Menulis yang Menghipnotis

Sep 28 2014

Satu hal yang biasanya saya lakukan hampir setiap malam sebelum tidur adalah nulis. Terutama jika mata susah terpejam dan pikiran masih jumpalitan. Tulisan bisa bersumber dari kejadian hari itu yang sudah lewat, tentang perasaan, tentang orang lain, tentang apapun, hal berat maupun cuma remeh temeh.

Bagi saya, menulis selain bisa mencurahkan hati dan pikiran, juga bisa jadi cara menghipnotis diri.

Gak mesti tulisan panjang lebar menjelaskan sesuatu. Gak. Gak mesti. Walau cuma dengan satu atau beberapa kata pun bisa.

… wahai mata, merem dong. Pleasee.. ….

Dan siapapun bisa. Misalnya cuma dengan tulis begini: wahai mata, merem dong. Pleasee.. Dan agar berhasil cobalah tulis ribuan kata berulang kali lalu baca, dijamin jadi lelah dan tidur hehe.. (kidding bu..)

Tapi memang berguna buat saya pribadi. Kesuntukan pikiran bisa terurai bagai mengurai benang kusut. Dan kegalauan hati bisa jauh berkurangnya.

Selalu jadi juara bagi saya untuk mengaktifkan pikiran agar lebih bisa koprol, tapi sebaliknya juga bisa memaksanya untuk beristirahat. Itu dia tadi, bisa menghipnotis diri.

Mungkin dengan mencurahkan hati dan pikiran dengan untaian kata bisa membuat hati lebih damai dan nyaman. Istilah yang lagi happening sekarang itu lagi ‘nyalem’ alias menyalurkan emosi. Penyaluran yang positif yang gak merugikan diri sendiri atau orang lain.

Sehingga ada yang di publish dan beberapa dijadikan private, tergantung kelayakan dan beri manfaat untuk oranglain atau gak. Penting, karena jika publish sesuatu sebaiknya jangan malah menuai keburukan, semampu mungkin menuai manfaat.

Dan…

Kali ini.. 12:29 PM Kenapa belum tidur juga sih?

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

One response so far

Diare BAB Cair kemarin…

Sep 23 2014

Malam kemarin makan sambal yang mungkin agak sedikit basi. Sehingga semalaman perut berontak mules2 hingga keesokan paginya diare, bab cair. Gak terhitung berapa kali buang2 air besar cair. Dan rasanya mules sekali, sangat sakit di daerah perut bagian bawah (usus halus).

Kemudian saya minum obat magg, dan diapet namun bab masih terus berlanjut dengan kondisi gak ada perubahan. Hingga teringat pesan mama untuk meminum teh yang pahit sekali. Resepnya sama seperti pernah saya tulis di blog ini mengenai diare (mencret) pada ibu hamil.

Menuju ke dapur saya cari teh daun/teh ampas tidak ketemu lalu saya lihat ada beberapa teh celup melati, dan dua sachet teh celup peppermint tea. Keempat bungkus teh celup gabungan dari daun melati dan daun peppermint saya seduh dengan sedikiit air. Diendapkan sebentar saja. Lalu saya minum sedikit demi sedikit, level pahitnya sangat2 pahit. Dan seperti yang lalu, alhamdulillah bab kemudian keluar terakhir setelah meminum teh pahit lalu berhenti. Kejadian berhenti bab kira2 pukul 13.00.

Namun rasa perih perut belum hilang, masih terasa hingga malam hari. Tubuh sempat lemas karena terlambat meminum oralit. Untuk menghindari terjadi kekurangan cairan, oralit semestinya diminum sesaat setelah diare. Cara meminum oralit adalah minum 2 hingga 3 teguk lalu istirahat selama 3 menit agar lambung dapat menyerapnya, kemudian lanjut meminum 2-3 teguk berikutnya, beri jeda lagi dan seterusnya hingga habis satu gelas.

…Cara meminum oralit adalah minum 2 hingga 3 teguk lalu istirahat selama 3 menit ….

Keesokan harinya saya ke klinik 24 jam. Sang dokter memberikan obat mual, tambahan oralit dan obat nyeri perut. Obat nyeri perut diberikan karena menurut beliau asam lambung saya yang tinggi menyebabkan gerakan usus yang lebih tinggi sehingga terasa nyeri perut.

Jangan sepelekan diare, terutama bab cair. Luka pada usus atau lambung sulit untuk diamati dan diobati. Jika usus sampai berlubang bisa merembet sakitnya kemana2 bahkan bisa ke paru2.

Dan saat ini saya sedang membayangkan usus ayam. Betapa tipis sebenarnya kulit usus itu. Astaghfirullah, kadang lupa untuk menjaganya dengan baik. Main hantam aja segala makanan asam dan pedas masuk perut ini……..

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

2 responses so far

Bersabar dalam Ucapan

Sep 23 2014

Pale lu!
Otak ditaruh dimana??!
Guoblog!
Mikir!!
Ke laut lu!
Gila lu ya!
Sinting!
Mati lu!

Gimana bacanya? Biasa aja kan. Karena gak terarah pada kita. Semua bisa koq mengucapkannya. Kamu, saya, dia. Namun yang membedakan adalah apakah sanggup untuk melontarkannya pada orang lain? Bagi mereka yang sanggup, apakah terpuaskan isi hati dan gelora amarahnya? Bukankah api ditambah api makin membara? Bukankah panas hanya reda dengan sejuknya air? Itu hukum alam.

… Bukankah api ditambah api makin membara? … Itu hukum alam. …

Memang sulit kadang. Bahkan jika pada posisi terpojokkan. Atau mungkin di posisi yang di lontarkan oleh oranglain, keinginan membalasnya jauh lebih lagi.

Namun itulah yang membedakan. Kualitas ucapan dalam kemuliaan. Orang yang mulia akan juga memuliakan oranglain. Tak ada sedikit hatipun melukai oranglain dengan ucapan keji.

Bersabarlah. Air sejuk yang bisa diminum berasal dari sumber air dalam bongkah batu dalam tanah. Air comberan yang kotor berasal dari aliran buangan segala yang kotor. Jika ingin bermanfaat memang harus terjaga baik segala lisan sesulit menjaga mata air tetap jernih.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

One response so far

Berhenti Melangkah

Sep 23 2014

Aku berhenti melangkah
Takkala hati sudah merasa lelah
Bukan karena menyerah
Bukan pula karena kalah
Namun untuk mengatur langkah

Kita hidup dalam dunia yang indah
Takkala melihat semua dalam warnanya
Namun untuk melangkah haruslah terarah
Jika tidak ingin terjebak kalah

Kalah dari hawa nafsu
Kalah dari keinginan rancu
Kalah dari rasa ragu
Kalah dari hati yang ambigu

Maka berhentilah sejenak
Tak guna paksakan kehendak diri
Mencobalah melunak
Berjalan seiring kehendak Ilahi Rabbi

Berhentilah melangkah
Namun sesaat
Untuk memacu lebih jauh
Melecut lebih hebat

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Mengenai Rasa Syukur atas Peran Apapun

Sep 23 2014

Beberapa waktu lalu ada pengkajian oleh peggy melati sukma dengan tema ‘sibukkan diri dengan syukur’, namun karena berbarengan dengan waktu kontrol Fauzi Ilmi ke dokter sunat saya berhalangan hadir. Sayang sekali seorang kawan yang saya tanya summary dari pengkajian tidak bisa menyampaikan dengan detail isi acara yang lalu, hanya menyarankan saya untuk membeli salah satu buku karangan mba peggy.

Sebagai seorang wanita, istri dan juga ibu yang kebetulan diberi nikmat oleh Allah tidak berkarir di luar rumah (saat ini) saya mensyukuri banyak hal. Terutama rasa syukur atas banyak waktu yang diberikan untuk bisa memberikan perhatian dan kasih sayang untuk orang-orang tercinta disekitar. Kuncinya hanya satu, seperti telah saya tulis dalam salah satu artikel beberapa tahun lalu ketika saya masih aktif bekerja di salah satu perusahaan swasta, yaitu work smart not work hard. Meski sebagian orang menganggap work hard berbanding lurus dengan kesuksesan, saya tidak menyangkalnya, karena ada beberapa pekerjaan yang memang harus dilakukan dengan hard, namun the smarter we work the less hard we do. Salah satunya dari kelelahan otak dalam berfikir. Jika menemukan cara praktis maka pekerjaan akan menjadi lebih mudah. Dan bukan hanya dalam karir di luar rumah, pekerjaan domestik dalam rumah pun memakai taktik yang sama. Semisal, mencuci menggunakan mesin cuci lebih cepat, memblender bumbu dengan hand blender lebih praktis, transfer kirim bayar online lebih nyaman aman dibanding teller atau atm, dan lain lain kepraktisan lainnya. Sehingga banyak waktu yang bermanfaat lainnya selain mengurusi domestik rumah.

Saya bersyukur atas banyak hal, dan rasa syukur itu menjadi kebahagiaan dalam hati yang membuat hati terpatri rasa cukup bahkan berlebih. Dalam hal materi saya tidak pernah merasa kuatir, rezeki Allah sudah aturkan dengan baik, bahkan janjiNya pasti bahwa setiap manusia sudah terjamin rezekinya ketika lahir. Yang sering saya kuatirkan adalah dalam hal non materi. Yaitu isi hati dan level keimanan yang naik turun, sedangkan keduanya sebagai penentu keridhoan Allah atas kita.

Seringkali isi hati yang berubah melencengkan niat awal yang mulia, dan level iman yang menurun membawa hati dan diri terjatuh berkali-kali dalam kesalahan. Jika terjadi demikian, minimal ikhtiar manusia adalah lakukan ‘auto pilot’ atas semua amal ibadah, memaksakan pribadi untuk sholat wajib, sholat sunat, puasa, sedekah dll sehingga kembali mendapat kontrol diri untuk sadar melakukan semua kewajiban manusia yaitu untuk bekerja dan beribadah, disamping juga berusaha meluruskan hati kembali.

… bukan sejauh mana kita berpijak …. namun sejauh mana mensyukuri posisi ini..
… secara sadar atau tidak, kita sendiri sebenarnya yang mengunci posisi itu sendiri ….

Bukan sejauh mana kita bisa berpijak saat ini. Di sebuah gedung tinggi perusahaan ternama, di sebuah persawahan seluas mata memandang, di sebuah pesawat jet pribadi, di sebuah ruko kecil, di sebuah warung nasi, di sebuah metromini, ataupun di sebuah rumah yang penuh dengan teriakan anak2 kecil.. Namun hidup itu lebih ke arah, sejauh mana kita mensyukuri posisi di dunia ini. Yang mau tidak mau atau kadang sadar tidak sadar sebenarnya kita sendiri yang mengkunci posisi itu sendiri, melalui kepantasan diri kita sehingga Allah ridhoi kita pada posisi sekarang ini. Jika ingin turun tinggal minta saja lalu pantaskan diri, jika ingin naik pun sama. Minta pada Yang Memiliki dunia. Sehingga jangan khawatirkan materi, mudah bagi Allah mewujudkannya untuk manusia, namun khawatirkan isi hati dan level iman yang berubah-ubah naik turun seperti rel coaster, karena kita yang mengelolanya senantiasa. Pastikan selalu berada dalam tracknya agar bisa kembali dalam track menuju ridhoNya.

… belajar terus cara bersyukur yang disukai Allah ….

Pijakkan kaki kebumi, bahkan untuk berlaripun ada jarak dan waktu tempuh maksimal yang dapat dicapai manusia. Lelah jika terlalu banyak memikirkan dunia. Salah satu kunci kekayaan sudah bukan rahasia lagi. Tinggal mau atau tidaknya kita bersyukur. JanjiNya adalah pasti. “bersyukurlah maka akan ditambah nikmatmu” belajar teruss cara bersyukur yang Allah sukai dalam posisi apapun, dalam peran apapun yang kita lakoni di dunia ini. Dan selain perbanyak rasa syukur, saya mengutip salah satu perkataan Aa Gym ‘jagalah hati’.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Pantaskah Aku untuk Cintamu?

Sep 21 2014

Bila datang keluh kesahku..
Datang pula kau menopangku..
Penuh bujuk dan rayu
Penuh kasih dan candamu

Kukeluhkan lelahku
Kau datang membawa bahu
Kukeluhkan panas mentari
Kau bawakan peneduh untukku
Kukeluhkan pegalku
Kau tawarkan menggendongku
Kukeluhkan kau terlalu cepat berjalan
Kau berhenti hingga aku jalan didepanmu
Kukeluhkan hadirmu
Kau genggam tanganku selalu

Kasih.. Pantaskah aku untuk cintamu?

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Ukuran Manusia

Sep 21 2014

Sosial media telah mengubah kita.
Kini ramai orang sibuk mengukur dan membanding.

Seberapa wangi harum yang ada,
seberapa bersih terlihat kasat mata,
seberapa pintar terdengar dan terbaca,
dan seberapa banyak mata suka.

Lihat hati, sudahkan ikhlas menerima, bahwa semua memang berbeda.

Hanya Dia Mengetahui hati manusia.

Tiada jatuh sehelai daun pun tanpa IzinNya.

Mungkin mengukur diri dapat memecut semangat, agar terbang lebih tinggi, agar melaju lebih cepat.

Namun ukuran tidak mesti jadi pembanding satu lebih baik dari lainnya, Karena memang semua tercipta beda.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

No responses yet

Konflik di Jalan Raya

Sep 03 2014

Suatu siang di pelataran Hero Supermarket, ada dua orang yang bertengkar. Seorang wanita di teriaki dengan tidak sopan oleh seorang lelaki setengah baya. Lalu nama2 binatang keluar dari mulut si lelaki seraya menudingkan jarinya ke arah si perempuan.

Saya yang baru turun dari kendaraan dan melihat ke arah mereka, sontak mendekati beberapa langkah dan memberikan kode tangan agar mereka bisa tenang “ssshhh” kata saya memberikan petunjuk agar mereka bisa agak reda. Keduanya melihat, lalu si wanita mendekat dengan langkah cepat kearah saya seraya meminta pertolongan
“tolong bu, bisa tolong saya, atau tolong panggilkan satpam” namun saya lihat sekeliling tidak ada satpam saat itu. Si lelaki menyusul tak kalah cepat dan sebelum dia mulai menghardik, si wanita mencoba kembali berdialog, nada suaranya lebih tenang dibanding si lelaki.
“bapak punya asuransi, saya juga, semestinya semua bisa beres” ujarnya. “bukan masalah beresnya, tapi ibu udah salah jalur tadi!” hardik silelaki.
“tapi saya memang udah dikiri mau belok, bapak yang mepet ke arah mobil saya!” si wanita tidak mau kalah.

Di tengah2 pertengkaran mereka, saya hanya bisa terdiam dan tak bisa berpendapat apa2. Saya bersyukur minimal si wanita tidak mendapat ancaman fisik dari si lelaki dalam pertengkaran ini. Saya tetap menemani sebagai orang ketiga atau penengah agar pertengkaran tidak sampai melebihi batas, meski tidak mengerti apapun dan saya ‘mungkin’ dicurigai sebagai salah satu orang yang berada dalam kondisi pertengkaran itu oleh semua mata yang memandang. Hingga akhirnya tak lama kemudian satpam Hero datang lalu membawa mereka menuju sebuah mobil polisi yang datang setelah salah satu pegawai Hero menelpon bantuan polisi. Saya pun mundur dan masuk kedalam Hero dengan sedikit lega. Beberapa orang di dalam bertanya kepada saya apa yang terjadi diluar sana. Saya katakan bahwa mereka bertengkar karena persoalan kendaraan keduanya yang bermasalah dijalan raya tadi.

… Hindari emosi berlebih … keselamatan diri lebih utama…

Hikmah dari peristiwa tersebut adalah bahwa, menghadapi suatu masalah dijalan raya sebaiknya jangan memakai emosi yang berlebihan, marah atau kecewa berada pada batas tertentu bahwa keselamatan diri lebih utama, bila salah satu pihak yang bersengketa melawan secara fisik keselamatan kita bisa terancam, oleh karena itu orang ketiga semisal polisi sebaiknya menjadi penengah konflik. Memiliki asuransi pada era kini adalah suatu keharusan agar bencana apapun dijalan raya bisa tercover secara materi bagi kedua pihak yang bersengketa. Dan jangan lupakan doa sebelum perjalanan agar dilancarkan segala sesuatu oleh Yang Maha Kuasa.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

2 responses so far

Older posts »