Dingin Hati

Jul 20 2014

Berharap pada manusia kerap kali menuai kecewa. Apa yang diucap waktu dahulu dapat mudah terlupa. Bahkan kawan keseharian bisa mewujud saling asing. Hingga kata2 bisa dengan mudah menyakiti.

Mundur selangkah hingga ribuan kebelakang lagi, jika haluan berubah arah. Bahkan suami istripun dapat menjadi asing hanya dengan berkata “kau bagai punggung ibuku”. Apatah pula sekedar kawan yang mungkin tidak sehati bila ada kata yang menyakiti, “memangnya siapa  kamu?”

Kelancangan pada satu perkara, bisa menyulut emosi hingga tak kenal siapa lagi. Padahal dia tahu empati  mengalir sejak dulu kala, mengapa kini terasa menguap dari hati. Pun tiada lagi diharap datang menghampiri. Sedemikian hati bisa berbalik. Benci? Mungkin tidak, namun dingin mungkin terasa.

Hingga kapan hati membeku? Mungkin hingga hangat kembali mengaliri. Atau juga mungkin akan hakiki dalam kebekuan abadi.

Harus kutanya pada diri. Tak perlu menghakimi.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Mungkin Aku Sampai Esok Lusa, Rey.. (Cerpen)

Jul 19 2014

image

Hah!
Deena terbangun kaget setelah mimpi yang menyeramkan. Dibuka matanya dan bersyukur tengah berada di bandara. Segera ia teringat Rey yang akan menjemputmya disana. Rasa nyaman dihati menyergap jika teringat tunangannya itu, lelaki yang telah menawan hatinya bertahun-tahun dalam setianya. Kekasih yang tiada ragu akan menjadi imam hidupnya.

Bolak balik dibacanya sebuah majalah usang resep masakan. Edisi Holand dengan bahasa yang pasti Rey akan berkerut muka. Geli bila Deena mengingat dia, yang mencintainya apa adanya. Rey pernah katakan jatuh cinta pada aroma masakan Deena, seorang chef di Belanda, dan dia penikmat setia setiap sajiannya. Mereka hendak menikah beberapa bulan lagi, visa kerja tunangannya itu hendak diperpanjang, itulah mengapa Rey ke Malaysia beberapa hari sebelum Deena datang menjemputnya untuk kembali.

Deena melirik jam dinding di bandara KLIA itu. Detaknya pasti namun terasa sangat mengganggu, entah karena ketidaksabarannya atau memang karena suaranya yang menyebalkan. Detak itu bagai kayu kecil yang menggetok kepala berulang-ulang, tik tok tik tok tik tok sangat mengganggu!

Berdiri Deena bangun dari sofa empuk yang beberapa jam terakhir ini menjadi dirasa kurang nyaman. Seluruh adrenalin tubuh dan kesukacitaan menguap karena penantian yang dirasa dialami lebih dari tiga jam. Deena gelisah menunggu bagai tanpa akhir. Tiga jam cukup untuk membuat adonan roti mengembang sempurna Rey! Ia teriak dilanda lapar. Dan entah kenapa bandara ini sangat sepi. Deena baru saja landing, menginjakkan kaki di Malaysia. Perjalanan yang bukan sebentar. Rasa lelah belum lagi hilang harus pula dikecewakan rasa gelisah.

Arrgh!
Deena membanting majalah dalam genggamannya, berinisiatif untuk keluar bandara dan sewa taksi ke hotel terdekat. “Mengapa pula sedari tadi hanya menemukan satu atau dua orang saja melintasiku.” Lirih Deena penuh tanda tanya. Memang sepikah bandara Malaysia??

Deena menarik koper merahnya dengan amarah. Rey! Jika sampai kudapati dirimu nanti akan kucubit sampai kau minta ampun. Aku kesal! Ditegaskan kembali langkahnya untuk pergi dari sana, tak perduli bila Rey datang ataupun tidak.

Baru beberapa langkah.
Darahnya mendesir. Televisi di ruang tunggu bandara menyala otomatis. Telinganya menangkap sebuah berita.

Diangkat kepala kearah suara, ditangkapnya berita disana dengan kedua mata yang terbelalak sulit percaya. Di layar itu ditayangkan kehancuran pesawat MH17 akibat rudal teroris di perbatasan Uraine. Pesawat tersebut adalah.. pesawat yang ditumpanginya.. beberapa jam yang lalu… ” lalu .. mengapa aku disini????” Mendadak semakin kalut dan takut Deena dalam sendirinya.

“Reeeyyyy!” Teriaknya sekuatnya menghalau gelisah. Namun hanya berbalas gaung. Dialihkan pandangan ke seluruh pejuru, semua berubah menjadi putih, pandangannya pun kabur
Putih..
Lalu gelap….

Sayup terdengar suaranya pernah berjanji “Mungkin aku sampai esok lusa, Rey..”

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

** Duka Cita yang dalam untuk seluruh korban pesawat MH17 yang meledak oleh serangan rudal 17 Juli 2014, semoga segera diusut dan dituntaskan secara hukum yang berlaku **

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Dengarkan tilawah merdu Mohammed Taha Al-Junaid, love it! MashaAllah..

Jul 16 2014

QS AR RAHMAN

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Hakekat Cinta

Jul 15 2014

untukmu para pencari cinta
mari kesini kubisiki hakikatnya

cinta dicipta untuk ada
pasti terasa pada setiap jiwa

cinta dicipta untuk berlabuh
maka tautkan pada yang teguh
yang pasti tak akan pernah buatmu jatuh

cinta dicipta untuk setia
maka ikatlah pada yang istimewa
yang pasti tak akan buatmu kecewa

cinta dicipta untuk tak pernah mati
maka ikatlah pada yang abadi
dengannya akan jadi hakiki

tautkan cinta pada buhul yang kuat
cinta kan membuatmu selamat
cinta kan buatmu bahagia dunia akhirat.

Cinta pada ALLAHU RABBI..

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Ku Benci Diammu (cerpen)

Jul 14 2014

Kang aku pernah bilang, semakin dibuat cemburu semakin mati rasaku. Namun ku tak mampu ungkap semua, pun sejak pertama cemburu itu dirasaku. Padamu kangmas kecintaanku.

Kang, aku pernah bilang, aku wanita yang kuat, mampu kuhadang gelombang, mampu kuterjang rintangan, namun lemahku atas hatiku, lemahku atasmu.

Kang, aku pernah bilang, melihatmu bahagia buatku senang, hingga diammu menyiksaku. Namun ku pun hanya bisa terdiam, tak mampu pecahkan bisu.

Kang, jika saja kutau maksudmu, jika saja mampu kubalik waktu, kan kurengkuh hatimu tanpa ragu. Dan Kututup setiap ragu.

….

Sebuah note utk Rene, Rene itu kamu, kamu itu istriku.

Terimakasih Rene, telah melengkapi aku menjadi lelaki sejati, melengkapi setengah agamaku. Note ini kutulis pada esok pagi setelah pernikahan kita, dalam bahagiaku sambil menunggumu bangun dari lelapmu setelah kita memadu kasih malam tadi.

Maafkan  Rene, atas ketidakjujuranku menyembunyikan sakitku. Aku kanker otak Rene.. Namun tetap optimis dalam menjelang bahagiaku, rahasia Tuhan kita tak pernah tau, kuhanya berharap manpu menemanimu hingga akhir waktu.

Beberapa rahasia kecilku, janjiku yang belum tuntas, dan hutangku akan mulai ku tuntaskan satu persatu. Semoga aku masih sempat menceritakannya padamu nanti  bila tidak, tulisanku ini semoga bisa bercerita.

Liontin merah yang selau ada dalam laci lemariku, itu bukan kepunyaanku, hendak kuberikan pada seorang wanita yg pernah singgah sebelum mengenalmu. Semoga aku bisa menemukan dia dlm perjalanan hidup kita bersama.

Dan selanjutnya Rene, aku hendak menemui seorang wanita tua nan anggun yang sekarang tinggal di panti jompo, dia adalah ibu dari sahabatku yang sudah meninggal, dia titipkan beliau padaku namun karena kesibukan kerja, aku sangat jarang menemuinya, aku janji akan lebih sering menemuinya. Mungkin setiap sabtu, walau hanya datang mengecup keningnya.

Dan Rene satu lagi, maafkan bila aku terlalu, tegur bila banyak menggerutu, karena kini aku suamimu.

…..

Kulipat kertas biru, bulir airmata mengoyak rasaku. Dua tahun sejak kematianmu, baru kutau semua maksudmu. Tulisan ini tak akan pernah keluar dari lisanmu.

Liontin merah, kecupan kening pada seorang wanita tua.. Semua sempat mengisi sebagian besar waktuku dalam cemburu.

Dan kini aku rindukan semua, kurindu cemburuku. Aku benci diammu. Aku benci ditinggal dalam rindu.

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

MATI

Jul 11 2014

image

Perjalanan hidup hanya sementara
Diujung perjalanan semua sama.. MATI

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

2 responses so far

Maafkan Kami Palestina :(

Jul 09 2014

Hujan rintik malam ini seakan menangkap sedih muslim seluruh negeri. Meski jauh dan hanya melalui lintas berita, Palestina dan Gaza ada dalam hati kami.

Tidak perlu menjadi muslim untuk perduli, cukup menjadi manusia yang berhati. Jika dirasa tidak ada hati dengan semua berita ini, maka kita hanya raga tanpa isi.

Sungguh mengerikan bila aman terenggut, damai terusik, dimana berdiri tak lagi tegak, dimana usik selalu datang setiap detik. Dan bukan sembarang usik, ribuan bom dan peluru datang mengusik, menjadi santapan harian, bau mesiu dan simbah darah sudah biasa.

Dan mereka di Palestina enggan pergi, dari negara tercinta dari tanah warisan Rasul kita. Mereka menjaga, mereka siap sedia, apapun resikonya. Jika bukan mereka siapa lagi itu jawabnya.

Hanya doa dan hati dari kami, manusia lain di belahan bumi tetangga jauh namun dekat dihati.

Bulir airmata kadang menetes tak mampu bicara. Ampunkan kami yaa Rabbi..

Kau disana, tak ragu lagi akan lindungan Allah, selalu yakin akan pertolonganNya, namun kami disini mengkhawatirkan murkaNya karena segala keterbatasan kami  untukmu disana. Sungguh maafkan kami :(

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Bidadari yang Tertawan di Dunia (cerpen)

Jul 04 2014

image

Malam itu sahur kami sangat luar biasa. Sayur capcay dan ayam goreng. Senang sekali akhirnya setelah sayur labu dan tempe goreng hampir setiap hari tersaji. Kulihat wajah mama hari itu pun berseri seri. Kubahkan lupa bertanya mengapa hari ini begitu beda, terlalu nikmat mulutku mengunyah makanan mewah itu. Dan terlalu kenyang hingga habis sahur langsung tertidur pulas.

Keesokan pagi tidak kulihat mama lagi seperti hari kemarin. Namun rumah sudah rapi bersih dan wangi. Seperti biasa mama tidak tidur lagi setelah sahur, kadang pula kudengar mama mengaji. Dan hari ini karena libur kuliah, aku hanya akan habiskan waktu di rumah saja, membaca habis novel yang baru kupinjam dari kawan kuliah.

Kudengar pintu depan rumah dibuka, mama pulang dengan wajah ceria lagi. Segera aku beranjak mendekatinya. Mama masuk ke kamar tidurnya, “tunggu sebentar mama mandi dulu..” Ujar mama sambil menutup pintu menahan langkahku yang hendak mengikutinya ingin ajak bicara. Aku berbalik kembali ke sofa nyaman didepan tv, namun malas hendak melanjutkan novel misteri yang belum tuntas kubaca. Kulirik jam menunjukkan pukul 5 sore sebentar lagi waktu berbuka puasa.

Mama keluar kamar masih dengan senyumnya. Wajah cantik masih terlihat dalam garis wajahnya. Namun tidak pernah lagi terkena poles kosmetika, mama nyatakan inginnya untuk tetap sendiri dan cantik hanya untuk papa, yang telah meninggal dunia sejak sepuluh tahun lalu ketika aku dibangku sekolah menengah pertama. Bagiku mama bidadari yang tertawan di dunia.

Mama membuka bungkusan plastik yang belum sempat aku sentuh. Sepulang tadi pun mama letakkan begitu saja di meja makan. Dan aku khawatir itu barang titipan lalu mama marahi aku lagi seperti hari lalu ketika membuka bungkusan sembarangan. Kali ini tak akan kusentuh barang2 mama kecuali mama minta aku membantunya.

Ini makan untuk kita berbuka ujar mama seraya menyiapkannya. Kolak pisang, kurma, es buah dan beberapa bungkusan lagi yang mama bawa ke kulkas dan disimpan disana. Apa itu mah? Tanyaku, ” makan malam dan sahur” ayo solat maghrib dulu, jadi imam. Jangan lupa siap2 ke mesjid tarawih berjamaah. “Iya” jawabku singkat. Kadang jika ada momen dimana aku merasa mama memerlukan seorang kawan untuk bercakap2, aku sangat ingin segera mencarikan menantu cantik dan baik untuknya. Tunggu saatnya, Akan kuselesaikan kuliahku, lalu dapatkan pekerjaan yang layak dan boyong menantu untukmu.

Dan seperti kemarin, sahur hari ini kembali makanan mewah. Rendang, dan sayur singkong, dibeli dari rumah makan padang sepertinya. Aku perhatikan wajah cantikmu masih berseri. Urung kutanyakan apapun itu dalam hatiku. Kau wanita anggun dan mulia yang pernah ada, semua tersaji di meja makan pun pasti karena kemuliaanmu, tak akan kau buat dirimu terhina. Dan aku percaya.

Sejak papa meninggal dunia, mama membesarkan aku sendiri. Dan aku bukan anak manja. Sebagai anak tunggal dan seorang lelaki, aku pun berkerja ringan membantu mama dan membayar sekolahku. Hingga sekarang aku kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sebagian besar uang kusisihkan untuk biaya kuliah, uang untuk mama hanya cukup untuk makan kami secara sederhana. Kau tak pernah mengeluh, kau iringi setiap langkahku dengan doa.

Pagi itu seperti biasa terbangun tidak kudapati sosok mama. Kusesalkan diri atas belum tuntas tanyaku, perlu jawaban segera hendak kutanya sajian mewah sahur dua hari belakngan ini. Ku ambil HP dari saku celana dan menekan nomer mama. Tidak ada jawaban. Aku sms : “Mama sedang dimana?” Tak berapa lama sms balasan datang “Jemput berkah ramadhan” jawabmu singkat. Segera kutelepon mama kembali, namun tidak dijawab lagi. “Maksudnya apa mah? ” tanyaku via sms lagi. Kali ini mama tidak membalasnya. Dan aku khawatir mengganggunya. Kali ini akan kutanya bila mama tiba di rumah.

Waktu menunjukkan pukul 5, tidak ada tanda mama pulang kerumah. Kunyalakan televisi menanti waktu berbuka. Lintasan berita di tv sore itu bagai palu godam dihujam didadaku. Tidak ada gempa bumi sore itu namun tubuhku limbung ke kanan kekiri saat mencoba mencapai pintu rumah, sesaat kubuka, beberapa tetangga sudah hadir disana, tetangga persis samping rumahku, seorang ibu tua segera menubruk tubuhku yang limbung kemudian dia menangis sekerasnya. Aku seorang lelaki pantang untuk menangis tak sadar diri. Meski hati remuk redam. Meski jiwa luluh lantak. Aku terdiam dan kesulitan untuk berkata berpandangan dengan seorang bapak tua tetanggaku yang kemudian merangkul tubuhku dan membawaku masuk kedalam mobil angkutan umum miliknya, beberapa oranglain ikut serta dengan kami. Menuju rumah sakit PMI jakarta pusat. Tempat dimana tubuh mamaku dibawa akibat kecelakaan beruntun dipersimpangan lampu merah Kelapa Gading persis pukul 5 sore tadi.

Disana, terbujur kaku jasad seorang wanita yang pernah melahirkanku. Beliau tidak bisa menungguku tuntaskan janjiku membawakan seorang menantu, menungguku berikan hidup yang layak seperti dulu ketika bapak masih ada, menungguku membahagiakannya. Beliau sudah beristirahat dari kelelahan hidup, tidak ada lagi masalah yang akan datang membuat bulir airmata jatuh ke pipinya, tidak ada lagi rasa rindu ingin bertemu bapak,  mama  akan bersama dengannya.

Disini terbaring seorang wanita yang sangat mulia demikian kupatri dengan indah diatas batu nisan mama. Kemarin saat pemakaman mama, ada seorang wanita datang mendekat, usia setengah baya, berpenampilan seadanya, bahkan sedikit compang camping bajunya. Mendekatiku dan berbisik sesuatu yang sempat merontokkan harga diriku. Harga diri seorang lelaki, yang dipercaya bapak memelihara mama, seakan tak percaya dia memberi kabar bahwa mama selama dua hari ini ikut wanita itu menjemput berkah ramadhan, di persimpangan jalan yang ramai di ibukota. Sebagai peminta-minta. Semua jadi jelas, makan mewah yang tersaji ketika sahur terjawab sudah. Namun tak akan pernah mengubah apapun, rasa sayang hormatku bahkan berlebih untuk mama.

Kau tetap mamaku yang mulia. Bidadari yang tertawan di dunia.

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Older posts »