-benda mati yang kita miliki…

Benda itu tidak akan menolong kita di yaumil akhir. Sementara anak, adalah investasi kita dihadapan Allah.

Dia yg akan memperpanjang usia historis kita dengan doa dan amal sholih yang kita ajarkan dan dia melakukannya..

Allah… jika ada keburukan akhlak kami ketika membesarkannya…
hilangkanlah dari ingatan anak2 kami…
hilangkan jejak2 keburukan dari tangan, mata atau mulut kami.

Kami hanya penitipan, sesungguhnya Engkau akan mengambil titipanMu.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

2 responses so far

Bersabar dalam Ucapan

Sep 23 2014 Published by Dini Susanti under Uncategorized

Pale lu!
Otak ditaruh dimana??!
Guoblog!
Mikir!!
Ke laut lu!
Gila lu ya!
Sinting!
Mati lu!

Gimana bacanya? Biasa aja kan. Karena gak terarah pada kita. Semua bisa koq mengucapkannya. Kamu, saya, dia. Namun yang membedakan adalah apakah sanggup untuk melontarkannya pada orang lain? Bagi mereka yang sanggup, apakah terpuaskan isi hati dan gelora amarahnya? Bukankah api ditambah api makin membara? Bukankah panas hanya reda dengan sejuknya air? Itu hukum alam.

… Bukankah api ditambah api makin membara? … Itu hukum alam. …

Memang sulit kadang. Bahkan jika pada posisi terpojokkan. Atau mungkin di posisi yang di lontarkan oleh oranglain, keinginan membalasnya jauh lebih lagi.

Namun itulah yang membedakan. Kualitas ucapan dalam kemuliaan. Orang yang mulia akan juga memuliakan oranglain. Tak ada sedikit hatipun melukai oranglain dengan ucapan keji.

Bersabarlah. Air sejuk yang bisa diminum berasal dari sumber air dalam bongkah batu dalam tanah. Air comberan yang kotor berasal dari aliran buangan segala yang kotor. Jika ingin bermanfaat memang harus terjaga baik segala lisan sesulit menjaga mata air tetap jernih.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

2 responses so far

Pantaskah Aku untuk Cintamu?

Sep 21 2014 Published by Dini Susanti under Uncategorized

Bila datang keluh kesahku..
Datang pula kau menopangku..
Penuh bujuk dan rayu
Penuh kasih dan candamu

Kukeluhkan lelahku
Kau datang membawa bahu
Kukeluhkan panas mentari
Kau bawakan peneduh untukku
Kukeluhkan pegalku
Kau tawarkan menggendongku
Kukeluhkan kau terlalu cepat berjalan
Kau berhenti hingga aku jalan didepanmu
Kukeluhkan hadirmu
Kau genggam tanganku selalu

Kasih.. Pantaskah aku untuk cintamu?

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

One response so far

Ukuran Manusia

Sep 21 2014 Published by Dini Susanti under Uncategorized

Sosial media telah mengubah kita.
Kini ramai orang sibuk mengukur dan membanding.

Seberapa wangi harum yang ada,
seberapa bersih terlihat kasat mata,
seberapa pintar terdengar dan terbaca,
dan seberapa banyak mata suka.

Lihat hati, sudahkan ikhlas menerima, bahwa semua memang berbeda.

Hanya Dia Mengetahui hati manusia.

Tiada jatuh sehelai daun pun tanpa IzinNya.

Mungkin mengukur diri dapat memecut semangat, agar terbang lebih tinggi, agar melaju lebih cepat.

Namun ukuran tidak mesti jadi pembanding satu lebih baik dari lainnya, Karena memang semua tercipta beda.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet