Archive for the 'Cerpen' category

Mengapa Ibu Tidak Mengerti?..

Jul 11 2008 Published by Dini Susanti under Cerpen

Hari itu sangat panas, Aryo menyetop angkot biru yang lewat kesekian kalinya setelah membulatkan hati untuk pulang kerumah.

…Yang paling penting
buat Aryo adalah
tidak ingin
dianggap ‘kurang gaul’…

Dua hari Aryo pergi dari rumah sejak pertengkaran dengan seorang wanita yang melahirkannya. Hari itu merupakan puncak kemarahan Aryo karena beliau tidak mengijinkannya mengikuti 1 minggu Bali Camp , alasan Ibu adalah karena kegiatan ini dilaksanakan bukan dari SMU 1 Bogor tempatnya menuntut ilmu, namun dilaksanakan oleh organisasi grafiti yang diikutinya baru dua bulan belakangan ini.

Memang Aryo akui ia mengikuti Bali Camp bukan karena terpilih dalam 10 orang yang karya grafitinya akan dilombakan di ajang grafiti Internasional namun karena sebagai orang yang baru dua bulan join kedalam organisasi Aryo merasa wajib untuk mempererat persaudaraan dengan anggota lain yang juga ikut kesana. Yang paling penting buat Aryo adalah tidak ingin dianggap ‘kurang gaul’, hal ini Aryo sembunyikan dari orangtuanya. Segenap upaya dan alasan dikeluarkan Aryo untuk mendukung keinginannya ikut Bali Camp.

Hari itu sang Ibu menyampaikan keputusan bulat hasil musyawarah Ibu dengan Bapak. Bapak tidak ada disana, Ibu mengajak bicara Aryo berdua saja, Aryo tidak terima kenyataan itu, ” Aah payah deh! Ibu gak ngerti anak muda sekarang sih! Ibu cuma lulusan SMP! Jaman dulu gak ada acara internasional gini! Jaman udah berubah buuu..acara beginian gak diadakan setiap hari gitu loh! payaah..Bapak juga payaah! katanya Bapak lulusan Master tapi udah ikut ga gaul kayak Ibu!!..” Teriak Aryo seraya pergi dari rumah membawa tas yang sudah disiapkannya sejak pagi, Aryo berencana kabur dari rumah hanya untuk menyadarkan kedua orangtuanya akan anak semata wayang yang dicintai mereka. Aryo juga sebenernya kaget bisa mengeluarkan kata kata sekasar itu pada Ibu. Biasanya mereka jarang bicara satu sama lain. Setiap hari pembicaraan antara Aryo dan kedua orangtuanya hanya basa basi biasa seperti ”Pagi Bu”, ”Pagi Pa”, ”Bu Aryo pulaaang”, ”Bu Aryo pergi lagi yaa ada acaraa.. ” Aryo lupa kapan terakhir mereka bercanda bersama, mungkin sejak Aryo SMP, sejak Aryo punya dunia sendiri, dunia anak muda. Dan Aryo menganggap Ibu dan Bapaknya sedikitpun tidak mengerti dunia Aryo. Dunia kebebasan dan kreatifitas. Hanya Aryo dan teman-teman sebaya yang bisa mengerti.

Namun Aryo tidak menyangka bahwa dua hari pergi dari rumah sangat berat bagi dirinya. Selama dua hari Aryo berpikir mengenai banyak hal, terutama Aryo semakin menyadari bahwa banyak sekali kasih sayang yang diberikan Ibu dan Bapaknya. Uang jajan yang cukup besar salah satunya sehingga tabungan Aryo cukup banyak untuk menyewa wisma selama satu minggu dibayar dimuka yang sekarang ditinggalinya, dan berfoya foya cukup banyak mentraktir kawan-kawan di club grafitinya. Namun wisma itu terasa sangat dingin, di rumah meski hanya ada Ibu yang jarang mengajaknya bicara namun banyak cemilan yang beliau sajikan, seluruh kebutuhan sekolah dan bermainnya dipenuhi, fasilitas game dan elektronik yang lengkap untuk memuaskan hobinya. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Aryo kangen Ibu dan Bapak, Aryo kangen rumah, namun Aryo takut pulang. Takut Ibu dan Bapak marah, namun mengingat sifat Ibu yang lemah lembut, tidak pernah marah sedikitpun padanya, Aryo membulatkan dirinya untuk pulang. Aryo sangat kangen pada Ibu dan berjanji akan bersimpuh dihadapan Ibu untuk meminta maaf.

Angkot yang dinaiki Aryo mulai memasuki jalan menuju perumahan Yasmin Bogor. Lima menit lagi Aryo akan berada di pintu gerbang perumahan dan beberapa tapak kaki menuju rumah besar di jalan boulevard Yasmin Bogor.

Aryo turun dari angkot. mulai berjalan menapaki jalan boulevard. Dua hari terasa dua tahun baginya, mungkin Ibu pun merasa begitu bila ditinggal Aryo, Aryo ingin tahu nanti apakah Ibu juga kangen Aryo.

Beberapa langkah dari pintu gerbang rumah Aryo mendadak dada Aryo berdebar keras. Tubuhnya terasa menggigil dan hampir kehilangan tenaga. Pintu gerbang rumah terbuka penuh, banyak kursi berjejer di garasi rumah, ada banyak rangkaian bunga di depan rumah, dan disana ada eyang dan saudara-saudara jauh sedang berkumpul di dekat pintu gerbang. Aryo jatuh pingsan di trotoar jalan.

Sedikit mata Aryo terbuka, Aryo dibaringkan di ruang tengah rumah, sebenarnya Aryo sangat berharap tidak akan pernah membuka mata selamanya. Namun Tuhan berkehendak lain, Aryo masih bisa membuka mata dan melihat seseorang terbaring di hadapannya dikelilingi oleh sanak saudara dan tetangga jauh maupun dekat. Orang itu di tutupi kain putih, terbujur kaku.

“sss…ssiapa?” tanya Aryo kepada seorang paman disebelahnya, menunjuk kepada tubuh kaku dihadapannya. ” Ibu kamu..” ujar paman getir. Aryo merasakan tubuhnya tergonjang hebat melebihi apapun. Hatinya hancur melebihi kehancuran apapun. Yang dirasakan kemudian Aryo mati rasa. Seluruh pandangannya kembali gelap. “Ibu maafkan Aryo..maafkan..Aryo cinta Ibu, sangat mencintai Ibu..” bisik Aryo dalam hati, hanya air mata yang mengalir tipis itu bisa bicara. Aryo tak sadarkan diri.

6 responses so far

Nuno Gak Ngerti Deh..

Jul 11 2008 Published by Dini Susanti under Cerpen

Bener lu No? Ikut dong gue!!!” Teriak Asep setelah denger kabar Nuno mau keliling Asia.
” Iya bener kapan sih gue boong ama ellluuu?” Delik Nuno pake gaya norak monyongin mulutnya kedepan.
” Haah boong kayak gitu sih sering lu. Gw percaya abis elu tunjukkin tuh tiket dan paspor elu. Gaya luh ya, dasar bokap lu tajir sih.” Sebelum Nuno mau sombong, Asep lanjut ngomong ” Kalo elu anggap gue temen, ajak gue luh!” Ancem Asep.
Nuno gak kalah ngancem ” Bisa aja, asal elu ngomong langsung sama Bokap gua hahahahaha” Nuno ketawa sambil ngacir.

…Asep kadang ga ngerti
ada orang-orang
yang seberuntung
Nuno dan keluarganya…

Ya jelas lah Asep ga mungkin berani sama bapak Nuno yang petinggi salah satu departemen, pegawai negeri tajir gitu loh.

Tajir, punya jabatan dan disegani. Atau punya jabatan karena itu disegani? Atau karena tajir jadi disegani? Entah deh Asep kadang ga ngerti ada orang-orang yang seberuntung Nuno dan keluarganya, secara bapak Asep cuma pegawai swasta biasa yang kata bapaknya cicilan rumah mereka baru lunas kalo Asep udah kerja 10 tahun dan ikut bantu bapak bayar cicilan. Iih kata-kata Bapak emang sadis, Asep ngeryit kalo inget kata-kata bapak itu. Berarti cicilan rumah yang selama ini ditinggali Asep sisanya 20 tahun lagi?? Halah Asep pusing. Kalo udah pusing Asep malah ga konsen belajar, pengen ikut Nuno keliling Asia minggu depan. Gak nyambung sih, tapi mungkin kalo jalan-jalan gratis Asep bisa melupakan sejenak beban hidup sementara aaaahhh…andai.

Yap andai bisa ikut, kenyataaanya Asep Cuma bisa ikut nganterin Nuno ke bandara.
” Daaa Asep!!! Ketemu minggu depan yeee!!!” jerit Nuno norak di pintu pemeriksaan bagasi. Yaa mo gimana lagi, emang Asep siapanya Nuno? Temen deket sih, tapi duit gak kenal temen lah.. ya udah Asep pulang pake mobil Nuno dianterin supirnya sampe depan rumah yang belum lunas itu.

Sekarang Nuno lagi ngapain ya? Pasti lagi asyik makan di pesawat, sebelum berangkat tadi dia berkoar koar pesen banyak makanan di pesawat menuju ke Malaysia. Katanya ke Malaysia cuman 1.5 jam paling cepet, dan katanya karena dirumah gak sarapan dulu, jadi pagi itu mau sarapan di pesawat aja. Perut Asep bunyi, ikutan laper belum sarapan juga tadi sebelum ikut Nuno ke bandara.

Memang benar Nuno lagi makan sarapannya. Ini adalah travelling pertama Nuno ke luar negeri. Sendirian pula. Bapak Nuno kabar burungnya sih dapet uang projek cukup besar dari salah satu maskapai penerbangan dan bapak dapet gratis keliling asia seminggu free charge, enak nya jadi pejabat.. Dan enaknya makanan yang di makan Nuno. Sandwich 2 bungkus, susu coklat, juice jeruk, kentang goreng. Nuno kenyang dan ngantuk dan pengen tidur, tapi perut Nuno berontak, perutnya malah melilit gak karuan. Salah Nuno sendiri, gak biasa sarapan pake susu, malah pesen susu coklat, gitu deh, gak lama kemudian Nuno ke toilet, dua kali pula. Awal perjalanan yang gak enak nih, batin Nuno.

Tiba di KLIA Malaysia Nuno udah dijemput oleh taksi yang udah dipesan bapak. Diantarlah Nuno ke hotel tempat Nuno menginap. Pengemudi taksi mengajak Nuno bicara bahasa malaysia ”Nak sewa kereta tak?” ”Ha? ” Nuno gak ngerti ” I dont understand please speak english” Jawab Nuno, giliran si pengemudi taksi diem dia yang gak ngerti. Maksudnya si pengemudi taksi ingin menawarkan barangkali Nuno ingin sewa mobil selama di malaysia.

Nuno sampai di lokasi hotel, lalu secepatnya chek in dan membanting tubuhnya di kasur. ”Haaah masih sakit perut! ” Teriak Nuno sambil ngacir ke toilet, tobat deh perut Nuno memang kurang bersahabat dengan susu.

Setelah perut agak enak, Nuno ingin jalan-jalan disekitar hotel. Merasa seperti rumah sendiri, Nuno keluar pake sandal jepit hotel, kaos oblong yang biasa dipakenya maen skateboard di rumah, Kamera canon D40 dan dompet di saku celana. Niatnya sih pengen jalan ke mall di samping hotel sambil cuci mata.

” Hey, awak sini lah! Pasport pasport!” Mendadak ada teriakan memanggil dirinya dari kejauhan, kelihatannya sih kayak petugas keamanan tapi bukan polisi. Kenapa manggil Nuno? Gak ngerti. Nuno cuek aja berlalu balik badan, mungkin lagi razia. ” Hey awak baju merah!” Nuno langsung konek seketika itu, petugas tadi rupanya memanggil Nuno. Wah parah nih, Nuno keringet dingin. Diem ditempat dan rasanya pengen kencing dicelana (maaf). Petugas tadi mendekati Nuno ” Pasport please? ” Tanya petugas itu pake bahasa inggris. ” I left my passport in hotel, its near this mall, I can show it to you…” Lirih Nuno. Cerita selanjutnya adalah Nuno digiring bersama orang-orang lain yang ga punya passport, dan setelah seharian di kantor polisi Nuno dilepaskan karena seorang bell boy hotel dateng bawa passport Nuno. Jadi Nuno menelpon ke hotel, minta tolong ada yang bisa bawakan passport ke kantor polisi, dan ngasih ijin petugas hotel pake kunci yang di titip di front desk. Nuno dilepaskan polisi dan pulang ke hotel pake taksi.

Setiba di hotel Nuno tidur kecapean dan bangun pagi esok pagi. Hari kedua ini seharusnya jadwal untuk keliling malaysia, namun Nuno urungkan dan memilih untuk langsung terbang ke singapura. Setiba di singapura Nuno lupa untuk menukar uang dibandara. Di singapore bapak bilang Nuno harus pesen taksi sendiri. Nuno pesen taksi sendiri, sisa uang tinggal dikit di tas kecil dan niat tuker uang lagi nanti berhenti di money changer deket mall. Nuno ngebet pengen jam tangan Esprite yang sedang sale di orchad road.Tiba di orchard road, Nuno segera bayar taksi, mengambil tas di sampingnya dan segera pergi sambil kasih sedikit tips untuk si sopir. ”Thank you” Ujar sopir taksi dan segera ngacir.

Ga lama setelah jalan, Nuno baru sadar, tas dan kopernya di bagasi ketinggalan di taksi tadi. Sia-sia Nuno cari di sekeliling taksi udah ga ada. Badan Nuno lemes, dan segera telpon bapak. ” Ah lagi mikirin apa sih No?? Jalan jalan ko malah bengong, harusnya kamu sadar, jalan-jalan keluar negeri ya bawaannya jangan banyak banyak!! Duit juga disimpen ditas kecil jangan di koper!” Bapak marah ditelepon. ” Nuno ga enak badan nih pak, pengen pulang aja” Jawab Nuno
”Ga jadi ke Thailand, dan Filiphina? Ga minat ke Australia bentar?”
”Gak!” Jawab Nuno cepat trus diem ga ngomong apa-apa. Bapak yang ngomel-ngomel di seberang sana akhirnya nyerah dan memesankan tiket pulang juga minta sopirnya jemput di Bandara Soekarno Hatta.

Nuno tiba di bandara Soekarno Hatta, dijemput sopir dan juga…Asep.
Dari kejauhan Asep udah nyengir-nyengir kuda. Dan ketika Nuno udah deket, Asep teriak norak
” Makanya ajak-ajak gue No! Tuh kan lu jadi sial! Hahahah! ”
Nuno udah gak semangat ngajak berantem, Cuma diem dan duduk di kursi depan mobil lalu siap tidur. Sementara Asep di kursi belakang asyik cemooh Nuno. ” Nasiiiippp hahahahaha!” kata-kata terakhir itu yang didenger Nuno, sebelum masuk ke alam mimpi dan mimpi jalan-jalan ke eropa … bareng Asep.

No responses yet

Nasib Blog..er

May 28 2008 Published by Dini Susanti under Cerpen

Di sela-sela kesibukan, suamiku sempat mengirimkan joke via ym:

*Nasib Blog..er*

Sang ayah lewat depan anaknya yang sedang mengetik blog di depan komputer

Ayah: Aku jadi ingin mulai nulis blog juga nih

Anak: (Dengan nada santai)
Sekarang sudah tidak jaman lagi nulis blog. Tapi sudah jadi fotoblogging

Ayah: Kalau begitu saya akan mulai fotoblogging saja

Anak: (Masih santai sambil mengetik depan komputer)
Fotoblogging sudah mulai kuno, sekarang saatnya Videoblogging

Ayah: Kalau begitu saya akan buat videoblogging saja

Anak: Sekarang jamannya blogger banyak yang dihukum

Ayah: (Kesal dan berbicara keras pada istrinya)
Mana nomor telepon ISP. Lebih baik kita berhenti berlangganan internet sajaa!

(disadur bebas dari komik strip, koran star)

No responses yet

Blogging?

May 23 2008 Published by Dini Susanti under Cerpen

One day at the cafe :
CS : party for one?
customer : Yes, please.
CS: Blogging or non blogging?

(source:the star)

No responses yet

kasian gerobak buburnya..

Feb 19 2008 Published by Dini Susanti under Cerpen,Personal

Tiiinnnnn!!!!!!!!
Tiiinnnnnnnnnn!!!!!!!!!!
Perempuan itu memencet klaksonnya agar ada yang bisa menolong..
Seorang bapak tua lari keluar rumah penasaran.. terlihat oleh beliau sebuah mobil swift biru tua terpapar pasrah menghadapi sebuah gerobak bubur yang hampir rubuh mengenainya.

Waduh! yang nyetir udah panas dingin..selain sang bapak tua juga ada seorang pria yang keluar rumah dan mengeryitkan kening. Entah dia sayang melihat gerobaknya atau menyayangkan nasib sang mobil. Gak jelas.

Selanjutnya bapak tua dan pria yang belakangan diketahui adalah pemilik gerobak bubur itu menggotong gerobaknya agar tidak jadi rubuh mengenai mobil itu.

Namun tidak berhenti sampai disitu kehororan ini.
Mendadak si bapak tua meminta perempuan itu mundur agar mobil bisa bergerak menghindari gerobak.

Baru mundur sebentar, krek, “STOOP!!” teriak kedua pria itu serempak. Roda gerobak nyangkut di sisi bawah mobil.

Entah bagaimana kondisi diluar sana, si perempuan cuma bisa berdoa dan menarik napas dalam-dalam dan menuruti instruksi dari luar. Gerobak didorong sedikit. Sekarang instruksinya berubah “Maju!! dikiiiit!” dan si perempuan nurut.

Perlahan mobilnya dimajukan sedikit. Namun biarpun sudah mengikuti instruksi tetaplah kena marah. ” Abis maju luruskan lagi!!” Tegang si bapak tua. ” Iya iya!! tenang aja atuh!” Dan mobil akhirnya bisa melewati jalan masuk dari rumah orangtua si perempuan.

Sang bapak tua yang tidak lain adalah ayah si perempuan cuma geleng-geleng kepala dan kembali masuk rumah, si perempuan melanjutkan rencana semula menjemput anaknya sekolah. Dan Barulah dimengerti olehnya mengapa dia tidak lulus ujian SIM A. Nasiiibbb…..

*agar pembaca tidak penasaran:
gerobak bubur : dalam keadaan kosong, kebetulan bubur dan barang dagangan belum ada
mobil swift : parahnya dikiiiiittt..deh
si perempuan : tidak shock, masih bisa bawa mobil sambil nyanyi
sang bapak tua : jadi sering ngomel kalo liat si perempuan bawa mobil
tukang bubur : tetep bisa jualan bubur karena gerobaknya masi utuh dan gak disuruh ganti rugi atas keparahan luka si mobil dan luka hati sang perempuan, yang diam diam menyalahkan dia karena parkir gerobak sembarangan.

3 responses so far

Makna kehilangan

Jan 15 2008 Published by Dini Susanti under Cerpen,Renungan

Dirimu tidak pergi jauh,
Kapanpun kau tetap berada disana,

Ragamu sudah tak hadir,
Namun Kenangan masa lalu abadi di hati,
Hanya kita takkan lagi merajut masa depan bersama,

Jiwamu sudah damai,
Dunia sudah tak lagi membebani,
Tak perlu kau bersusah payah mencari ridho Allah di dunia,
Kini kau sudah bersama dengan Nya

Tak perlu lagi kecewa,
Tak perlu menangis karena ulah kami dan mereka,
Tak perlu sibuk membahagiakan anak dan cucumu yang banyak,
Tak perlu lagi memikirkan kesulitan kami di dunia,

Waktu, tenaga dan hatimu sudah tidak terbebani,
Meski kami tak meminta namun kau selalu berusaha memberi,
Kini beristirahatlah dengan damai disisiNya,
Kita akan berjumpa kembali PASTI..

No responses yet