MANAJEMEN KUALITAS

Mar 08 2019

DISCLAIMER :
MOHON CANTUMKAN SUMBER TULISAN : PENULIS : DINI SUSANTI, http://dini.isnandi.net/2019/03/08/manajemen-kualitas/

LATAR BELAKANG

Bila dalam suatu pekerjaan kita berpikir tentang apa yang harus kita lakukan agar hasilnya tidak mengecewakan dan bagaimana melakukannya agar hasil kerja kita dapat lebih baik di masa yang akan datang, maka posisi pikiran kita itu sebenarnya sedang berada pada wilayah manajemen kualitas atau dalam bahasa kerennya quality management. Kok bisa begitu? Ya, karena manajemen kualitas merupakan bidang manajemen yang intinya mengkaji apa dan bagaimana cara melakukan perbaikan secara terus menerus. Bahasa kerennya continuous improvement. Penerapannya bisa untuk diri sendiri, organisasi atau bahkan pemerintahan.
Dalam era globalisasi, kualitas didefinisikan sebagai segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the needs of customers). Keunggulan suatu produk terukur melalui tingkat kepuasan pelanggan. Mengapa inti bisnis dalam era globalisasi yang akan datang harus berfokus pada kualitas? Karena kualitas dalam era globalisasi telah menjadi harapan dan keinginan semua orang khususnya pelanggan. Oleh karena itu, para pelaku bisnis dan produsen harus terus berusaha mengembangkan konsepsi dan teknologi kualitas sejalan dengan trend globalisasi. Bahkan banyak perusahaan yang secara progresif mencari pola manajemen yang dianggap paling efektif untuk menyiasati kualitas dalam era globalisasi. Pola manajemen kualitas yang dianggap paling efektif tersebut harus mampu menjadi strategi kompetisi yang paling dapat diandalkan.
Dalam era globalisasi, dimana tidak ada batasan dalam persaingan, membuat perusahaan harus mampu memberikan produk yang diinginkan oleh masyarakat. Jika hal ini tidak dilakukan maka bukan tak mungkin sekuat dan sebesar apapun sebuah perusahaan, akan tak mampu untuk survive.
Kualitas merupakan inti kelangsungan hidup lembaga, artinya bahwa kelangsungan hidup sebuah lembaga sangat ditentukan oleh kualitas produknya. Pendekatan manajemen kualitas menjadi tuntutan yang tidak boleh dibaikan jika suatu lembaga ingin hidup dan berkembang. Gerakan tersebut bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk secara berkesinambungan untuk kepentingan stakeholder. Persaingan yang semakin ketat akhir-akhir ini, menuntut sebuah lembaga penyedia jasa/layanan untuk selalu memanjakan pelanggan dengan memberikan pelayanan terbaik. Para pelanggan akan mencari produk, berupa barang atau jasa dari perusahaan yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepadanya (Assauri, 2003: 25).

PENGERTIAN KUALITAS
DEFINISI KUALITAS MENURUT PARA AHLI

1. Hence, “The quality of a product or service is the fitness of that product or service for meeting its intended used as required by the customer.”
“Kualitas dari suatu produk atau jasa adalah kelayakan atau kecocokan dari produk atau jasa tersebut untuk memenuhi kegunaannya sehingga sesuai dengan yang diinginkan oleh customer.”
2. Kotler ( 2007) Kualitas dapat juga didefinisikan sebagai keseluruhan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada kemampuan memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat.
3. Cateora dan Graham (2007: 39), menurut mereka kualitas (quality) dibedakan ke dalam dua dimensi : kualitas dari perspektif pasar dan kualitas kinerja. Keduanya merupakan konsep penting, namun pandangan konsumen atas kualitas produk lebih banyak berhubungan dengan kualitas dari perspektif pasar dibandingkan dengan kualitas hasil.
4. Christina (2004), kualitas secara umum dapat diartkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan satu atau lebih karakteristik yang diharapkan terdapat dalam barang atau jasa tertentu.
5. Edward dan Sallis (1993) definisi relative mengenai kualitas tersebut mengandung dua aspek, yaitu pertama adalah menyesuaikan diri dengan spesifikasi, kedua memenuhi kebutuhan pelanggan
6. Schuler dan Harris, 1992: 21) kualitas produk dapat disimpulkan sebagai kecocokan penggunaan produk ( fitness for use), artinya produk dan layanan harus melakukan apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pelanggan
7. Dale, 2003:4 kualitas adalah konsep yang cukup sulit untuk dipahami dan disepakati. Dewasa ini kata kualitas mempunyai beragam interpretasi, tidak dapat didefinisikan secara tunggal, dan sangat tergantung pada konteksnya. Beberapa definisi kualitas berdasarkan konteksnya perlu dibedakan atas dasar: organisasi, kejadian, produk, pelayanan, proses, orang, hasil, kegiatan, dan komunikasi
8. Joseph M. Juran,(1962) kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan dan manfaatnya. (1989), mendefinisikan kualitas secara sederhana sebagai “kesesuaian untuk digunakan‟. Definisi ini mencakup keistimewaan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen dan bebas dari defisiensi.
9. Montgomery (1996), bahwa kualitas secara tradisional adalah berdasarkan kepada suatu pandangan bahwa produk dan pelayanan harus sesuai dengan ketentuan mereka yang menggunakannya.
10. Pond (1994), kualitas secara umum adalah membuat produk atau jasa yang tepat waktunya, pantas digunakan dalam lingkungan, memiliki zero defects, dan memuaskan konsumen.
11. W. Edwards Deming (1982), Bapak pemikir kualitas modern. Kualitas adalah pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus-menerus. Pendekatan deming merupakan pendekatan secara bottom up. Kualitas harus bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan sekarang dan yang akan datang.
12. Scherkenbach, (1991), Kualitas ditentukan oleh pelanggan; pelanggan menginginkan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan harapannya pada suatu tingkat harga tertentu yang menunjukan nilai produk tersebut.”.
13. Elliot (1993), Kualitas adalah sesuatu yang berbeda untuk orang yang berbeda dan tergantung pada waktu dan tempat atau dikatakan sesuai dengan tujuan.
14. Goetch dan Davis (1995), Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan.
15. Perbendaharaan istilah ISO 8402 dan dari Standar Nasional Indonesia 19-8402-1991). Kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar. Istilah kebutuhan diartikan sebagai spesifikasi yang tercantum dalam kontrak maupun kriteria- kriteria yang harus di definisikan terlebih dahulu.”
16. Philip B. Crosby (1979:58) mendefinisikan kualitas sebagai (conformance requirement of specification), yaitu sesuai dengan persyaratan yang telah distandarkan. Suatu produk atau layanan dikatakan berkualitas manakala sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetatapkan, meliputi kualitas input, proses, dan output.
17. Gryna, 2001 kualitas adalah kepuasan dan kesetiaan konsumen terhadap suatu produk.
18. Ariani 2004: 3, dari dua segi umum tentang kualitas yaitu, kualitas rancangan dan kualitas kecocokan. Semua barang dan jasa dihasilkan dalam berbagai tingkat kualitas.
19. Gaspersz (2002), Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti : performansi (ferformance)., keandalan (reliability), mudah dalam penggunaan (easy to use), estetika (esthetic).
20. Westinghouse, Kualitas adalah performa kerja yang dapat memenuhi keinginan customer secara cepat dan tepat.
21. Genichi Taguchi, kualitas didefinisikan sebagai kerugian yang disampaikan pada masyarakat dari waktu suatu produk dikirim
22. K. Ishikawa, Kualitas berarti kepuasan pelanggan. Dengan demikian setiap bagian proses dalam organisasi memiliki pelanggan. Kepuasan pelanggan internal akan menyebabkan kepuasan organisasi
23. Garvin dan Davis (1994) menyatakan bahwa kualitas adalah kondisi dinamis yang terkait dengan produk, tenaga, tugas, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi keinginan dan harapan pelanggan.
24. Suyadi Prawirosentono (2007:5), pengertian kualitas suatu produk adalah “Keadaan fisik, fungsi, dan sifat suatu produk bersangkutan yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai nilai uang yang telah dikeluarkan”.
25. W.E Perry, Kualitas adalah pemenuhan terhadap standar
26. R.Glass, kualitas adalah tingkat kesempurnaan
27. American Society for quality Control, kualitas adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang tampak jelas maupun tersembunyi.
28. Armand V. Feigenbaum (1986), kualitas produk adalah suatu produk yang sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen.(1991), kualitas merupakan keseluruhan karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, enginerring, manufactur dan maintenance, dimana produk dan jasa tersebut dalam pemakaiannya akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.
29. Heizer & Render (2006:253): ”Quality is the totality of features and characteristic of a product or service that bears on it‟s ability to satisfy stated or implied need.”Artinya “mutu/kualitas adalah keseluruhan corak dan karakteristik dari produk atau jasa yang berkemampuan untuk memenuhi kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi.
30. Meskipun tidak ada definisi mengenai mutu/ kualitas yang diterima secara universal, namun dari beberapa definisi kualitas menurut para ahli di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut (M. N. Nasution, 2005:3):
a. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
b. Kualitas mencakup produk, tenaga kerja, proses dan lingkungan.
c. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang)

DIMENSI KUALITAS

Secara umum, kualitas suatu barang dapat dilihat dari empat dimensi berikut ini:
1. Kinerja (performance, operation). Dimensi utama yang banyak dipertimbangkan oleh konsumen ialah kinerja atau operasi dari produk. Misalkan apakah tinta ballpoint keluar secara baik, lancar dan tidak luntur.
2. Keandalan (reliability, durability) mencerminkan keandalan suatu produk, yaitu kepercayaan atas kemampuan atau ketahanannya. Apakah mobil dapat distart dengan mudah pada pagi hari, apakah suatu flashdisk dapat menyimpan data dengan baik selama lima tahun, dalam pemakaian normal
3. Kenampakan (appearance, features) menunjukkan daya tarik suatu produk yang membedakan dengan produk lain secara sepintas, kenampakan sangat dipengaruhi oleh desain dan atribut lain secara sepintas. Misalnya radio mobil yang juga memiliki remote control, handphone yang memiliki camera phone
4. Kesesuaian (conformance) kesesuaian berhubungan dengan pemenuhan terhadap spesifikasi atau standar yang ditemtukan. Misalkan apakah helm sudah memiliki standar SNI, apakah helm sudah memenuhi standar safety.
5. Pelayanan (serviceability) berkaitan dengan pelayanan pasca jual. Contohnya adalah menjamin service suku cadang mobil bila terjadi kerusakan dalam dua tahun pemakaian
6. Persepsi kualitas (perceived quality) keyakinan terjadap kualitas oleh pelanggan didasarkan atas apa yang dilihat, pengalaman sebelumnya, atau reputasi perusahaan pembuat. Misalnya iphone dikenal sebagai merek smartphone yang memiliki security terbaik.

Dimensi kualitas dalam jasa:
1. Keandalan, yaitu kemampuan melaksanakan jasa yang dijanjikan secara akurat dan cepat
2. Responsif, yaitu kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa yang sesuai dengan harapan pelanggan.
3. Bentuk nyata, yaitu fasilitas fisik, peralatan, dan penampilan personal
4. Jaminan, yaitu pengetahuan dan sikap pegawai serta kemampuan mereka untuk menunjukkan kepercayaan, keyakinan, dan kesopanan.
5. Empati, yaitu perhatian individual yang diberikan kepada pelanggan

PENTINGNYA KUALITAS

Kemajuan yang dicapai Jepang dalam industri, sejak pertengahan tahun 1970an telah membuka mata dunia khususnya negara industri di Eropa dan Amerika. Hal ini dikarenakan oleh merebaknya produk Jepang yang menguasai pasar internasional dalam waktu yang relatif singkat dibanding dengan yang dilakukan oleh negara barat. Produk-produk Jepang seperti mobil, peralatan audio dan video, penyejuk udara, mesin cuci, mainan anak-anak dan sebagainya diakui memiliki kualitas tinggi. Sebagai akibatnya, banyak pasar yang sebelumnya dikuasai oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, diambil alih posisinya oleh perusahaan-perusahaan Jepang.
Kualitas yang semua kurang menjadi perhatian bagi negara barat menjadi sangat berarti. Bagi perusahaan bisnis, kualitas menjadi faktor penting dalam rangka memasuki dan memperoleh pangsa pasar. Usaha ke arah peningkatan kualitas akan memperbaiki keberterimaan produk dan peningkatan efisiensi. Pada masa kini, keunggulan komparatif yang dimiliki oleh negara-negara dengan sumber daya alam dan manusia yang besar menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan keunggulan kompetitif, diantaranya ialah keunggulan atas kualitas produk yang dihasilkannya.
Bagi organisasi nirlaba, kualitas yang diarahkan untuk mencapai kepuasan stakeholder, meningkatkan efisiensi, dan memudahkan mencapai tujuan organisasi.

Secara khusus, kualitas berpengaruh pada perusahaan dalam hal-hal berikut :
1. Citra perusahaan
Kualitas produk dari suatu perusahaan akan berpengaruh terhadap reputasi perusahaan.
2. Keuntungan
Produk yang berkualitas baik akan disukai pelanggan, sehingga permintaan meningkat, yang selanjutnya mendorong ke arah peningkatan keuntungan dan pangsa pasar.
3. Produktivitas
Produktivitas dan kualitas saling berkaitan. Produk yang berkualitas rendah akan mempengaruhi produktivitas selama proses pembuatan.
4. Liabilitas
Perusahaan yang poduknya gagal atau menyebabkan masalah harus berani bertanggung jawab terhadap kerusakan atau kecelakaan yang terjadi atas penggunaan produk tersebut. Diatur dalam UU RI no.8 tentang Perlindungan Konsumen.

PENGERTIAN MANAJEMEN KUALITAS

Manajemen merupakan usaha mencapai tujuan melalui orang lain. Dalam mencapai tujuan tersebut kegiatan manajemen mempunyai beberapa fungsi yang harus dilaksanakan, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian. Manajemen juga mempunyai peran yang harus dimainkan.

Menurut Robbins (1996) peran manajemen tersebut meliputi:
(1) peran interpersonal, yang meliputi peran kepemimpinan, peran kepemimpinan yang hanya menggunakan nama pemimpin sebagai simbol, dan peran penghubung dengan pihak eksternal organisasi;
(2) peran informatif, yang meliputi peran untuk memonitor kegiatan dalam organisasi, peran penyebaran informasi kepada pihak internal dan eksternal organisasi, dan peran sebagai juru bicara ke pihak eksternal organisasi;
(3) peran pengambilan keputusan, yang meliputi peran kewirausahaan, peran penanganan gangguan baik dari dalam maupun dari luar organisasi, peran pengalokasian sumber daya, dan peran sebagai negosiator dengan pihak eksternal. Baik peran maupun fungsi manajemen tersebut memang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan melalui orang lain.

Sementara itu, menurut Gasperz (1997), manajemen kualitas dapat dikatakan sebagai semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan dan tanggung jawab, serta mengimplementasikannya melalui alat-alat manajemen kualitas, seperti perencanaan kualitas, pengendalian kualitas, penjaminan kualitas, dan peningkatan kualitas. Seluruh aktivitas tersebut ditujukan bagi pencapaian totalitas karakteristik produk dan proses untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Tanggung jawab untuk manajemen kualitas pada tahap awal perkembangannya ada pada departemen pengendalian kualitas. Namun, agar dapat mencapai kualitas yang baik dengan perbaikan kualitas secara terus-menerus dan berkesinambungan, tanggung jawab manajemen kualitas tersebut ada pada semua level manajemen dengan pengendali pada pimpinan puncak atau manajemen puncak. Pelaksanaan manajemen kualitas tersebut ada pada semua anggota organisasi.

PRINSIP MANAJEMEN KUALITAS

Terdapat delapan prinsip manajemen kualitas yang merupakan dasar dalam ISO 9000, sebagai berikut:
1. Fokus pada pelanggan
Organisasi bergantung pada pelanggan, oleh karenanya organisasi harus memahami kebutuhan masa kini dan masa mendatang dari pelanggannya, serta harus memenuhi dan berusaha melampaui harapan pelanggan. Kemampuan menarik perhatian, melayani dan memelihara pelanggan adalah tujuan teringgi dari perusahaan. Tanpa focus dan keterlibatan pelanggan, tujuan manajemen kualitas tidak berarti. Organisasi yang berfokus pada orientasi pelayanan sebagai perangkat utama dalam melaksanakan misinya.
2. Kepemimpinan
Pemimpin menetapkan kesatuan tujuan dan arah organisasi. Pemimpin puncak perlu menyusun visi perusahaan dengan jelas dan dilengkapi dengan sasaran dan tujuan yang konsisten dan didukung pula dengan perencanaan taktis dan strategis.
3. Pelibatan anggota
Anggota pada semua tingkatan merupakan inti suatu organisasi, dan pelibatan penuh mereka memungkinkan kemampuannya dipakai untuk manfaat organisasi. Para karyawan harus dilibatkan pada setiap proses untuk menyusun arah dan tujuan serta peralatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kualitas, sehingga setiap individu akan terlibat dan punya tanggung jawab untuk mencari perbaikan yang terus menerus terhadap proses yang berada pada lingkup tugasnya. Memperbaiki proses kerja hanya akan berhasil jika semua pihak, dari atas sampai kebawah dan juga persilangan antar fungsi, terlibat dalam perubahan.
4. Pendekatan proses
Pendekatan proses ialah suatau pendekatan untuk perencanaan, pengendalian, dan peningkatan proses-proses utama dalam perusahaan (trilogy proses kualitas) dengan menekankan pada keinginan pelanggan daripada keinginan fungsional. Orientasi proses ini memerlukan perubahan yang cukup signifikan, karena banyak manajemen yang lebih berorientasi pada produk daripada proses.
5. Pendekatan sistem pada manajemen
Sistem didefinisikan sebagai kumpulan dari berbagai bagian/komponen yang satu sama lain saling berhubungan dan saling tergantung untuk menuju tujuan. Pendekatan sistem memandang suatu organisasi secara keseluruhan daripada bagian-bagian, yang diekspresikan sebagai holistic.
6. Perbaikan berkesinambungan
Perbaikan berkesinambungan atas kinerja organisasi secara menyeluruh hendaknya dijadikan sebagai sasaran tetap dari organisasi. Proses berkesinambungan adalah prinsip dasar dimana kualitas menjadi pusatnya. Proses ini merupakan pelengkap dan yang menghidupkan prinsip orientasi proses dan prinsip fokus pada pelanggan.
7. Pendekatan fakta pada pengambilan keputusan
Keputusan yang efektif didasarkan pada analisis data dan informasi. Pengambilan keputusan yang dilakukan berdasarkan pendapat atau informasi lisan seringkali menimbulkan bias. Manajemen hendaknya membangun kebiasaan menggunakan fakta dan hasil analisis sebelum melakukan pengambilan keputusan. Fakta dapat diperoleh dengan wawancara, kuisioner, jajak pendapat, pengujian, analisis statistic, dan lain-lain yang memberikan hasil yang obyektif.
8. Hubungan yang saling menguntungkan dengan pemasok
Hubungan antara perusahaan dan pemasoknya yang saling bergantung dan saling menguntungkan akan meningkatkan kemampuan keduanya untuk menciptakan nilai. Organisasi manajemen kualitas yang sukses menjalin hubungan yang kuat dengan para pemasok dan pelanggan untuk menjamin terjadinya perbaikan kualitas secara berkesinambungan dalam menghasilkan barang dan jasa

SEJARAH MANAJEMEN KUALITAS

Sejarah perkembangan manajemen Kualitas berawal dari sebuah kegiatan Bangsa Mesir Kuno yang melakukan pengukuran terhadap dimensi batu-batu yang digunakan untuk membangun piramida. Pada masa modern, sejarah perkembangan manajemen kualitas dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tahun Perkembangan Manajemen Kualitas
1920-1940 Kelompok kualitas yang utama adalah inspeksi.
Para inspektor mengukur hasil produksi berdasarkan spesifikasi.
Pada masa ini ditemukannya konsep statistik dalam hal pengendalian variabel-variabel produk, seperti panjang, lebar, berat, tinggi dan pengambilan sampel untuk menguji penerimaan produk yang diprakarsai oleh Walter A. Stewart, H.F. Dodge, dan H.G. Romig.
1940-1985 Kelompok inspeksi berkembang menjadi pengendalian kualitas.
Tanggung jawab kualitas dialihkan ke bagian quality control independen.
Diperkenalkannya konsep total quality control yang pertama kali oleh Feigenbaum pada tahun 1960 yang kemudian dikembangkan menjadi total quality control organization wide di tahun 1970 dan menjadi konsep total quality system pada tahun 1983.
Pengendalian kualitas berkembang menjadi penjaminan kualitas yang berfokus kepada proses dan kualitas produk melalui pelaksanaan audit operasi, pelatihan analisis, kinerja teknis, dan petunjuk operasi untuk peningkatan kualitas.
Aspek kualitas mulai di evaluasi melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen kualitas.
1985-1990 Diperkenalkannya konsep total quality management oleh Frederick Taylor pada tahun 1990-an, yang dikenal dengan sebutan Father of scientific Management dan terkenal dengan teorinya Time and Motion Studies.
Total Quality Management berkembang menjadi Learning organization yang menggunakan filosofi continous quality improvement dan menggunakan konsep manajemen pengetahuan.
Abad 20- sekarang Dengan berkembangya teknologi informasi pada abad 20-an. Konsep manajemen kualitas di barengi dengan konsep e-learning atau electronics learning.

