Melahirkan Gentle Birth (melalui waterbirth)

Pengalaman Persalinanku, Proses Pendewasaanku

Ada pepatah mengatakan life begins at 40, hidup dimulai ketika berusia 40 tahun. Saya berpendapat lain. Selain karena belum lagi menginjak 40, bagi saya, life begins after your wedding day, hidup dimulai setelah hari pernikahanmu. Betapa tidak? Sehari sebelum pernikahan adalah hari-hari yang sama seperti puluhan tahun hidup saya biasanya, masih tidur nyenyak dengan bantal guling dan bau sprei yang belum dicuci, tidur di kamar nyaman rumah orangtua kandung, dan mereka selalu membangunkan saya setiap pagi. Dan yang terjadi sehari setelah hari pernikahan? Saya tidur dengan lelaki baru :D , bermalam di rumah mertua, berada di tengah-tengah orang-orang yang menjadikan saya anggota baru keluarga mereka, dari pagi datang hingga malam menjelang. Begitulah bagi saya hidup baru dimulai sejak hari pernikahan. Hidup yang sama sekali berbeda.

Dan dalam kehidupan baru, banyak diwarnai dengan kejadian-kejadian lucu yang kalau diingat kembali dirasa culun dan lebay. Saya pernah menyediakan test pack dalam jumlah cukup banyak, sering mengetes urin saya di hampir setiap pagi setelah melakukan hubungan suami istri, sering juga melakukan posisi tidur yang menurut beberapa info bisa mempercepat sperma membuahi indung telur, hingga makan makanan yang menurut beberapa info bisa menyuburkan wanita agar cepat memiliki keturunan.

Kemudian, hadiah terindah dari Tuhan datang menyemarakan kehidupan baru yang dijelang. Tuhan memberikan anugerah kehamilan dua bulan setelah menikah. Sejak mengetahui positif kehamilan, saya menjadi seperti jadi reporter yang sibuk mencari berita. Blusukan mencari berbagai info hamil dan melahirkan. Sebagian besar artikel diambil dari internet, sebagian lainnya interview langung dari orang-orang yang saya pikir bahwa mereka sudah berpengalaman.

Tiba masa melahirkan anak pertama, rasa senang bukan kepalang. Kelahiran buah hati pertama berlangsung di salah satu rumah sakit di Bogor, dibantu oleh seorang dokter perempuan yang baik hati.

Selang empat tahun dari kelahiran anak pertama, kembali tuhan menitipkan buah hati yang kedua kedalam rahim saya. Saat kehamilan yang kedua saya tinggal di negeri malaysia, dan memutuskan untuk melahirkan disana. Saya mengalami proses melahirkan jauh berbeda dibanding kelahiran pertama. Perbedaan paling mendasar adalah pada posisi melahirkan. Pada kelahiran anak pertama, posisi melahirkan adalah dengan memeluk dan menarik kedua paha dibawah lutut sehingga ketika mengejan sang bayi menggelosor begitu mudahnya. Sedangkan di rumah sakit Malaysia, saat melahirkan anak kedua, posisi melahirkan adalah dengan kedua kaki yang terbuka lebar diangkat keatas, ada besi kanan kiri yang menahan betis saya naik tinggi keatas, saya tidak bisa memeluk dan menarik paha bawah lutut, sehingga kesulitan hampir cukup lama untuk mengejan. Proses melahirkan dibantu dengan guntingan episiotomy yang cukup panjang oleh dokter yang membantu persalinan. Proses berjalan lancar namun vagina dan tulang ekor saya bengkak selama berhari-hari dan mengalami kesulitan duduk. Beberapa hari pula proses buang air besar saya dibantu dengan pemberian pelancar feses agar jahitan episiotomy tidak bermasalah.

Untuk kelahiran anak kedua meski jauh dari sempurna, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Sehat dan normal.

Setelah melahirkan anak kedua, kami sepakat merencanakan untuk tidak memiliki anak ketiga dahulu, hingga anak kedua kami minimal bersekolah SD atau SMP. Namun Tuhan merencanakan lain bagi kami, dua tahun kemudian saya kembali hamil. Namun ternyata kehamilan dan kelahiran anak ketiga ini memang sudah menjadi rahasia indah Tuhan bagi saya. Saya merasakan mendapatkan hadiah yang terindah, dengan terjawabnya semua kegundahan hati saya. Dengan terjawabnya semua pertanyaan dalam benak saya. Tentang proses kehamilan dan kelahiran yang lembut yang memberikan hak penuh pada saya sebagai ibu yang hendak melahirkan anak manusia ke dunia. Tentang proses melahirkan manusia secara manusiawi.

Menurut saya, pengalaman melahirkan anak ketiga sudah memenuhi seluruh harapan saya sebagai ibu yang memiliki hak penuh atas tubuh saya. Sejak sang bayi dalam rahim saya sudah tanamkan keinginan melahirkan dengan penyempurnaan dari pengalaman melahirkan anak pertama dan kedua, saya ingin melahirkan normal, lancar, lembut, nyaman, dan tidak ada gangguan. Maka diawal kehamilan yang pertama saya lakukan adalah mulai gerilya mendatangi rumah sakit atau klinik bersalin yang akan menjadi tempat lahiran nanti. Namun dengan syarat bahwa sang dokter/bidan bisa saya ajak kerjasama untuk bisa mewujudkan keinginan harapan saya.

Kehamilan anak ketiga sangat berbeda dibanding kehamilan dua anak yang lain. Menginjak bulan ke 7 perut saya sering mengalami kontraksi yang tidak biasa. Kontraksi ini seperti ajakan untuk keluar sebelum waktunya. Jika saya konsultasikan ke dokter beliau menganjurkan saya banyak istirahat. Itu saja. Tidak ada problem yang berarti. Saya pun tidak begitu kuatir. Menjalaninya dengan biasa bahkan beraktivitas luar biasa. Termasuk yang tidak bisa diam, banyak gerak dan kemana2 menyetir sendiri hingga sehari sebelum melahirkan masih mengebut kendaraan di jalan tol.

Pada bulan 7 secara tidak sengaja saya berinteraksi dengan salah satu kawan lama di facebook. Beliau sering sharing cerita tentang kelahiran anaknya secara gentle melalui status-statusnya di facebook. Saya tanyakan maksud kelahiran gentle tersebut, dia pun menanyakan kesediaan saya untuk belajar banyak lagi di suatu grup facebook. Saya mengiyakan untuk join. Awal yang indah perkenalan saya dengan gentle birth adalah berawal dari masuknya saya ke komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua).

Semua berawal dari komunitas GBUS (Gentle Birth Untuk Semua), komunitas nirlaba yang menyebarkan semangat kepada seluruh member maupun ibu-ibu diluar member lainnya, didalamnya terdapat para ibu yang memiliki energi luar biasa. Didalam komunitas terdapat banyak dokumen yang bisa dibaca, sharing pengetahuan dan pengalaman, menjawab banyak pertanyaan, menjawab banyak mitos maupun kegundahan hati bagi ibu yang akan melahirkan. Bahwa sebenarnya (dan memang seharusnya) seorang wanita dengan kodratnya melahirkan adalah memiliki hak penuh atas tubuhnya. Sedangkan saya sebelumnya beranggapan bahwa seorang ibu yang melahirkan di rumah sakit akan sangat bergantung pada perawatan, perlakuan dan perintah dari dokter maupun praktisi kesehatan didalamnya. Ibu melahirkan adalah ratu dan semua disekitarnya adalah pembantu kelahiran. Itulah semestinya.

Awal join grup saya masih belum memiliki kepastian akan melahirkan di rumah sakit mana, bidan mana ataupun lainnya. Hingga suatu hari ketika membaca list bidan gentle birth dalam grup saya coba menghubungi salah satu bidan yang lokasinya terdekat, namanya Bidan Dhina Maya. Beliau menjelaskan banyak tentang proses melahirkan gentle birth yang sebenarnya proses alami kelahiran bayi, namun sekarang sudah banyak komersialisasi kehamilan dan persalinan sehingga banyak yang seharusnya alami menjadi instant misalnya saja dengan pemberian induksi yang kadang sebenarnya pada beberapa kasus kurang perlu digunakan. Bidan Dhina memberikan opsi kepada saya jika berminat untuk melahirkan di kliniknya atau di rumah saya. Masih belum ada kepastian, saya juga mengunjungi salah satu klinik gentle birth di Bandung, saya sempat melakukan booking untuk melahirkan di tempat praktek Bidan Okke saat itu juga.

Apa itu gentle birth? Lebih kurang dalam pemahaman saya adalah suatu proses kelahiran bayi ke dunia secara lembut. Gentle ? lembut. Birth ? kelahiran. Sang bayi memiliki waktu dan cara sendiri untuk lahir, bukan hak dokter, tenaga kesehatan ataupun ibu untuk memaksanya keluar dengan atau tanpa alat. Kecuali ketika terdiagnosa memiliki kelainan atau kebutuhan khusus untuk dilakukan tindakan, semua pun dilakukan dengan kelembutan. Gentle birth bisa dilakukan di rumah sakit, klinik bersalin maupun di rumah. Secara normal pervagina maupun ceasar. Yang membuat saya kagum, dalam grup banyak sekali ibu-ibu yang melahirkan di rumah untuk mengapresiasi keinginan gentle birth untuk sang bayi. Testimonial mereka pun rata-rata menyatakan diperolehnya rasa nyaman juga aman dengan melahirkan di rumah. Tidak ada rasa takut?? Jujur itu yang pertama pikirkan ketika membayangkan seorang ibu melahirkan di rumah. Namun saya pelajari, seorang wanita dengan kodratnya melahirkan akan dapat melahirkan dimanapun yang membuatnya aman dan nyaman, sejak jaman dahulu kala pun manusia melahirkan di rumah bahkan tanpa penolong kelahiran. Dan bahkan seorang ratu melahirkan putera mahkota di istananya sendiri.

Setelah cukup banyak informasi, setelah tahu dan cukup memahami (dalam kapasitas saya), timbul tekad yang cukup kuat untuk merasakan menjadi ratu di istana sendiri. Tekad saya cukup kuat bahkan untuk membahas panjang lebar dengan suami agar beliau dapat mengizinkan saya melakukan persalinan di rumah sendiri. Hingga suami setuju dan bagi saya hanya ridhonya yang terpenting untuk melakukan persalinan dimanapun. Saya memutuskan untuk memilih Bidan Dhina untuk membantu persalinan saya di rumah. Selain lokasi beliau yang dekat rumah, juga jika darurat saya bisa merujuk ke rumah sakit di Jakarta yang cukup familiar bagi saya. Tidak ada yang mengetahui rencana saya tersebut, tidak juga ibu kandung dan ibu mertua saya. Cukup saya, suami dan Bu Bidhan. Bahkan pembantu saya pun cukup kaget ketika tahu majikannya mau melahirkan di rumah. Surprise!

Tibalah hari itu. Bercak darah merah segar muncul di pagi hari. Saya segera menghubungi Bidan Dhina. Saya memilih salah satu kamar yang tidak begitu besar dan tidak begitu kecil, sepi dan bersih, mengambil posisi nyaman dengan banyak bantal dan guling. Posisi saya dalam menikmati kontraksi adalah gaya bebas, seperti jongkok, berdiri, sujud, tiduran, dan lain-lain. Ditemani irama rileksasi (suara debur ombak di lautan) mengalun dari handphone saya. Sepanjang kontraksi saya dapat berzikir memuji kebesaran Tuhan. Saya memilih untuk melahirkan di dalam air (water birth), kolam berisi air hangat telah siap. Posisi saya sudah jongkok dengan tumpuan badan ke tempat tidur. Bidan Dhina berkali-kali mengusap punggung dan memijit kaki. Diperoleh sensasi nyaman tambahan dengan perlakuan beliau. Ketika dorongan kuat panas ingin mengejan dibagian dubur dan vagina datang, Bidan Dhina meminta saya masuk kedalam kolam. Suami saya dipanggil untuk menyaksikan. Dengan dua kali mengejan lahirlah Fahri Salim Isnandi dengan menggelosor begitu saja dalam air ditangkap oleh Bidan Dhina. Suami saya hanya berkata ?Subhanallah? tanpa mampu berkomentar lain. Tak berapa lama setelah sang bayi keluar, keluar pula tali pusatnya, ternyata tali nya pendek sekali kurang dari 50cm (coba bayangkan satu jengkal telapak tangan adalah 20cm). Inilah yang menyebabkan seringnya kontraksi ajakan keluar sebelum waktu sempurnanya. Namun Alloh berkehendak sang bayi lahir pada masa sempurnanya. I love you Gusti Alloh.

Bidan Dhina tidak membiarkan sang bayi lama dalam air. Diangkatnya sang bayi tanpa bersuara. Suami panik. Namun Bidan Dhina menenangkan, ?sang bayi tertidur? katanya. ?Dia masih merasa nyaman seperti masih dalam perut ibu. Biasanya kelahiran secara lembut memang begini? ujarnya lagi. Subhanallah.. ?Bangun naak? sapa saya padanya. Ditepuk-tepuklah pantat sang bayi. Kemudian dengan memakai pipet, Bidan Dhina mengambil cairan di hidung dan tenggorok bayi, karena merasa terganggu bayi kemudian menangis, lalu pipis mengenai Bidan Dhina. Kami semua tertawa bahagia. Indah sekali. Saya sendiri merasa sangat nyaman dan tenang.

Melalui pengalaman melahirkan di rumah secara gentle birth, saya mengingat beberapa poin penting, khusus bagi kelahiran normal pervagina, tetap lah proses persalinan itu membutuhkan rasa sakit. Rasa sakit/kontraksi diharapkan muncul agar rahim mengencang dan mengendur membantu mengeluarkan bayi. Jangan menahan rasa sakit, justru ketika datang rasakan dengan santai dan relakskan panggul sehingga jalan lahir menjadi mudah terbuka. Jika ada rencana melahirkan di rumah, bekali diri dengan informasi sebanyak-banyaknya dan tanya jawab dengan bidan yang dipilih membantu proses tersebut. Adalah hak ibu untuk bisa melahirkan dimana dia merasa nyaman. Jika rasa nyaman diperoleh jika melahirkan di rumah sakit maka jalanilah. Melahirkan di rumah harus dengan catatan bahwa kehamilan yang dijalani bukan kehamilan yang beresiko. Dibuktikan dengan hasil pemeriksaan ke dokter atau bidan.

Bagi saya , melahirkan di rumah merupakan pengalaman baru saya yang tak terlupakan. Ada rasa kepasrahan tinggi kepada Sang Pencipta dan kepercayaan bahwa manusia bisa melewati rintangan apapun dengan perkenan Nya. Kedekatan secara spiritual dengan Sang Pencipta semakin bertambah, juga kedekatan batin dengan sang bayi sungguh lekat. Jiwa saya dan tubuh saya bagai irama yang kompak, satu nada, satu suara, jiwa saya tetap terjaga dalam zikirnya, dalam semangatnya menanti sang buah hati datang ke bumi, menyemangati dan menggelorakan api sukacita mengabarkan simpul-simpul kesadaran saya bahwa sang bayi akan datang, never give up, keep going keep going.

Bagi saya, melahirkan ketiga anak saya adalah merupakan pantulan perjalanan hidup yang semakin mendewasakan saya dalam menghadapi kehidupan. Melalui ketiga anak saya, saya belajar untuk hidup lebih hidup. Saya memimpikan, setiap rumah sakit bersalin, para bidan, para dokter dan praktisi kesehatan yang membantu proses ibu melahirkan, semestinya dapat memberikan ruang bagi sang ibu untuk mengeksplor jiwa dan tubuhya, membimbing sang ibu melahirkan dengan nyaman, dan dengan penuh kelembutan.

?Anak adalah amanah yang paling besar untuk seorang ibu. Dia tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa, diberi nama apa, dan dibentuk seperti apa. Dia membawa fitrah keimanan dalam jiwanya.? (Dini Susanti, 2009)

Incoming search terms:

  • cerita melahirkan dalam air
  • cerita melahirkan waterbirth
TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

3 thoughts on “Melahirkan Gentle Birth (melalui waterbirth)”

  1. Yuan says:

    Mbak bolehkan saya ijin jika ada contact bidan dhina? Jika berkenan saya jg ingin berkonsultasi. Trima kasih sblmnya. Salam gbus

    1. Jatu says:

      Mbak, bolehkah minta kontak bidan Dhina? Saya ingin melakukan proses gentle birth. ini kehamilan pertama saya. saya mau yang paling baik untuk si baby. :) Terima kasih

  2. Putri says:

    Mbak minta alaamt dan kontak bidan2 atau klinik ygvrecommended utkbwaterbirth di Bandung ya. Makasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>