Kutitip cinta ini

Beberapa hari lalu seorang teman yang sudah lama tidak update status, mempublish foto suaminya. Foto wajah dalam bingkai, taburan bunga disekitar bingkai. Sebuah postingan status mengiringi keterangan foto tersebut “40 hari suamiku tercinta” Terhenyak kaget bukan kepalang, saya buka timeline teman saya tersebut. Dan benar, sang suami teman saya telah meninggal.. Innalilahi Wainna Ilaihi Rojiun..

Airmata tak terasa menetes. Kesedihan teman bisa saya rasakan. Dia memiliki seorang putri dan seorang putra yang keduanya masih sangat kecil, masih usia sekolah dan sangat butuh kasih sayang dan figur ayah. Lalu membayangkan bila terjadi pada saya, bila saya yang dipanggil, atau bila suami yang dipanggil, sementara anak anak kami semua masih kecil. Dan terseguk saya menangis. Hingga hati kecil saya berkata rezeki, umur dan jodoh sudah ditulis bahkan sebelum manusia lahir. Rongga dada terasa ringan kembali.

Usahlah mengkhawatirkan sebuah ketetapan yang penuh rahasia Allah. Namun khawatirkan amal sholeh di dunia sudahkah kita lakukan. Sudahkah perbuatan kita dalam koridor yang diridhoi Nya? Kita semua adalah mahluk bumi yang pasti mati.

Bumi ini sudah hadir sejak puluhan ribu tahun lalu. Bermiliar manusia sudah lahir dan mati. Kehidupan ini bahkan sudah hadir sebelum bumi tercipta (penciptaan adam dan hawa). Sedangkan kita hanyalah manusia bumi yang lahir sejak puluhan tahun lalu, berjalan di muka bumi untuk menjalani hidup. Hingga waktu yang ditetapkan, entah esok atau puluhan tahun kedepan. Tapi bisakah mencapai ratusan? Atau lebih? Itulah rahasia Allah. Lalu jika kita mati, bumi ini akan terus ada untuk manusia2 baru lagi. Life goes on. Sedang untuk yang mati? Semua terhenti, kecuali doa anak sholeh, amal jariah (wakaf) dan ilmu yang bermanfaat.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh❠(HR. Muslim no. 1631)

Maka siapa pintar dan cerdas, adalah yang menabung untuk amalan berketerusan seperti hadist diatas, semampu kita, semaksimal mungkin usaha kita di dunia ini. Berusaha bersama2 dengan kekasih dalam bahtera yang sama. Saling sokong saling mengingatkan agar perahu tetap berlayar sesuai kompasnya, dan agar badai tidak menghempasnya jatuh. Namun jika salah satunya pergi meninggalkan dunia atau pergi dari sisi karena perceraian di dunia, perahu tetap bisa berlayar, karena kompas tetap akan menunjuk ke arah yang sama meski laut tak selalu tenang.

Mendadak ada rindu pada suami, kekasih hati yang sedang mengais rezeki di negeri tetangga. Maka saya titipkan cinta ini, rindu ini pada Allah. Jaga suami hamba ya Rabb, Ampuni dosa kami. Faghfirlii

(Ditulis menjelang hari wedding anniversary ke 10)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites