Perlahan tapi Pasti

Nov 14 2014

Setiap orang berbeda. Karakternya, sifatnya, kesukaannya dan kebiasaannya. Saya pribadipun demikian. Dan ada masanya dalam hidup saya pernah tidak mengenal bahkan tidak mengerti diri sendiri. Apa maunya? apa maksudnya dengan begini begitu? apa sih yang jadi masalah sebenernya????

Ada suatu masa. Ketika berbagai cobaan datang menerpa. Edisi belum dewasa dan belum datang pemahaman. Ketika penelitian tingkat akhir kuliah dilanda masalah. Terhitung lebih dari 3x mengalami kegagalan penelitian. Lebih tepatnya berapa kali? Rahasia hehe. Yang pasti disaat itu adalah titik terendah dalam hidup. Merasa malu, merasa tidak berharga, dan rasa lainnya yang mendominasi sisi terendah saya sebagai manusia atau wanita beranjak dewasa. Juga disaat bertekad menjauh dari seseorang yang pernah dekat dengan saya untuk fokus pada penelitian.

Lalu pemahaman datang. Dan hidup mulai membaik. Ketika memahami bahwa masalah sebenarnya ada pada pikiran sendiri dan jiwa yang tidak tenang. Melalui celetukan seorang dosen saya jadikan pacuan semangat. Dia adalah almarhumah ibu Sri yang mendekati saya ketika berjalan tertunduk merasa lelah setelah dalam perjalanan cipanas – dramaga bogor. Beliau bilang bahwa “sayang sekali wajah cantik dan masa muda diselimuti masalah sedemikian rupa. Jika memang belum selesai dan ada masalah yang masih juga mengganjal, mungkin masih belum waktunya saja. Berarti ada urusan yang belum tuntas. Tuntaskan dan lewati. Semua akan berlalu begitu cepat.” Wow… kata2 itu saya tidak balas, hanya senyuman dan ucapan terimakasih dari saya sambil berlalu. Masih ada rasa malu pada beliau namun timbul semangat dari dalam diri untuk menuntaskan apapun itu urusan yang belum selesai.

Ternyata saya pahami kemudian. Urusan yang belum selesai adalah kedewasaan saya. Kedewasaan dalam menghadapi masalah hidup. Justru dengan memberikan ruang dalam hidup untuk menerima masalah yang datang, bersedia dan ikhlas menjalani dan menuntaskan satu persatu masalah, melihat suatu sudut pandang dari sisi lain, menyelaraskan alam dengan kondisi yang positif selalu.. adalah beberapa hal yang membuat segalanya berjalan dengan lancar. Tidak terasa satu persatu langkah membawa kepada keberhasilan, tidak terasa skripsi bisa disusun dengan baik dan tidak terasa sidang skripsi bisa dilewati dengan mudah. Dan hasil yang memuaskan pula. Saya berhasil membawa pikiran dan jiwa untuk menjadi lebih tenang. Bahwa masalah memang besar tapi Allah Maha Besar bersama orang-orang sabar yang berusaha dan berdoa.

Saya lulus dari IPB tahun 2003 dengan hasil memuaskan. Ada perasaan berbeda pada saat wisuda ketika itu, saya diwisuda bersama dengan adik kelas dan beberapa kawan seangkatan dalam hitungan jari :D . Rasa bahagia membuncah bukan karena mengantongi ijazah namun terasa mendapatkan pengalaman yang sungguh luar biasa dari banyaknya kegagalan penelitian akhir kuliah. Kala penelitian itu teman curhat saya adalah pulpen dan kertas. Tidak adil bila ada kawan yang menjadi tempat sampah masalah yang ada. Meski mereka mungkin dengan senang hati akan menampungnya. Terasa sekali bahwa dengan menulis apapun yang ada dalam pikiran dan hati, bagai mengurai benang kusut agar kembali terjalin baik. Mungkin tulisan2 saya kala itu jika dikumpulkan bisa lebih tebal dari skripsi saya sendiri. Namun saya pernah membakar semuanya di halaman rumah, dengan harapan bisa membuka lembaran baru, selain karena saat itu Ibu saya sedang bersih2 rumah dan meminta saya bakar semua kertas yang memenuhi gudang hehe.

Hingga saat ini, jika mengalami kendala dalam menjalani kehidupan. Saya mengingat peristiwa keterpurukan saya di tahun akhir masa kuliah. Kemudian mengingat kembali bahwa selesaikan urusan yang belum selesai satu persatu dengan membaginya dalam beberapa prioritas, fokus, konsisten. Tidak akan terasa waktu akan berjalan begitu cepat dan kita akan menengok kebelakang dengan tersenyum. Hey lihat, saya sudah sampai disini. Berjalan terus ke depan. Perlahan tapi pasti.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Nikmatnya Laksa Malaysia

Nov 09 2014

image

Setiap kali ke Malaysia, seperti sore ini baru saja mendarat di KL, saya selalu menyempatkan mencicipi dua macam makanan yang menurut saya nikmat banget. Pertama adalah minuman coklat enrich chocolate dan kedua adalah laksa Malaysia. Keduanya dapat ditemui di old town white coffee cafe. Kebetulan lokasi oldtown di bandara KLIA2 persis disebelah depan pintu luar setelah melewati imigrasi terakhir Malaysia. Jadi mencapainya sangat mudah dan tempat itu yang pertama saya tuju untuk makan di bandara.

Di Indonesia cabang oldtown sudah tersebar di berbagai kota besar. Salah satunya di living world alam sutera, juga di bandara soekarno hatta. Namun entah kenapa, racikan di Indonesia berbeda dengan rasa asli ketika beli di negara asalnya. Buat saya sih beli langsung di Malaysianya adalah juara, nikmaat banget goyang lidah.

Minuman coklat jelas juara buat saya. Setiap makanan atau minuman dari coklat saya selalu suka. Namun laksa Malaysia.. beda. Gak gitu craving ingin makan laksa melulu dan bela2in mencarinya diberbagai cabang di Indo, enggak gitu juga. Hanya saja rasa unik laksa malaysia perpaduannya pas banget di lidah. Bahan2 yang menjadikannya dia enak itu antara lain cuma irisan bawang merah mentah, potongan serai, serpihan tongkol, dan sepertinya ada air lemon yang membuat dia asem seger banget kuahnya. Mungkin ada rempah rahasia lainnya yang saya gak tahu. Tapi sepertinya bahan2nya sih mudah didapat di Indo mestinya sih mudah juga bikinnya. Tapi saya gak bisa membuatnya di rumah. Pernah coba membuat laksa malaysia memakai bumbu instan yang dibeli di Hero, tapi rasanya jauh, kurang enak, mendekati saja enggak.

Kuahnya didominasi oleh gurihnya tongkol, dan rasa menyengat bawang merah mentah, dipadu oleh rasa asem seger. Cuma itu dominasi rasanya.

Sehabis makan, dengan menghabiskan sampai ludes kuah dan rempah2 didalamnya, biasanya mulut jadi bau bawang hehe. Dan bisa jadi bikin badan juga ikut bau? Oh jadi selama ini… :) ….

Aahh.. Malaysia, terus terang tanpa laksanya gak ada makanan berkenang luar biasa buatku. Nyam nyam.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Susah Move On

Nov 09 2014

Dulu dengan yang pertama, setelah gak lagi ada, saya berkali kali ke rumahnya. Meski dia selalu gak ada di rumah, seterusnya keesokan hari saya datangi. Hingga akhirnya bertemu dan mendengar sekali lagi ketidaksediaannya ke bersama saya lagi.

Kemudian dengan yang kedua, saya mengirin sms berkali2 meminta dia kembali. Meski gak pernah ada reply. Dan bahkan sampai saya sebut namanya berkali2 berharap kupingnya panas lalu teringat saya kembali.

Lalu dengan yang ketiga dan seterusnya, jika keputusan sudah dikeluarkan dari mereka ataupun dari saya sendiri, biasanya saya sesali kemudian meminta mereka kembali. Sampai seringkali saya sms ‘saya butuh kamu’ namun kebanyakan mereka jual mahal dan gak perduli.

Terakhir kemarin, pun saya ditinggal pergi begitu saja. Hanya melalui sms dikabarkan bahwa dia gak akan kembali. Berkali2 saya sms, dan menanyakan kemungkinan dia kembali karena sampai kini belum dapat penganti.

Itulah, susah move on jika sudah percaya seseorang. Karena untuk percaya dia dan membawanya masuk dalam kehidupan saya saja sudahh cukup lama. Jika sampai kemudian pergi setelah merasa nyaman… sakitnya tuh disini…

Anyway, harus tetap kuat. Dan berusaha terus mencari yang lain. Jika gak cocok gak masalah, itulah dinamika kehidupan. Gak bisa dipaksakan. Semoga dia yang pergi mendapatkan kehidupan jauh lebih baik dibanding ketika bersama dengan saya.
Namun bolehlah satu sms saya kirim lagi pagi ini:

“Mbak, udah dapat pekerjaan lain belum? Saya belum dapat mbak baru. Kalau mau kembali kabari ya. Makasih…”

Menunggu, dan menunggu, lalu tetap menunggu reply. Belum ada. Ya sudah lah. Lain kali dicoba lagi #eh hehehe…

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Sehari Bersama Ayah

Nov 05 2014

image

Pagi tadi ayah meminta saya menemani beliau ke Depag kab. Bogor di Cibinong. Saya menyanggupi karena memang urusan di Bogor sudah hampir selesai, agenda saya selanjutnya ada di pukul 11 siang. Melirik waktu masih sangat pagi segera saya siapkan keperluan anak2 untuk saya tinggal pergi sebentar lalu memarkirkan mobil untuk persiapan berangkat.

Pagi itu Bogor sangat bersahabat. Udara sejuknya sehabis hujan kemarin, dan lalu lintas yang lancar sama sekali tidak macet, benar2 memunculkan sosok kota sebenar yang sangat saya cintai. Dulu Bogor seperti ini, ketika saya masih SD. Angkot Bogor saat itu berwarna kuning bukan biru dan jumlahnya sangat sedikit. Gak ada istilah macet dan udaranya juga sejuk sepanjang hari, selain karena masih banyak area hijau juga dulu hampir setiap hari hujan. Bogor kota hujan. Memang demikian dulu itu.

Sepanjang perjalanan dari Ciomas menuju Cibinong, sama sekali tidak ada hambatan. Ayah adalah orang yang senang bercerita. Sehingga waktu perjalanan terasa sangat singkat. Diusianya yang mendekati 70 tahun, ingatan beliau akan masa lalunya sangat luar biasa. Pagi itu beliau bercerita tentang history air mancur Bogor. Pada masa pemerintahan Soekarno ditengah persimpangan air mancur Bogor adalah berupa tugu pancang mirip tugu kujang. Tugu tersebut merupakan warisan penjajah belanda dibangun konon untuk memantau Istana Bogor, didirikan satu arah tegak lurus dengan istana. Namun kemudian dihancurkan dimasa pemerintahan Soeharto dan diubah menjadi air mancur. Hingga kini kita mengenalnya sebagai air mancur Bogor meski sudah gak ada lagi air mancurnya.

Lalu jangan tanya ayah tentang masa kelam bangsa kita akan peristiwa PKI. Ayah akan bercerita tentang banyaknya korban masyarakat gak bersalah saat itu. Ketika hanya karena ketidak tahuan masyarakat awam tentang kepentingan politis suatu komunitas, banyak diantara mereka yang dicap dan dihukum penjara hanya karena menandatangani suatu formulir. Mereka diiming imingi oleh berbagai maksud terselubung. Ada menandatanganinya karena dijanjikan sebidang tanah, ada juga karena dikatakan singkatan PKI adalah Partai Kyai Indonesia. Dan dengan tidak ada sedikitpun rasa kasihan, semua dinyatakan bersalah dan kena coret hitam partai komunis tak pandang bulu. Mungkin sedikit yang ayah saya ceritakan namun saya berasa cukup dengan cerita beliau karena hati saya bergemuruh emosi, kasihan dan sedih.

Sepanjang perjalanan tadi pagi saya merasa sangat bersyukur, ayah saya masih sehat dan bisa memberikan banyak nasehat yang baik2. Beliau lelaki pertama yang saya sangat cintai. Bahkan pernah saya mengalami father kompleks, menyukai lelaki yang mirip dengan beliau, hitam manis, pintar, tidak terlalu tinggi, humoris hehe.

Semoga Allah SWT memberikan umur yang berkah dan meridhoi beliau selalu dalam kasih sayangNya. Aamiin Allahuma Aamiin.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Bogor dan Bangkitnya Semangat

Nov 05 2014

image

Rumah orangtua saya persis di belakang mushola. Dibangun sejak 17 tahun lalu ketika saya SMU. Setiap lima waktu dalam sehari adzan yang berkumandang disana menjadi pengingat sholat kami sekeluarga, ayah saya rajin berjamaah dan sering juga ber adzan jika datang lebih awal dari sesepuh yang lain. Suara adzan disana menemani masa remaja, saya rasakan kedamaian dan rasa nyaman mengingat bahwa Allah selalu memanggil untuk bisa menghadapNya langsung dan berkomunikasi denganNya. Meringankan berbagai beban masa remaja yang aduhai kadang pelik dan rumit hehe atau dibuat rumit sendiri sih sebenarnya.

Khusus setiap shubuh, adzan yang berkumandang bisa jadi alarm untuk bangun. Sangat bersyukur rasanya kamar tidur saya yang persis sebelahnya, gak perlu lagi punya jam weker untuk bangunkan shubuh atau waktu lainnya. Sehingga alhamdulillah dulu sih kalau sedang di rumah jadi rajin sholat awal waktu.

Setelah menikah, seringkali berpindah rumah. Dua tahun di rumah mertua, setahun di bukit asri, tiga tahun di Malaysia, setahun di Jakarta dan hingga kini menetap di Bintaro. Dan dari rumah2 yang saya tempati tersebut gak ada satupun lokasinya dekat mushola ataupun mesjid, apalagi persis bersebelahan dekat saja tidak. Maka sempat merasakan ada yang hilang….

Hingga setelah sering berkunjung ke rumah orangtua. Lalu menginap beberapa malam. Baru tersadar. Inilah yang hilang itu. Suara adzan disebelah kamar tidur.

Seperti malam ini. Terbangun pukul 3.00 lalu tahajud bermunajat padaNya. Menyampaikan keluh kesah, mendoakan anak2 dan keluarga. Lalu disambut oleh suara dzikir dan adzan shubuh dari mushola sebelah…. masyaAllah nikmatnya…… membangkitkan semangat kembali…. dalam menghadapi hidup yang seringkali melelahkan dan melalaikan…

Jika Allah berkenan. Ingin sekali kelak memiliki rumah persis seperti rumah orangtua ini. Namun bila tidak, maka membangun mushola dalam rumah dengan adzan yang berkumandang dari para anak lelaki saya pun insyaAllah bisa. Tidak ingin lagi lalai dari mengingatNya. Tidak ingin menjauh dari kedamaian dan rasa nyaman dihati yang hakiki. Selama ini Allah sudah sangat menyayangi…. namun lalai hati seringkali menutupi…..

astaghfirullah.
alhamdulillah.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

I Love You Now.. Gak Tau Nanti

Oct 31 2014

Sebelum menikah, suami saya bukan orang yang romantis. Mungkin definisi romantis sendiri beliau kurang tau. Setiap tindakan dan ucapannya selalu penuh dengan logika yang kadang saya pikir mungkin untuk mengeluarkan kata i love you saja mesti hitung dahulu kosong dan isi nya seperti pada program komputer ada 0000 ada 1111.

Yeah.. dan salah satu pertimbangan saya menerimanya menjadi suami adalah ketidak romantisannya itu. Biasanya sih orang yang tidak romantis adalah lelaki yang setia, karena ucap sayang dan cintanya mahal tidak mudah diobral. Dan terlebih ada yang menguatkan adalah ucapan dari pengasuhnya sejak kecil, Mak Enab. Ketika saya pernah mengujungi Mak Enab, dia mengatakan bahwa calon suami adalah orang yang baik, rapi, bersih, tidak suka menyakiti hati Mak Enab apalagi orang lain. Nilai yang sangat plus bagi lelaki.

Suatu ketika pada masa pedekatan, dia pernah menanyakan seperti ini. ” Apa menurut pendapat Dini tentang cinta? bahwa cinta adalah untuk saat ini, i love you now, belum tentu nanti masih cinta karena tidak ada yang pasti dan abadi.” Lalu jawab saya adalah ” Setuju. Tidak ada yang pasti. Yang pasti hanya ‘kematian’ dan kita pun tidak tahu kapan waktunya mati.” Kemudian dia mengatakan bahwa tidak semua wanita mengatakan jawaban seperti saya, sebagian besar demanding bahwa cinta haruslah abadi terpatri di hati. Dan saling memiliki selamanya. Alias ada wanita yang marah-marah ketika dikatakan definisi cinta, i love you right now.

Namun kemudian setelah menikah saya berpendapat lain bahwa memang ada rasa cinta dan sayang. Keduanya berbeda. Rasa cinta tercipta abadi, memang terpatri dalam dada begitu kuat hingga tidak sudi untuk beranjak pergi. Sedangkan rasa sayang memang naik turun bagai kereta rel coaster dufan.

Ada rasa sayang yang membuncah dalam dada pada suatu saat lalu mendadak hilang lenyap tidak berbekas pada lain waktu. Dan hal tersebut adalah hal yang lumrah terjadi pada manusia. Karena memang hati dipegang oleh kuasa Allah. Dan Hanya Allah yang berkuasa membolak balikkan hati manusia. Namun jika telah terikat ikatan pernikahan, rasa sayang itu harus terus dipelihara, dipupuk dan dijaga lestarinya. Jatuh cinta berkali kali dalam pernikahan diperbolehkan, maka jika masih ingin bertahan dalam komitmen, jatuh cintalah kesekian kalinya pada pasangan sah yang ada sekarang.

Wallahu ‘Alam.

Pencari Cinta

untukmu para pencari cinta
mari kesini kubisiki hakikatnya

cinta dicipta untuk ada
pasti terasa pada setiap jiwa

cinta dicipta untuk berlabuh
maka tautkan pada yang teguh
yang pasti tak akan pernah buatmu jatuh

cinta dicipta untuk setia
maka ikatlah pada yang istimewa
yang pasti tak akan buatmu kecewa

cinta dicipta untuk tak pernah mati
maka ikatlah pada yang abadi
dengannya akan jadi hakiki

tautkan cinta pada buhul yang kuat
cinta kan membuatmu selamat
cinta kan buatmu bahagia dunia akhirat.

Cinta pada ALLAHU RABBI..

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Hidup Manusia

Oct 09 2014

Apakah hidup manusia umumnya seperti ini?

image

Lebih indah jika bisa menjadikannya lebih bermakna, lebih berwarna…..

Gimana? Seperti apa?

Tanya pada diri sendiri, kadangkala kita sudah tau jawabnya……

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Menulis yang Menghipnotis

Sep 28 2014

Satu hal yang biasanya saya lakukan hampir setiap malam sebelum tidur adalah nulis. Terutama jika mata susah terpejam dan pikiran masih jumpalitan. Tulisan bisa bersumber dari kejadian hari itu yang sudah lewat, tentang perasaan, tentang orang lain, tentang apapun, hal berat maupun cuma remeh temeh.

Bagi saya, menulis selain bisa mencurahkan hati dan pikiran, juga bisa jadi cara menghipnotis diri.

Gak mesti tulisan panjang lebar menjelaskan sesuatu. Gak. Gak mesti. Walau cuma dengan satu atau beberapa kata pun bisa.

… wahai mata, merem dong. Pleasee.. ….

Dan siapapun bisa. Misalnya cuma dengan tulis begini: wahai mata, merem dong. Pleasee.. Dan agar berhasil cobalah tulis ribuan kata berulang kali lalu baca, dijamin jadi lelah dan tidur hehe.. (kidding bu..)

Tapi memang berguna buat saya pribadi. Kesuntukan pikiran bisa terurai bagai mengurai benang kusut. Dan kegalauan hati bisa jauh berkurangnya.

Selalu jadi juara bagi saya untuk mengaktifkan pikiran agar lebih bisa koprol, tapi sebaliknya juga bisa memaksanya untuk beristirahat. Itu dia tadi, bisa menghipnotis diri.

Mungkin dengan mencurahkan hati dan pikiran dengan untaian kata bisa membuat hati lebih damai dan nyaman. Istilah yang lagi happening sekarang itu lagi ‘nyalem’ alias menyalurkan emosi. Penyaluran yang positif yang gak merugikan diri sendiri atau orang lain.

Sehingga ada yang di publish dan beberapa dijadikan private, tergantung kelayakan dan beri manfaat untuk oranglain atau gak. Penting, karena jika publish sesuatu sebaiknya jangan malah menuai keburukan, semampu mungkin menuai manfaat.

Dan…

Kali ini.. 12:29 PM Kenapa belum tidur juga sih?

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

One response so far

Older posts »