1. Inspeksi (Inspection)
Konsep kualitas modern dimulai pada tahun 1920-an. Kelompok kualitas yang utama adalah bagian inspeksi. Selama produksi, para inspektur mengukur hasil produksi berdasarkan spesifikasi. Bagian inspeksi ini tidak independen, biasanya mereka melapor ke pabrik. Hal ini menyebabkan perbedaan kepentingan. Seandainya inspeksi menolak hasil satu alur produksi
yang tidak sesuai maka bagian pabrik berusaha meloloskannya tanpa memperdulikan kualitas.
Ada beberapa orang ahli di bidang statistik antara lain Walter A. Sewhart (1924) yang menemukan konsep statistik untuk pengendalian variabel variabel produk, seperti panjang, lebar, berat, tinggi, dan sebagainya. Sedang H.F. Dodge dan H.G. Romig (akhir 1920) merupakan pelopor dalam pengambilan sampel untuk menguji penerimaan produk (acceptance
sampling).
2. Pengendalian Kualitas (Quality Control)
Pada tahun 1940-an, kelompok inspeksi berkembang menjadi bagian pengendalian kualitas. Adanya Perang Dunia II mengharuskan produk militer yang bebas cacat. Kualitas produk militer menjadi salah satu faktor yang menentukan kemenangan dalam peperangan. Hal ini harus dapat diantisipasi melalui pengendalian yang dilakukan selama proses produksi. Tanggung jawab kualitas dialihkan ke bagian quality control yang independen. Bagian ini memiliki otonomi penuh dan terpisah dari bagian pabrik. Para pemeriksa kualitas dibekali dengan perangkat statistika seperti diagram kendali dan penarikan sampel. Pada tahap ini dikenal seorang tokoh yaitu Feigenbaum (1983) yang merupakan pelopor Total Quality Control (1960). Sedang pada tahun 1970 Feigenbaum memperkenalkan konsep Total Quality Control
Organizationwide. Namun pada tahun 1983 Feigenbaum memperkenalkan konsep Total Quality System.
3. Penjaminan Kualitas (Quality Assurance)
Rekomendasi yang dihasilkan dari teknik-teknik statistik sering kali tidak dapat dilayani oleh struktur pengambilan keputusan yang ada. Pengendalian kualitas (quality control) berkembang menjadi penjaminan kualitas (quality assurance). Bagian penjaminan kualitas difokuskan untuk
memastikan proses dan kualitas produk melalui pelaksanaan audit operasi, pelatihan, analisis kinerja teknis, dan petunjuk operasi untuk peningkatan kualitas. Penjaminan kualitas bekerja sama dengan bagian-bagian lain yang bertanggung jawab penuh terhadap kualitas kinerja masing-masing bagian.

4. Manajemen Kualitas (Quality Management)
Penjaminan kualitas bekerja berdasarkan status quo, sehingga upaya yang dilakukan hanyalah memastikan pelaksanaan pengendalian kualitas, tapi sangat sedikit pengaruh untuk meningkatkannya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi persaingan, aspek kualitas harus selalu dievaluasi dan direncanakan perbaikannya melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen
kualitas.
5. Manajemen Kualitas Terpadu (Total Quality Management)
Dalam perkembangan manajemen kualitas, ternyata bukan hanya fungsi produksi yang mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap kualitas. Dalam hal ini tanggung jawab terhadap kualitas tidak cukup hanya dibebankan kepada suatu bagian tertentu, tetapi sudah menjadi tanggung jawab seluruh individu di perusahaan. Pola inilah yang disebut Total Quality Management yang berkembang kurang lebih pada tahun 1985. Sebenarnya, perkembangan konsep kualitas secara menyeluruh atau terpadu (total quality) sudah dimulai sejak awal tahun 1990-an oleh Frederick Taylor yang dikenal dengan sebutan father of scientific management dan terkenal dengan teorinya time and motion studies.
6. Organisasi Belajar (Learning Organization)
Learning Organization ini merupakan kelanjutan dari filosofi Total Quality Management dan mulai dikembangkan kurang lebih pada tahun 1990. Learning Organization juga menggunakan filosofi continuous quality improvement dan menggunakan konsep manajemen pengetahuan (knowledge management), karena untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan, organisasi atau perusahaan harus mampu mengelola pengetahuan yang dimilikinya.
7. World-Class Organization
Konsep dan filosofi ini berkembang mulai awal abad 20, di mana teknologi informasi sudah dikenal luas, semua orang dapat akses ke mana mana tanpa dipungut biaya yang berarti. Oleh sebab itu, dalam perkembangannya konsep dan filosofi ini dibarengi dengan konsep elearning
atau electronic learning.


MANFAAT MANAJEMEN KUALITAS

Manajemen kualitas adalah suatu filosofi yang mengintegrasikan beberapa fokus utama yaitu fokus pada pelanggan, proses kerja, kekuntungan, dan proses belajar yang berkelanjutan. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan manajemen kualitas terpadu ialah :
• Mengurangi biaya operasi
• Meningkatakan kepuasan pelanggan
• Meningkatkan moral perusahaan
• Membangun sebuah proses peningkatan yang bekelanjutan
• Menciptakan rekayasa ulang proses usaha
• Memperoleh/membangun keunggulan kompetitif
• Membangun dasar untuk mendapatkan pengakuan/sertifikasi
Manajemen kualitas dilakukan melalui proses yang membutuhkan keahlian serta instrumen pendukung yang meliputi pengumpulan dan pengukuran data, analisis akar masalah, kerjasama kelompok, pencurahan ide, peningkatan proses secara berkelanjutan, serta pemecahan konflik dan pembanguunan sinergi dalam organisasi.
Manajemen kualitas bukan hanya suatu filosofi melainkan juga penerapan prinsip-pronsip dan prektek yang mengacu pada perbaikan organisasi secara berkesinambiungan, manajemen kualitas melibatkan setiap orang yang ada di dalam organisasi dalam upaya mencapai tujuan jangka panjang dan sistematis untuk mengembangkan proses yang berorientasi kepada kebutuhan pelanggan. Kualitas mencakup semua aspek dari barang dan jasa dari sesuatu yang bernilai menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh pelanggan. Dapat disimpulkan bahwa manajemen kualitas merupakan suatu alat dimana melalui program itu organisasi bisa menciptakan dan menopang suatu budaya yang sepakat melakukan peningkatan yang berkesinambungan (continuous improvement).

STANDAR KUALITAS

Sekilas mendengar istilah standar kualitas, kita seringkali teringat akan satu istilah, yaitu ISO. ISO, Organisasi Internasional untuk Standardisasi yang berkantor pusat di Jenewa, merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM atau NGO = Non-Governmental Organization) penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standar nasional setiap negara yang bekerja sama telah menghasilkan lebih dari 17.000 standar internasional untuk bisnis, pemerintahan dan masyarakat umum.
Pada awalnya, singkatan dari nama lembaga tersebut adalah IOS dalam bahasa Inggris (International Organization for Standardization) atau OIN dalam bahasa Perancis (Organisation internationale de normalisation) sebelum akhirnya ditetapkan menggunakan nama ISO, diambil dari bahasa Yunaniisos yang berarti sama.
Didirikan pada 23 Februari 1947 di Jenewa, Switzerland. ISO menetapkan standar-standar industrial dan komersial dunia. ISO pada awalnya dibentuk untuk membuat dan memperkenalkan standardisasi internasional untuk apa saja. Standar yang sudah kita kenal antara lain standar jenis film fotografi, ukuran kartu telepon, kartu ATM Bank, ukuran dan ketebalan kertas dan lainnya. Dalam menetapkan suatu standar tersebut mereka mengundang wakil anggotanya dari 170 negara untuk duduk dalam Komite Teknis (TC = Technical Committee).
ISO 9001:2008 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen Kualitas / kualitas. ISO 9001:2008 menetapkan persyaratan – persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen kualitas. ISO 9001:2008 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan – persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah produk (barang atau jasa). ISO 9001:2008 hanya merupakan standar sistem manajemen kualitas. Namun, bagaimanapun juga diharapkan bahwa produk yang dihasilkan dari suatu sistem manajemen kualitas internasional, akan berkualitas baik (standar).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Quality Management Systems (ISO 9001:2008) adalah merupakan prosedur terdokumentasi dan praktek – praktek standar untuk manajemen sistem, yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu, dimana kebutuhan atau persyaratan tertentu tersebut ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi.
Manfaat Penerapan ISO 9001:2008 adalah :
• Meningkatkan kepercayaan pelanggan
• Jaminan kualitas produk dan proses
• Meningkatkan produktivitas perusahaan & “market gain”
• Meningkatkan motivasi, moral & kinerja karyawan
• Sebagai alat analisa kompetitor perusahaan
• Meningkatkan hubungan saling menguntungkan dengan pemasok
• Meningkatkan cost efficiency & keamanan produk
• Meningkatkan komunikasi internal
• Meningkatkan image positif perusahaan
• Sistem terdokumentasi
• Media untuk Pelatihan dan Pendidikan
Penerapan standar kualitas ISO dalam suatu perusahaan memegang peranan yang cukup penting, apalagi bagi perusahaan manufaktur yang memiliki pasar yang cukup luas. Terkadang pasar meminta produk yang sudah berstandar internasional.
Penerapan ISO bukan hanya sekedar mengumpulkan dokumen – dokumen pendukung, yang memang harus disediakan, melainkan penerapan langsung pada sistem yang ada dalam perusahaan. Dimulai dari sistem administrasinya, sistem produksinya, delivery-nya, hingga after sales service-nya. Semua harus memenuhi standar yang diterapkan.
Di Indonesia terdapat satu standar kualitas nasional, yang biasa kita kenal SNI. Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh BSN (Badan Standarisasi Nasional). Standar ini digunakan untuk men-standarkan produk masal yang nantinya akan digunakan oleh semua orang.
Coba perhatikan produk – produk seperti Helm, Tabung Gas LPG, konstruksi bangunan, dan masih banyak lagi, biasanya terdapat logo SNI. Artinya adalah produk-produk tersebut telah lulus uji standar nasional

