KOMPETENSI KEPEMIMPINAN DI ERA INDUSTRI 4.0

Mar 08 2019

DISCLAIMER :
MOHON CANTUMKAN SUMBER TULISAN : PENULIS : DINI SUSANTI, http://dini.isnandi.net/2019/03/08/kompetensi-kepemimpinan-di-era-industri-4-0/

KOMPETENSI KEPEMIMPINAN DI ERA INDUSTRI 4.0

LATAR BELAKANG

Kemajuan teknologi telah mengubah wajah perekonomian, khususnya di sektor industri dan perdagangan. Teknologi yang berkembang dengan begitu pesat telah membawa perubahan drastis. Fenomena yang mewarnai perkembangan peradaban Revolusi Industri 4.0, dengan dukungan kemajuan teknologi akan membawa pada kondisi transisi revolusi teknologi, yang secara fundamental akan mengubah cara hidup, bekerja, dan relasi organisasi dalam berhubungan satu sama lain.
Salah satu fase penting dalam perkembangan teknologi adalah munculnya revolusi industri gelombang ke-4, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Industrial Revolution 4.0. Studi menyebutkan istilah revolusi industri 4.0 pertama kali muncul pada 2012, ketika pemerintah Jerman memperkenalkan strategi pemanfaatan teknologi yang disebut dengan Industrie 4.0. Revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan robotisasi dan digitalisasi telah memunculkan penemuan baru seperti mobil tanpa pengemudi, robot pintar, artificial intellegent, dan lain sebagainya.
Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan dan komputasi kognitif. Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai. Suatu teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik digital dan biologi dengan cara yang fundamental akan mengubah umat manusia.
Proses bisnis di dunia industri mulai bergeser ke arah digital. Perubahan bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif ini, mensyaratkan pemimpin untuk bersikap lebih responsif terhadap perubahan, serta mampu berpikir secara out of the box untuk membawa arah perusahaan agar tetap dapat bertahan. Proses adaptasi perusahaan terhadap perubahan yang begitu cepat perlu diantisipasi juga dengan cepat oleh semua pihak yang terlibat. Salah satu cara mengantisipasi kecepatan perubahan ini adalah dengan bekerja bersama-sama oleh pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Dalam persiapan Era Industri 4.0, peningkatan kualitas dari Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi agenda penting perusahaan, yaitu dengan pelaksanaan berbagai pelatihan, pendidikan dan sertifikasi profesi pelayanan, aktuaria dan manajemen risiko.
Menurut Country HR Director General Electric Indonesia Rudi Afandy , teknologi berubah secara eksponensial, namun sayangnya organisasi masih tumbuh secara logaritma. Dalam konteks ini, Human Resources (HR) sebagai penanggung jawab Sumber Daya Manusia (SDM) dalam suatu organiasi perlu jeli.
Melihat kebutuhan dan perkembangan yang ada, perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam membangun hubungan dengan karyawan yang mereka miliki. Bahkan, perlu ada penekanan bahwa HR bukan lagi sekadar personalia, pengembangan, pendukung, atau bahkan partner semata. HR saat ini diharapkan bisa menjadi business player yang menentukan pertumbuhan dan arah bisnis. Tidak hanya berfokus pada pengembangan karyawan semata, tetapi juga menyiapkan pemimpin yang hebat, tangguh, dan bisa membawa organisasi melewati berbagai tantangan yang muncul. Pemimpin yang mampu menggerakkan energi, aksi, dan konsisten menciptakan perubahan sekaligus memenangkannya.
Syarat utama untuk itu, adalah munculnya kepercayaan dan rasa saling menghormati tim kepadanya. Karena itu, diperlukan essential leadership. Dengan perpaduan dua hal yakni memiliki pemimpin yang hebat, dan karyawan yang sesuai dengan perubahan niscaya sebuah perusahaan atau organisasi tidak lagi gagap menyambut era revolusi industri 4.0

PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Konsep kepemimpinan merupakan komponen fundamental di dalam menganalisis proses dan dinamika di dalam organisasi. Menurut Katz dan Kahn (dalam Watkin, 1992) berbagai definisi kepemimpinan pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok besar yakni “sebagai atribut atau kelengkapan dari suatu kedudukan, sebagai karakteristik seseorang, dan sebagai kategori perilaku”.
Pengertian kepemimpinan sebagai atribut atau kelengkapan suatu kedudukan, diantaranya dikemukakan oleh Janda (dalam Yukl, 1989) sebagai berikut. “Leadership is a particular type of power relationship characterized by a group member’s perception that another group member has the right to prescribe behavior patterns for the former regarding his activity as a group member”. (Kepemimpinan adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang ditentukan oleh anggapan para anggota kelompok bahwa seorang dari anggota kelompok itu memiliki kekuasaan untuk menentukan pola perilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai anggota kelompok, pen.).
Selanjutnya contoh pengertian kepemimpinan sebagai karakteristik seseorang, terutama dikaitkan dengan sebutan pemimpin, seperti dikemukakan oleh Gibson, Ivancevich, dan Donnelly (2000) bahwa “Leaders are agents of change, persons whose act affect other people more than other people’s acts affect them”, atau pemimpin merupakan agen perubahan, orang yang bertindak mempengaruhi orang lain lebih dari orang lain mempengaruhi dirinya.
Adapun contoh pengertian kepemimpinan sebagai perilaku dikemukakan oleh Sweeney dan McFarlin (2002) yakni: “Leadership involves a set of interpersonal influence processes. The processes are aimed at motivating sub-ordinates, creating a vision for the future, and developing strategies for achieving goals”, yang dapat diartikan bahwa kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang. Proses tersebut bertujuan memotivasi bawahan, menciptakan visi masa depan, dan mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan.
Sehubungan dengan ketiga kategori pengertian di atas, Watkins (1992) mengemukakan bahwa “kepemimpinan berkaitan dengan anggota yang memiliki kekhasan dari suatu kelompok yang dapat dibedakan secara positif dari anggota lainnya baik dalam perilaku, karakteristik pribadi, pemikiran, atau struktur kelompok”. Pengertian ini tampak berusaha memadukan ketiga kategori pemikiran secara komprehensif karena dalam definisi kepemimpinan tersebut tercakup karakteristik pribadi, perilaku, dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Berdasarkan pengertian tersebut maka teori kepemimpinan pada dasarnya merupakan kajian tentang individu yang memiliki karakteristik fisik, mental, dan kedudukan yang dipandang lebih daripada individu lain dalam suatu kelompok sehingga individu yang bersangkutan dapat mempengaruhi individu lain dalam kelompok tersebut untuk bertindak ke arah pencapaian suatu tujuan.

KOMPETENSI KEPEMIMPINAN

Prof. Dr. M.H. Matondang, SE, MA dalam bukunya menyatakan ada 10 jenis kecerdasan yang dapat dipelajari oleh calon pemimpin terutama dalam menghadapi abad 21 yaitu pemimpin yang memiliki ”Multi Intelligent”. Hal ini tercermin dari mutu kepemimpinannya yang memiliki sikap, perilaku, tindakan serta hati nuraninya menjadi lebih baik dan benar karena dia mampu menggunakan berbagai jenis kecerdasan seperti:
(1) Kecerdasan Tradisional (IQ) maka dia dapat berpikir baik,
(2) Kecerdasan Emotional-EQ (Good Loving),
(3) Kecerdasan Ragawi (Good Acting), dan
(4) Kecerdasan Spiritual (SQ) pemimpin yang memuliakan Tuhan
Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994), dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik, diperlukan kompetensi kepemimpinan berupa conception yang tepat, competency yang cukup, connection yang luas, dan confidence.
Menurut Bennis dan Burt Nanus (1985) bahwa kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dengan attention (vision), meaning (communication), trust (emotional glue), and self (commitment, willingness to take risk)
Menurut Peter F. Drucker, pemimpin seharusnya memiliki minimal 3 bidang kemampuan/kompetensi yaitu: Kemampuan pribadi, memiliki integritas tinggi, memiliki visi yang jelas, intelegensia tinggi, kreatif dan inovatif, tidak mudah merasa puas, fleksibel dan memiliki kematangan jiwa, sehat jasmani dan rohani, wibawa dan kharismatik, mempunyai idealisme dan cinta tanah air.
Kemampuan kepemimpinan (Leadership Mastery), memiliki kemampuan memotivasi orang lain, membuat keputusan yang cepat dan tepat, mempengaruhi orang lain, mengelola konflik, berorganisasi, memimpin tim kerja, mengendalikan stress dan keterampilan berkomunikasi.
Kemampuan berorganisasi (Organizational Mastery), yang memiliki kemampuan mengembangkan organisasi, manajemen startegik, meraih peluang, mengadakan pengkaderan generasi penerus , memahami aspek makro dan mikro ekonomi dan keterampilan operasional.
Kadar kompetensi kepemimpinan seseorang dapat dipelajari melalui 4 (empat) tingkatan kemampuan yaitu:
1) tingkat pertama, yaitu seseorang tidak memiliki pengetahuan banyak tentang kopentensi kepemimpinan, dan tidak peka untuk mengembangkan kompetensi tersebut, mungkin karena mereka tidak pernah mencoba menjadi pemimpin,
2) tingkat kedua, yaitu seseorang menjadi sadar apa yang diperlukan untuk mengerjakan sesuatu secara baik, tetapi masih merupakan kompetensi yang masih bersifat personal. Dengan berlatih seseorang akan lebih peka dan sadar tentang hal yang benar juga penting dilakukan untuk kemudian secara gradual diubah menjadi kompetensi kepemimpinan,
3) tingkat ketiga, yaitu kepemimpinan atau kompetensi akan sesuatu hal menjadi suatu kenikmatan yang sempurna. Anda akan menerima feed back positif dari kemampuan skill dan kepekaan tentang seberapa baik keadaan seseorang yang akan segera berlanjut ke tingkat empat,
4) tingkat keempat, yaitu kemampuan kepemimpinan atau skill menjadi bagian diri seseorang dan akan tampak secara alami. Seseorang yang yang dilahirkan dari pada bagaimana ia dibentuk atau bahwa seseorang pemimpin alami, itu berarti orang tersebut dapat langsung beroperasi menjadi pemimpin tanpa melalui tahap 3.
Dari penjelasan di atas, kita dapat diketahui pada tingkat berapa kompetensi kepemimpinan seseorang berada, dan yang paling terpeting bahwa seorang ”Pemimpin” seharusnya memiliki komitmen organisasional yang kuat, visionary, disiplin diri yang tinggi, tidak melakukan kesalahan yang sama, antusias, berwawasan luas, kemampuan komunikasi yang tinggi, manajemen waktu, mampu menangani setiap tekanan, mampu sebagai pendidik bagi bawahannya, empati, berpikir positif, memiliki dasar spiritual yang kuat, dan selalu siap melayani. Disamping itu harus memiliki kemampuan pribadi, kemampuan kepemimpinan dan kemampuan berorganisasi dengan mutu kepemimpinannya yang memiliki sikap, perilaku, tindakan serta hati nuraninya dengan kemampuan IQ, IE, SQ dan kecerdasan ragawi.

PENGERTIAN INDUSTRI 4.0

Istilah Industri 4.0 secara resmi lahir di Jerman tepatnya saat diadakan Hannover Fair pada tahun 2011 (Kagermann dkk, 2011). Negara Jerman memiliki kepentingan yang besar terkait hal ini karena Industri 4.0 menjadi bagian dari kebijakan rencana pembangunannya yang disebut High-Tech Strategy 2020. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan Jerman agar selalu menjadi yang terdepan dalam dunia manufaktur (Heng, 2013). Beberapa negara lain juga turut serta dalam mewujudkan konsep Industri 4.0 namun menggunakan istilah yang berbeda seperti Smart Factories, Industrial Internet of Things, Smart Industry, atau Advanced Manufacturing.
Meski memiliki penyebutan istilah yang berbeda, semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan daya saing industri tiap negara dalam menghadapi pasar global yang sangat dinamis. Kondisi tersebut diakibatkan oleh pesatnya perkembangan pemanfataan teknologi digital di berbagai bidang.
McKinsey mendefinisikan Industri 4.0 sebagai proses digitalisasi sektor manufaktur dengan berbagai macam sensor tertanam di hampir semua komponen produk dan peralatan manufaktur yang terlibat sistem siber-fisik (CPS, Cyber-Physical System) dimana-mana, dengan kemampuan analisis dari semua data yang berhubungan dengan proses yang ada (Sadiyoko, 2017). Istilah Industry 4.0 lebih dikhususkan pada kejadian di sektor manufaktur. Industri 4.0 berfokus pada penciptaan suatu produk prosedur dan proses manufaktur yang cerdas.
Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.
1) Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP). IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran
2) Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.
3) Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.
4) Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

SEJARAH INDUSTRI 4.0

Secara singkat Periodisasi Revolusi Industri bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Revolusi Industri Gelombang ke-1 (Industrial Revolution 1.0). Terjadi pertama kali di Inggris, kemudian menyebar ke daratan Eropa dan Amerika pada pertengahan abad ke-17 dengan ditemukannya produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap.
2. Revolusi Industri Gelombang ke-2 (Industrial Revolution 2.0). Merupakan lanjutan revolusi sebelumnya, yang terjadi pada pertengahan abad ke-18 di Eropa. Revolusi ini ditandai dengan pemanfaatan tenaga listrik (electricity) untuk mempermudah serta mempercepat proses produksi, distribusi, dan perdagangan. Disebut juga fase pesatnya industrialisasi, ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam, penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lainnya.
3. Revolusi Industri Gelombang ke-3 (Industrial Revolution 3.0). Berkembang pada era 1970’an, terutama di Amerika Serikat, dengan diperkenalkannya sistem teknologi informasi (IT) dan komputerisasi untuk menunjang otomatisasi produksi (production automation). Tidak seperti dua revolusi industri sebelumnya yang memerlukan beberapa dekade untuk menyebar, revolusi gelombang ke-3 ini menyebar begitu cepat ke negara-negara lain, dari daratan Eropa hingga Asia.
4. Revolusi Industri Gelombang ke-4 (Industrial Revolution 4.0). Era 2000’an hingga saat ini merupakan era penerapan teknologi modern, antara lain teknologi fiber (fiber technology) dan sistem jaringan terintegrasi (integrated network), yang bekerja di setiap aktivitas ekonomi, dari produksi hingga konsumsi.
Dalam salah satu studinya, the World Economic Forum (WEF) menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 ditandai oleh pembauran (fusion) teknologi yang mampu menghapus batas-batas penggerak aktivitas ekonomi, baik dari perspektif fisik, digital, maupun biologi.
Dengan bahasa yang lebih sederhana bisa dikatakan bahwa pembauran teknologi mampu mengintegrasikan faktor sumberdaya manusia, instrumen produksi, serta metode operasional, dalam mencapai tujuan.

KARAKTERISTIK INDUSTRI 4.0

Karakteristik revolusi industri 4.0 ditandai dengan berbagai teknologi terapan (applied technology), seperti advanced robotics, artificial intelligence, internet of things, virtual and augmented reality, additive manufacturing, serta distributed manufacturing yang secara keseluruhan mampu mengubah pola produksi dan model bisnis di berbagai sektor industri.
Adapun pengertian dari istilah-istilah tersebut adalah:
1. Advanced Robotics. Instrumen ini merupakan peralatan yang digunakan secara mandiri, yang mampu berinteraksi secara langsung dengan manusia, serta menyesuaikan perilaku berdasarkan sensor data yang diberikan. Fungsi utamanya adalah untuk memperpendek waktu tunggu dan waktu layanan, sehingga menghasilkan efisiensi.
2. Artificial Intelligence (AI). AI adalah sistem mesin berteknologi komputer yang mampu mengadopsi kemampuan manusia. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas, sekaligus meminimalisir risiko kesalahan yang bisa dilakukan oleh tenaga kerja manusia.
3. Internet of Things (IoT). IoT merupakan teknologi yang memungkinan setiap instrumen terkoneksi satu sama lain secara virtual, sehingga mampu mendukung kinerja operasioanal usaha, pengawasan terhadap perfoma manajemen, serta peningkatan nilai guna output.
4. Virtual and Augmented Reality. Virtual Reality merupakan simulasi yang dilakukan oleh komputer dalam membentuk sebuah realitas rekaan. Teknologi ini mampu memanipulasi penglihatan manusia sehingga seolah-olah berada di tempat atau lingkungan yang berbeda dari kenyataan sesungguhnya. Sementara Augmented Reality adalah teknologi yang mampu menghasilkan informasi dari kondisi lingkungan sebenarnya, lalu diproses secara digital dan digunakan untuk tujuan tertentu.
5. Additive Manufacturing. Teknologi ini merupakan otomatisasi proses produksi melalui teknologi 3D (three dimensional). Hal ini memberi pengaruh positif pada kecepatan pengolahan dan transportasi produk.
6. Distributed Manufacturing. Merupakan konsep penempatan lokasi produksi dan pengintegrasian proses produksi, sehingga bisa berada sedekat mungkin dengan konsumen untuk menjawab kebutuhan riil mereka. Tujuannya adalah untuk mencapai economies of scale, sekaligus mengurangi beban biaya (cost efficiency).
Melalui penerapan teknologi modern, sektor industri tidak lagi semata-mata berfokus pada pengembangan usaha dan peningkatan laba, melainkan juga pada pendayagunaan dan optimalisasi setiap aktivitas, mulai dari pengadaan modal, proses produksi, hingga layanan kepada konsumen (World economic Forum. Impact of the Fourth Industrial Revolution on Supply Chains, October, 2017).

KONSEP KEPEMIMPINAN DI ERA INDUSTRI 4.0

Tren pengembangan kepemimpinan tidak hanya cukup belajar dan paham konsep kepemimpinan namun harus juga menguasai berbagai teknik atau tools soft-skill yang relevan, disesuaikan dengan posisi, situasi dan tantangan yang dihadapi perusahaan.
Setiap orang memiliki potensi kepemimpinan dalam dirinya (Born), namun untuk menghadapi konteks dan tantangan yang semakin meningkat perlu pengembangan (Made), artinya kebutuhan dan kemauan belajar harus datang dari dalam diri seseorang (horizontal) dan setiap pemimpin maupun diatasnya lagi akuntable terhadap program kepemimpinan (vertikal).
Program pengembangan kepemimpinan bukan hanya milik divisi SDM atau di drive oleh HR, namun menjadi kebutuhan setiap orang dalam organisasi/perusahaan. Pengembangan kepemimpinan secara individual sudah tidak cukup, diperlukan lingkungan yang menumbuh suburkan kepemimpinan yaitu pengembangan kepemimpinan kolektif dalam perusahaan.
Pemahaman tentang apa itu kepemimpinan dapat dilihat dari interaksi ke tiga hal: Sosok pemimpin, pengikut dan konteks. Sehingga definisinya bisa di lihat dari sisi sifat-sifat seorang pemimpin, perilaku pemimpin, atau interaksi antara pemimpin dengan pengikut pada konteks tertentu. Sedemikian luasnya definisi kepemimpinan, pada sesi ini hanya akan di bahas pemimpin dalam konteks organisasi bisnis.
Pemahaman kepimpinan dimasa lalu sudah tidak memadai lagi, perlu peningkatan kapabilitas yang lebih tinggi. Era revolusi industri 4.0/Digital, pengaruh global, makro dan mikro situasi, membuat bisnis semakin complex, semakin sulit diprediksi dan berubah dengan cepat.
Untuk mensiasati tantangan ini diperlukan visi yang kuat sesuai dengan konteks, penguasaan kekuatan informasi agar memiliki pemahaman tinggi terhadap situasi. Perjelas dengan penggunaan model, frame work, simplifikasi dan kreatif dan inovatif dalam mencari taktik solusi terbaik sehingga gesit dan adaptif terhadap perubahan.

Menurut survey di temukan bahwa 40% pemimpin baru mengalami kegagalan dalam kurun waktu 18 bulan pertama. Pemimpin baru yang di rekrut dari luar perusahaan, 2 kali kemungkinan gagal dibanding dengan promosi pemimpin secara internal. Menurut Aberdeen kepemimpinan saat ini hanya 2% perusahaan merasa bahwa mereka memiliki program pengembangan kepemimpinan yang baik.
Kalaupun ada program, ternyata hanya mampu memenuhi 2/3 kebutuhan pemimpin dimasa depan. “Kepemimpinan adalah tantangan terbesar bagi banyak organisasi bisnis dalam situasi saat ini dan dimasa depan”.
Banyak kepemimpinan yang tidak efektif, menurut riset akar masalahnya dapat dibagi menjadi 2 faktor:
1. Lemahnya kemampuan kepemimpinan: Tidak dididik kepemimpinan sebelum promosi atau lupa dididik setelah duduk di posisi.
2. Lemahnya kemampuan Soft-skill: Belajar konsep kepemimpinan namun tidak dilengkapi dengan tools kepemimpinan seperti Influencing, Persuasive, Assertive communication skill, Coaching skill, People Skill etc.
“Kontribusi kompetensi teknis hanya 10 % terhadap kegagalan pemimpin, selebihnya adalah Soft skill, berita bagusnya Soft–skill dapat dipelajari”.
Menurut riset Harvard University dan Carnegie Foundation dan Stanford research center semua menyimpulkan bahwa 15 % sukses dalam pekerjaan datang dari teknikal skill dan pengetahuan dan 85% dari soft skill yang di develop dengan baik dan kemampuan people skill.
Melihat tren digital yang semakin meningkat saat ini ada 5 alasan mengapa soft skill semakin penting, yaitu:
1. Teknikal skill tanpa soft skill menjadi kurang bermanfaat. Produk Knowlegde hebat menjadi tidak berarti tanpa communication skill
2. Soft skill lebih sulit dipelajari. Teknikal skill lebih mudah dipelajari dan cepat terlihat hasilnya, harus sadar kemampuan soft skill saat ini masih rendah dan butuh.

3. Lingkungan kerja modern membutuhkan Soft Skill. Kolaborasi, networking, interaksi dan suasana yang mendukung kreatifitas dan inovasi. Sangat diperlukan dalam konteks bisnis.
4. Customer membutuhkan soft skill. Bersaing di Keunggulan produk dan harga mudah di tiru, kedekatan hubungan, trust, pelayanan yang jadi pembeda.
5. Era digital semakin membutuhkan soft skill. Akan semakin banyak manual menjadi otomatis, perkerjaan diambil alih oleh teknologi, Soft– skill lah pembedanya.
Memasuki era digital sebagai pemimpin perlu menguasai kemampuan soft skill 3 C: Complex problem solving, Critical thingking dan Creativity (Balance Right & Left Brain function) selain kompetensi soft –skill lain sebagai tools kepemimpinan yang revelan dengan kebutuhan dan tantangan dalam perusahaan. Ada beberapa pergeseran konsep kepemimpinan di dunia digital

Tahun 2015
Complex Problem solving
Coordinating with others
People Management
Critical Thinking
Negotiation
Quality Control
Service Orientation
Judgment and Decision Making
Active Listening
Creativity Tahun 2020
Complex Problem Solving
Critical Thinking
Creativity
People Management
Coordinating with Others
Emotional Intelligence
Judgment and Decision Making
Service Orientation
Negotiation
Cognitive Flexibility

FAKTOR KUNCI BAGI PEMIMPIN ERA 4.0

Berikut beberapa faktor kunci yang perlu dimiliki sebagai leader di Era Industri 4.0 ini:
1) Leader yang dapat menyatukan dan memberikan arah tujuan yang jelas. Disini sangatlah penting untuk seorang leader untuk dapat berkomunikasi, membuat tim merasa aman, membuat sebuah engagement dan menjadi sebuah komunitas yang searah.
Memiliki sebuah cetak biru yang dipahami, dimengerti dan diimani oleh seluruh anggota organisasi. Leader harus dapat membuat kepercayaan didalam diri tim. Dan yang terpenting leader yang kuat, memiliki visi yang bukan sekedar visi untuk perusahaan, tetapi juga yang lebih besar dari itu, yang memiliki pengaruh untuk seluruh timnya, lingkungan sekitarnya, bahkan dunia.
2) Leader yang memiliki kecepatan dalam membuat keputusan. Di era 4.0 ini, segala sesuatunya berubah dengan cepat.
Jaman dimana leader hanya berada di kantor dengan komputer dan bekerja dengan data setelah terkumpul sudah dirasa lambat. Leader harus turun dan melihat.
Leader perlu mengevaluasi dan mengontrol tim bersama sama, feedback atau masukan perlu dilakukan secara konstan dan terintegrasi bukan hanya secara internal tetapi juga terhubung dengan pihak eksternal seperti klien dan supplier.
Leader juga harus berani, mau menerima, mendorong, dan memotivasi tim untuk memberikan feedback terhadap kepemimpinannya demi kemajuan bersama. Akan lebih baik ketika Leader juga dapat menantang dirinya untuk keluar dari zona nyaman dengan melakukan coaching dan menerima feedback dari orang diluar organisasi .
3) Leader yang dapat memilih dan mengembangkan talent. Generasi dimana pekerja loyal dan setia bekerja pada 1 perusahaan sudah mulai tergantikan dengan generasi yang mudah bosan dan mobile.
Generasi yang lebih memilih untuk bekerja secara bebas, menjadi entrepreneur sendiri dan tidak terikat oleh 1 perusahaan.
Mengingat tingginya turnover karyawan, yang dapat dilakukan sebagai seorang leader adalah bukan hanya perlu untuk dapat memilih talent yang tepat, tetapi juga perlu untuk mendevelop talent dengan cepat sehingga mereka dapat lebih loyal dan juga produktif lebih lama di perusahaan, karena banyak cara untuk dapat memilih diantaranya Group Interview, NLP, dan Face Reader.
Leader dan Organisasi yang tidak beradaptasi dengan cepat dari pemikiran tradisional akan punah. Perusahaan yang bergerilya yang terkoneksi, berkolaborasi, yang terus belajar, terbuka akan perubahan, yang memiliki tim yang bergairah dan semangat maju, yang memiliki dan mengadaptasi teknologi atau cara yang lebih maju akan menjadi pimpinan di Industrinya.

STRATEGI KEPEMIMPINAN MENUJU ERA INDUSTRI 4.0

Seringkali infrastruktur yang luas yang mendasari peradaban industri mengalami transformasi yang dramatis. Tetapi perubahan seperti itu tampaknya terjadi sekarang.
Dalam gelombang besar perubahan teknologi, sensor menyebar melalui pabrik dan gudang, perangkat lunak memprediksi perlunya perawatan sebelum mesin rusak, jaringan listrik dan dok pemuatan menjadi cerdas, dan komponen yang dirancang khusus sedang diproduksi sesuai permintaan.
Para pemimpin revolusi industri berikutnya adalah perusahaan yang membuat kemajuan di bidang-bidang seperti robotika, pembelajaran mesin, fabrikasi digital (termasuk pencetakan 3D), Internet Industri, Internet of Things (IoT), analitik data dan blockchain (sistem terdesentralisasi, verifikasi transaksi otomatis). Karena semua teknologi ini memperkuat dampak orang lain, mereka mengarah ke tingkat kemahiran baru, dan jenis peluang dan tantangan baru untuk bisnis dan untuk masyarakat luas.
Salah satu indikator kunci adalah bahwa batas-batas konvensional di antara industri-industri sedang mengikis. Semakin sulit untuk membedakan antara, perusahaan telekomunikasi dan produsen hiburan, atau antara bank ritel dan toko ritel. Hubungan di antara pemasok, produsen, dan konsumen juga kabur, lebih cepat daripada banyak pengambil keputusan bisnis yang dipersiapkan.
Pemimpin perusahaan besar atau kecil, diharapkan untuk memainkan peran penting dalam revolusi industri, memanfaatkan kekuatan yang ada saat mengembangkan kecakapan digital dan keterampilan pribadi, menyeimbangkan ketajaman teknologi yang dibutuhkan dengan keterampilan manajerial untuk menjadi pemimpin pasar sejati di bidang ini, dan dapat membantu masyarakat yang lebih luas menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh teknologi ini – masalah yang terkait dengan privasi, pekerjaan, kesetaraan pendapatan, dan kesejahteraan umum, sambil tetap memastikan kesuksesan untuk perusahaan.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto , Berikut 10 Strategi dapat membantu Eksekutif Senior menavigasi ketidakpastian dalam beberapa tahun ke depan secara sistematis dan menguntungkan :
1. Perbaikan Alur Aliran Barang dan Material. Upaya perbaikan alur aliran barang dan mineral diyakini akan memperkuat produksi lokal pada sektor hulu dan menengah melalui peningkatan kapasitas dan percepatan adopsi teknologi.
2. Mendesain ulang Zona Industri. Dari beberapa zona industri yang telah dibangun di penjuru negeri, Indonesia akan mengop­timalkan kebijakan zona-zona industri tersebut dengan menyelaraskan peta jalan sektor-sektor industri yang menjadi fokus dalam Making Indonesia 4.0.
3. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
4. Pemberdayaan UMKM
5. Insentif untuk Investasi Teknologi. Desain ulang rencana insentif adopsi teknologi, seperti subsidi, potongan pajak perusahaan, dan pengecualian bea pajak impor bagi perusahaan yang berkomitmen untuk menerapkan teknologi industri 4.0 merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan.
6. Pembangunan Ekosistem Inovasi
7. Tarik Minat Investor Asing
8. Harmonisasi Aturan dan Kebijakan. Harmonisasi aturan dan kebijakan merupakan langkah yang dapat mendukung daya saing industri dan memastikan koordinasi pembuat kebijakan yang erat antara kementerian dan lembaga terkait dengan pemerintah daerah.
9. Pembangunan Infrastruktur Digital Nasional
10. Mengakomodasi Standar Keberlanjutan

BAB III STUDI KASUS PT TELKOM

3.1. Sekilas Tentang PT TELKOM
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, biasa disebut Telkom Indonesia atau Telkom saja (IDX: TLKM, NYSE: TLK) adalah perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia. Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.
Telkom merupakan salah satu BUMN yang 52,09% sahamnya saat ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, dan 47,91% dimiliki oleh publik, Bank of New York, dan investor dalam negeri. Telkom juga menjadi pemegang saham mayoritas di 13 anak perusahaan, seperti PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), Telkom Akses, Telkom Metra.
Direktur Utama Telkom saat ini adalah Alex Janangkih Sinaga, menggantikan Arief Yahya yang telah menjadi Menteri Pariwisata di Kabinet Kerja Jokowi.
3.2. Sejarah TELKOM
Era kolonial
Pada tahun 1882, didirikan sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf. Layanan komunikasi kemudian dikonsolidasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke dalam jawatan Post Telegraaf Telefoon (PTT). Sebelumnya, pada tanggal 23 Oktober 1856, dimulai pengoperasian layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Jakarta (Batavia) dengan Bogor (Buitenzorg). Pada tahun 2009 momen tersebut dijadikan sebagai patokan hari lahir Telkom.
Perusahaan negara
Pada tahun 1961, status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun 1965, PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

Perumtel
Pada tahun 1974, PN Telekomunikasi diubah namanya menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional. Tahun 1980 seluruh saham PT Indonesian Satellite Corporation Tbk. (Indosat) diambil alih oleh pemerintah RI menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel. Pada tahun 1989, ditetapkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, yang juga mengatur peran swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)
Pada tahun 1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1991.
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
Pada tanggal 14 November 1995 dilakukan Penawaran Umum Perdana saham Telkom. Sejak itu saham Telkom tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ/JSX) dan Bursa Efek Surabaya (BES/SSX) (keduanya sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX), Bursa Efek New York (NYSE) (Diperdagangkan pada tanggal 14 Juli 2003) dan Bursa Efek London (LSE). Saham Telkom juga diperdagangkan tanpa pencatatan di Bursa Saham Tokyo. Jumlah saham yang dilepas saat itu adalah 933 juta lembar saham. Sejak 16 Mei 2014, saham Telkom tidak lagi diperdagangkan di Bursa Efek Tokyo (TSE) dan pada 5 Juni 2014 di Bursa Efek London (LSE).
Tahun 1999 ditetapkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Sejak tahun 1989, Pemerintah Indonesia melakukan deregulasi di sektor telekomunikasi dengan membuka kompetisi pasar bebas. Dengan demikian, Telkom tidak lagi memonopoli telekomunikasi Indonesia.
Tahun 2001 Telkom membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara Telkom dan Indosat. Sejak bulan Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.
Pada 23 Oktober 2009, Telkom meluncurkan “New Telkom” (“Telkom baru”) yang ditandai dengan penggantian identitas perusahaan.
3.3. Strategi Pimpinan PT TELKOM dalam Era Industri 4.0
Telkom sebagai salah satu perusahaaan telekomunikasi tebesar di Indonesia. Dengan produk yang beragam serta jumlah pegawai yang sangat banyak, Telkom mampu tetap menjadi perusahaan yang diperhitungkan di Indonesia. Pengembangan SDM di Telkom menjadi utama, karena SDM adalah modal utama penggerak salah satu BUMN ini.
PT Telekomunikasi Indonesia mulai melakukan berbagai macam terobosan untuk menyongsong era ekonomi digital dan industri 4.0. konsentrasi tidak hanya pada isu infrastruktur namun melengkapi dengan elemen lain yang penting untuk masyarakat seperti untuk aplikasi, penggunaan internet secara sehat dan mendorong pemanfaatan booster pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
Menurut Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom), Arief Yahya , terkait ekspansi bisnis yang dilakukan Telkom. “Karena cita-cita Telkom adalah global, Telkom harus menyertifikasi diri dengan global standard,” Oleh karena Center of excellence dalam pengembangan SDM menjadi inisiatif strategis pertama dan utama. Maka Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom), Arief Yahya, segera membentuk Telkom Corporate University atau Telkom CorpU.
Menurut Arief Yahya, Untuk mencapai hasil yang luar biasa diperlukan cara-cara yang tidak biasa dilakukan, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang luar biasa. Untuk itulah alasan diciptakan universitas di dalam suatu korporasi, sehingga semuanya dapat terus belajar karena Great Leader saja tidak cukup. Kita juga harus melahirkan Great People. Sumber daya manusia adalah tantangan yang sangat mendasar dalam melakukan ekspansi internasional.