Inti dari penarapan standar kualitas adalah terjaganya kualitas hasil dari suatu produk.
“Do what you write and write what you do” Semacam suatu sistem knowledge sharing yang memungkinkan setiap orang untuk menghasilkan yang sama dengan kualitas yang sama pula.

LANGKAH LANGKAH IMPLEMENTASI MANAJEMEN KUALITAS

Perkembangan dan pertumbuhan sebuah organisasi akan berjalan mulus ketika implementasi manajemen kualitas telah menjadi budaya perusahaan, dan terlaksana sampai dengan level paling bawah dari struktur organisasi. Beberapa langkah berikut yang perlu dijalankan secara konsisten dan serius menjadi tantangan tersendiri bagi industri dan manajemen bisnis.
1. Mengadopsi suatu standar sistem manajemen kualitas.
Ketika anda siap menjadi sebuah organisasi modern, maka perlu ditentukan dan ditetapkan jenis sistem manajemen kualitas yang akan dijalankan. Iso 9001 salah satunya yang sering dipergunakan banyak industri dan perusahaan.
2. Menetapkan suatu komitmen dari pemimpin senior organisasi (top management).
Keberhasilan sebuah sistem manajemen kualitas akan sangat dipengaruhi sejauh mana manajemen atas dan pemimpin senior mendukung penuh pelaksanaan sampai level terbawah. Pernyataan kebijakan kualitas organisasi adalah bentuk dari komitmen manajemen. Salah satu bentuk pernyataan kebijakan kualitas dapat dituangkan dalam surat keputusan direksi atau memo internal perusahaan. Dan berikutnya diikuti oleh langkah penerapan prosedur kerja yang konsisten dalam sikap dan perilaku kerja manajemen. Pernyataan kebijakan kualitas adalah deklarasi yang dikeluarkan pemimpin organisasi yang menyatakan komitmen organisasi terhadap system manajemen kualitas.
3. Menetapkan suatu kelompok kerja (working group) atau komite pengarah (steering committee).
Setelah ditetapkannya top management policy, langkah selanjutnya para manajer senior harus berpartisipasi aktif dan paham secara benar persyaratan standar dari sistem manajemen kualitas. Perlu anda tunjuk salah satu senior sebagai koordinator dalam pelaksanaan sistem manajemen kualitas. Koordinator akan menjadi fasilitator yang mengkoordinasikan pertemuan rutin manajemen dan menjadi wakil manajemen (management representative).
4. Menugaskan wakil manajemen (management representative).
Organisasi anda perlu mengangkat seseorang yang berkompeten dengan sistem manajemen kualitas dan lepas dari tanggung jawab lain serta perlu mendefinisikan tugas dan wewenang agar standar manajemen kualitas dapat diterapkan dan dipelihara. Wakil manajemen akan melapor kepada manajemen senior tentang implementasi sistem manajemen kualitas telah sesuai persyaratan standar dan terdokumentasikan dengan baik oleh semua fungsi organisasi.
5. Menetapkan tujuan kualitas dan implementasi sistem.
Tidak ada satu metode baku untuk implementasi sistem manajemen kualitas dalam organisasi. Program tersebut merupakan tanggung jawab semua level organisasi. Manajemen harus menetapkan tujuan dan sasaran secara efektif dan penerapan komunikasi, dokumentasi, koordinasi dan perencanaan serta pemantauan agar mencapai manfaat maksimal. Dalam suatu kasus dimana manajemen tidak bekerja efektif maka perlu diadakannya team building program untuk mengevaluasi pelaksanaan dan implementasi.
6. Meninjau ulang sistem manajemen kualitas yang ada.
Audit sistem atau penilaian terhadap sistem manajemen kualitas yang ada sebelumnya menjadi acuan anda untuk menetapkan standar baru dalam manajemen kualitas yang akan dijalankan. Penyimpangan dan perbedaan yang terjadi perlu perbaikan.
7. Mendefinisikan struktur organisasi dan tanggung jawab.
Manajemen kualitas akan menjadi sebuah kesempatan bagi anda melakukan evaluasi dan tinjauan ulang struktur organisasi yang ada. Peranan setiap personel dalam organisasi dapat dinilai dan jika perlu dilakukan restrukturisasi. Deskripsi kerja ditinjau ulang dengan menggunakan format standar meski tidak mutlak.
Implementasi manajemen kualitas merupakan tanggung jawab seluruh level organisasi dan merupakan kebijakan krusila dari top management agar dapat terlaksana dan menjadi budaya organisasi.

KESIMPULAN

Pengertian Manajemen Kualitas adalah sekumpulan kegiatan manajerial seperti merencanakan kualitas, mengorganisasi kualitas, mengkoordinasi kualitas, mengendalikan dan mengevaluasi kualitas yang dilakukan oleh setiap fungsi manajemen yang ada dalam organisasi untuk meningkatkan kinerja dalam artian kualitas kerja. Sekumpulan kegiatan baru dapat dikatakan sebagai manajemen kualitas bila manajemen puncak menjadikan kualitas sebagai sasaran dalam rencana bisnis dan menjabarkannya dalam sasaran dan rencana tahunan yang tersosialisasi sampai tingkat pengambil tindakan.
Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi, juga berimbas pada perkembangan pesat di bidang manajemen kualitas. Saat ini, konsep manajemen kualitas berkembang bersama dengan berkembangnya konsep e-learning atau electronics learning. Aplikasi manajemen kualitas menjadi lebih canggih dengan memanfaatkan teknologi informasi. Mulai dari bagaimana persoalan kualitas diidentifikasi, bagaimana perencanaan kualitas disusun hingga bagaimana pengendalian kualitas dilakukan, semuanya dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Kualitas dalam era globalisasi telah menjadi harapan dan keinginan semua orang khususnya pelanggan. Oleh karena itu, para pelaku bisnis dan produsen harus terus berusaha mengembangkan konsepsi dan teknologi kualitas sejalan dengan trend globalisasi. Bahkan banyak perusahaan yang secara progresif mencari pola manajemen yang dianggap paling efektif untuk menyiasati kualitas dalam era globalisasi. Pola manajemen kualitas yang dianggap paling efektif tersebut harus mampu menjadi strategi kompetisi yang paling dapat diandalkan.
Bagi perusahaan/organisasi yang ingin memenangkan persaingan dalam meraih laba/manfaat, maka tidak ada jalan lain kecuali harus menerapkan Total Quality Management. Philip Kolter mengatakan : “Quality is our best assurance of custemer allegiance, our strongest defence against foreign competition and the only path to sustair growth and earnings”. Dengan demikian secara teoritik dapat diduga adanya hubungan yang erat antara kualitas produk (barang dan jasa), kepuasan pelanggan, dan laba perusahaan. Makin tinggi kualitas suatu produk, makin tinggi pula kepuasan pelanggan dan pada waktu yang bersamaan akan mendukung harga yang tinggi dan seringkali biaya rendah. Oleh karena itu program perbaikan kualitas bertujuan menaikkan laba.

DAFTAR PUSTAKA

Alwie, A. F. (2010, Agustus 26). Modul Manajemen Mutu (online). https://www.scribd.com/doc/36435927/Modul-Manajemen-Kualitas (diakses 10 November 2018)

Anonim, (5 Mei 2013). Berikut Langkah Awal bagi Anda untuk Implementasi Quality Management System (online) http://ikhtisar.com/langkah-awal-implementasi-sistem-manajemen-kualitas/. (diakses 10 November 2018)

Ariani, D. W. Manajemen Kualitas (online). http://repository.ut.ac.id/4792/1/EKMA4265-M1.pdf (diakses 10 November 2018)

Assauri, S. (2003). Customer Service yang Baik Landasan Pencapaian Customer Satisfaction. (online) USAHAWAN NO. 01 TH XXXII JANUARI 2003, 25. https://www.scribd.com/doc/75749420/sofjan-assauri (diakses 10 November 2018)

Damayanti, L.P (2013). Analisis Kasus Bangkrutnya Eastman Kodak Corporation (online).
https://www.scribd.com/doc/173769604/analisis-kasus-bangkrutnya-kodak (diakses 10 November 2018)

Herjanto, E. (2008). Manajemen Operasi Edisi Ketiga. Jakarta: PT Grasindo.

Poerwanto, G. H. (2016). Pengertian, Sejarah Dan Arti Penting Manajemen Kualitas (online) Universitas Sanata Dharma: https://sites.google.com/site/kelolakualitas/Manajemen-Kualitas. (diakses 10 November 2018)

Seiei, S.F. (2012). Definisi Mutu Menurut Para Ahli (online). https://www.scribd.com/doc/114131321/Definisi-Kualitas-Menurut-Para-Ahli. (diakses 10 November 2018)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

You might also like

MENGENAL GENERASI MILENIAL DALAM PENGADAAN SUMBER DAYA MANUSIA STUDI KASUS KASKUS DISCLAIMER : MOHON CANTUMKAN SUMBER TULISAN : PENULIS : DINI SUSANTI, http://dini.isnandi.net/2019/03/08/mengenal-generasi-milenial-dalam-pengadaan-sumber-daya-manusia-studi-kasus-kaskus/ MENGENAL...
Berapa Harga Anak Kita? BERAPA HARGA ANAK KITA ? Share dari Ummu Rum Berapa harga anakmu? Nilai anak tak bisa diukur dengan...
hai again.. long time.. ga ada tulisan disini, bukan berarti aku stop menulis, hanya saja banyak yang menjadi fokus...
KOMPETENSI KEPEMIMPINAN DI ERA INDUSTRI 4.0 DISCLAIMER : MOHON CANTUMKAN SUMBER TULISAN : PENULIS : DINI SUSANTI, http://dini.isnandi.net/2019/03/08/kompetensi-kepemimpinan-di-era-industri-4-0/ KOMPETENSI...
Grab This Widget

No responses yet

Leave a Reply