3.3.1. Pembentukan Telkom Corporate University (Telkom CoprU)
Telkom melalui Telkom Corporate University menjadi wadah pengembangan SDM Telkom, melakukan kegiatan2 pengembangan SDM yang mendukung pencapaian misi Telkom untuk memperkokoh kemampuan belajar individu dan organisasi dalam rangka mewujudkan center of excellence.
Secara umum, Telkom CorpU merupakan wahana strategis yang dirancang untuk mendukung pencapaian misi perusahaan dengan melakukan kegiatan dalam memperkuat atau memperkokoh kemampuan belajar individu dan organisasi.
CorpU benar-benar dibangun untuk menempatkan Telkom sebagai Center of Excellence. Pada prinsipnya semua hasil Learning & Development harus berkorelasi dan mendukung langsung kinerja bisnis Telkom agar terus tumbuh secara berkesinambungan di atas perkembangan industri.
Selain itu, CorpU didirikan atas pertimbangan saat ini Indonesia berada dalam kancah persaingan global atau clash of global. Telkom yang mewakili BUMN Indonesia Incorporated dalam bisnis digital harus memiliki International Standard. Hal itulah yang kemudian menjadi tugas bagi CorpU, yaitu melakukan sertifikasi sesuai standar internasional.
Challenging Business goal hanya bisa dicapai oleh great leader dan great people hasil dari Center of Excellent yang dibentuk secara sistematis melalui CorpU. Banyak perusahaan kelas dunia telah mengimplementasikan CorpU sebagai wahana untuk “mencerdaskan” karyawannya. Tujuannya jelas, yakni mencapai kinerja bisnis yang gemilang.
Menurut Arief Yahya, Orang-orang yang menjalankan bisnis Telkom di mancanegara itu sebenarnya para global talent yang kini tersebar di berbagai negara, melalui pengembangan kompetensi dan karakter, sumber daya manusia ini diharapkan tidak hanya berguna bagi Telkom, tetapi juga bagi bangsa dan negara.
Awal tahun 2013 ini Telkom memang menggalakkan program International Expansion untuk mengerek pendapatan usaha. Setidaknya Telkom telah menggarap bisnis di empat negara, Hongkong, TimorLeste, Australia dan Singapura. Telkom University Telkom CorpU, meraih Best Overall Corporate University di ajang Global Council of Corporate University (GlobalCCU) Awards 2015 di Perancis.
3.3.2. Telkom Hadirkan PluggedIn
Kebutuhan talenta digital terutama dari generasi milenial adalah keniscayaan yang tidak bisa dicegah. Untuk mempercepat lahirnya talenta digital, diperlukan sinergi percepatan dari semua pihak. Untuk itu PT Telkomumikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menggelar PluggedIn, CorpU Indonesia Learn & Share.
Menurut Chief Human Capital Officer (CHCO) PT Telekomunikasi Indonesia Herdy R Harman , Indonesia masih kekurangan talenta digital di semua industri, “Zaman telah berubah, era disrupsi sudah nyata terjadi. Air BnB dan Uber tak perlu punya hotel dan kendaraan, namun mereka sudah jadi big business dalam waktu singkat, sehingga perlu percepatan talenta digital.
Menurut Herdy, kebutuhan tersebut membuat pihaknya kini sudah memiliki komposisi karyawan usia milenial secara grup keseluruhan sebesar 80% serta PT Telekomunikasi Indonesia sebagai induk sebesar 35%. Atau terjadi kenaikan di BUMN tersebut sebesar 15% dari komposisi awal saat Herdy menjabat CHCO tahun 2015 lalu sebesar 20%.
Untuk itu salah satu strateginya adalah saling belajar sekaligus berbagi pengalaman antar para pihak melalui aplikasi PluggedIn. Forum ini bisa diakses para pegiat HCM khususnya yang berada di BUMN, dimana Herdy saat ini bertindak sebagai Ketua Umum Forum Human Capital Indonesia.
Menurut Herdy, perubahan sosial dan prilaku masyarakat dan industri membuat karyawan selalu mengutamakan kepraktisan beraktivitas termasuk saat belajar. Secara simultan, hierarkis bos dan bawahan makin memudar seiring tren kolaborasi dan interpreneurship, sehingga lingkungan kerja menjadi lebih fleksibel. Melalui PluggedIn diharapkan proses pembelajaran dan berbagi menjadi lebih fun, lebih luas aksesnya, mampu memberikan dampak kepada performa bisnis perusahaan.
Menurut SGM Telkom CorpU Rina D. Pasaribu, acara tersebut berusaha menyinergikan semua pihak, karenanya hadir di lokasi sedikitnya 300 perwakilan dari 74 entitas (60 BUMN, 5 Lembaga pemerintahan, 2 Universitas, dan 7 Swasta). Maka diberi nama PluggedIn CorpU Indonesia, bukan Telkom saja, karena komitment ingin berbagi. Tak hanya memberi tapi juga diajarkan pengalaman dari BUMN lain. Telkom merasa memiliki kompetensi dalam bidang digital sehingga menginisiasi platform digital untuk semua pihak yang tertarik peningkatan kompetensi SDM.
Menurut Deputi SGM Telkom CorpU Bambang Budiono, selama ini Telkom CorpU selalu menjadi rujukan studi banding dengan intensitas kunjungan nyaris tiap pekan, baik dari BUMN, TNI, kementerian, hingga negara asing. PluggedIn sebagai bentuk open house, agar lebih banyak yang bisa mempelajari CorpU, untuk nanti diterapkan di tempatnya masing-masing. Selama tahun 2018, institusi yang menggunakan produk CorpU dengan skema monetizing antara lain Perhutani, Kimia Farma, PT Angkasa Pura II, Rumah Kreatif BUMN, Bank Mandiri, PT LEN, Bina Karya, PT BNI, Perum PNRI/Dir BUMN, dan PT Dirgantara Indonesia.
Telkom CorpU selaras dengan Program BUMN, Menurut Hambra, Deputi Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN, setelah 4 tahun membangun infrastruktur, maka APBN 2019 diarahkan untuk investasi SDM. “Bahkan ke depan akan dibangun BUMN Corporate University setelah sekarang disinergikan CorpU seluruh BUMN. Ini selaras dengan rencana Super Holding BUMN di Indonesia.

3.3.3. Keberlanjutan Program PluggedIn Telkom CorpU
Menurut Senior General Manager Telkom CorpU Rina D. Pasaribu , setelah acara PluggedIn perdana November 2018, program ini akan diteruskan di tahun depan. Setelah Acara PluggedIn, telah dilaksanakan beberapa pelatihan dan sharing terkait pengembangan SDM dari beberapa Kementerian Republik Indonesia Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Peluang Kerjasama akan terjadi juga dengan Bank Jabar dan Lembaga Administrasi Negara berkisar pada kemungkinan pelaksanaan pelatihan hard skill dan soft skill bagi pegawai institusi tersebut.
Menurut Oki Wiranto, Consulting Director yang mengelola layanan Telkom CorpU untuk institusi eksternal Telkom Group, pihaknya tahun depan berencana menggelar 2 (dua) kali PluggedIn di tiap semester. Adapun temanya akan diangkat seputar human capital management dan isu kekinian seperti pengembangan millenial menjadi future leader, penyiapan human capital untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, Future of CorpU, dan banyak lagi.
Meskipun Rincian Penyelenggaraan PluggedIn 2019 belum ada namun kemungkinan besar akan mengundang kementerian, pemda, BUMN, swasta, dan perguruan tinggi juga mengundang ahli global terkait human capital management. Atensi dari PluggedIn sebelumnya selain soal digital learning, juga akan berbagi kesuksesan dalam Program Leadership Training, Program Pengembangan Kompetensi Managerial, Program Pembinaan New Employee, hingga Program Persiapan Pensiun.

KESIMPULAN

1. Dunia industri tengah memasuki era baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Pemahaman kepimpinan dimasa lalu sudah tidak memadai lagi, perlu peningkatan kapabilitas yang lebih tinggi. Era revolusi industri 4.0/Digital, pengaruh global, makro dan mikro situasi, membuat bisnis semakin complex, semakin sulit diprediksi dan berubah dengan cepat.
2. Memasuki era Industri 4.0 sebagai pemimpin perlu menguasai kemampuan soft skill 3 C: Complex problem solving, Critical thingking dan Creativity (Balance Right & Left Brain function) selain kompetensi soft–skill lain sebagai tools kepemimpinan yang revelan dengan kebutuhan dan tantangan dalam perusahaan
3. Dengan perpaduan dua hal yakni memiliki pemimpin yang hebat, dan karyawan yang sesuai dengan perubahan niscaya sebuah perusahaan atau organisasi tidak lagi gagap menyambut era revolusi industri 4.0

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Juni, 2018. Industri 4.0. (online). Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0 (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Anonim. Desember, 2018. Mendongkrak Kualitas SDM di Era Revolusi Industri 4.0 . (online) http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/dN6nArpN-kualitas-sdm-harus-ditingkatkan-hadapi-revolusi-industri-4-0 (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Anonim. Mei, 2018. Perkembangan Revolusi Industri 4.0 (Industrial Revolution 4.0) dan Tantangan ke Depan. (online) https://www.ajarekonomi.com/2018/05/perkembangan-revolusi-industri-40.html (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Anonim. 2018. 10 Strategi Prioritas Untuk Menghadapai Revolusi Industri 4.0. (online). http://elmecon-mk.com/article/10-strategi-revolusi-industri-4-0/ (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Anonim. Telkom Corporate University. https://indoCorpU.wordpress.com/telkom-corporate-university/ (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Anonim. 2018. Telkom Indonesia. (online) Wikipedia . https://id.wikipedia.org/wiki/Telkom_Indonesia (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Budianto, Arief. Desember, 2018. Tahun Depan Telkom Corporate University Perbanyak Pelatihan Digital (online). https://autotekno.sindonews.com/read/1364478/207/tahun-depan-telkom-corporate-university-perbanyak-pelatihan-digital-1545305487 (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Banirestu, Hening. Desember, 2018. Tahun 2019 Telkom CorpU Lanjutkan Fasilitasi PluggedIn di Kementerian dan BUMN. (online). https://swa.co.id/swa/trends/tahun-2019-telkom-CorpU-lanjutkan-fasilitasi-pluggedin-di-kementerian-dan-bumn (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Candra, Yudi. Desember, 2018. Menjadi pemimpin di era revolusi industri 4.0. (online) https://www.indotelko.com/kanal?c=id&it=pemimpin-revolusi-industri-4-0 (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Murdaningsih, Dwi. September. 2018. Telkom dan PT Pos Lakukan Terobosan Ekonomi Digital. (online). https://republika.co.id/berita/telko-highlight/berita-telkom/18/09/27/pfpge2368-telkom-dan-pt-pos-lakukan-terobosan-ekonomi-digital. (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Prasetyo, Hoedi, dan Wahyudi Sutopo. Januari, 2018. Industri 4.0: Telaah Klasifikasi Aspek Dan Arah Perkembangan Riset. Jurnal Teknik Industri, Vol. 13, No. 1. (online) https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jgti/article/viewFile/18369/12865 (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Rouzni, Achmad. Mei, 2018. Revolusi Industri 4.0 di Era Digital, Indonesia Siap?. (online). https://inet.detik.com/business/d-4033692/revolusi-industri-40-di-era-digital-indonesia-siap (diakses tanggal 21 Desember 2018)

Simbolon, Frank Sinarta. (Maret, 2013). Kompetensi Kepemimpinan. http://mgt-sdm.blogspot.com/2013/03/kompetensi-kepemimpinan.html (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Syahadah, Robi. Juni, 2018. Melihat Konsep Kepemimpinan di Era Digital 4.0. https://pelatihanpengembangansdm.co.id/konsep-kepemimpinan/ (diakses tanggal 21 Desember 2018)

Wibowo, Udik Budi. Juni, 2011. Teori Kepemimpinan. Badan Kepegawaian Yogyakarta. (online) http://staffnew.uny.ac.id/upload/131656351/pengabdian/C+2011-13+Teori+Kepemimpinan.pdf (diakses tanggal 20 Desember 2018)

Widia, Stevi. November, 2018. Percepat Talenta Digital, Telkom Hadirkan PluggedIn. https://youngster.id/featured/percepat-talenta-digital-telkom-hadirkan-pluggedin (diakses tanggal 20 Desember 2018)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

You might also like

Berapa Harga Anak Kita? BERAPA HARGA ANAK KITA ? Share dari Ummu Rum Berapa harga anakmu? Nilai anak tak bisa diukur dengan...
MENGENAL GENERASI MILENIAL DALAM PENGADAAN SUMBER DAYA MANUSIA STUDI KASUS KASKUS DISCLAIMER : MOHON CANTUMKAN SUMBER TULISAN : PENULIS : DINI SUSANTI, http://dini.isnandi.net/2019/03/08/mengenal-generasi-milenial-dalam-pengadaan-sumber-daya-manusia-studi-kasus-kaskus/ MENGENAL...
MANAJEMEN KUALITAS DISCLAIMER : MOHON CANTUMKAN SUMBER TULISAN : PENULIS : DINI SUSANTI, http://dini.isnandi.net/2019/03/08/manajemen-kualitas/ LATAR...
Tulisan dan bahasa jiwa Masih selalu terngiang ucapan sekaligus nasihat dari ayah saya, 'jaga nama baik, menjaganya sungguh sulit...
Grab This Widget

One response so far

Leave a Reply