Perlahan tapi Pasti

Setiap orang berbeda. Karakternya, sifatnya, kesukaannya dan kebiasaannya. Saya pribadipun demikian. Dan ada masanya dalam hidup saya pernah tidak mengenal bahkan tidak mengerti diri sendiri. Apa maunya? apa maksudnya dengan begini begitu? apa sih yang jadi masalah sebenernya????

Ada suatu masa. Ketika berbagai cobaan datang menerpa. Edisi belum dewasa dan belum datang pemahaman. Ketika penelitian tingkat akhir kuliah dilanda masalah. Terhitung lebih dari 3x mengalami kegagalan penelitian. Lebih tepatnya berapa kali? Rahasia hehe. Yang pasti disaat itu adalah titik terendah dalam hidup. Merasa malu, merasa tidak berharga, dan rasa lainnya yang mendominasi sisi terendah saya sebagai manusia atau wanita beranjak dewasa.

Lalu pemahaman datang. Dan hidup mulai membaik. Ketika memahami bahwa masalah sebenarnya ada pada pikiran sendiri dan jiwa yang tidak tenang. Melalui celetukan seorang dosen saya jadikan pacuan semangat. Dia adalah almarhumah ibu Sri yang mendekati saya ketika berjalan tertunduk merasa lelah setelah dalam perjalanan cipanas – dramaga bogor. Beliau bilang bahwa “sayang sekali wajah cantik dan masa muda diselimuti masalah sedemikian rupa. Jika memang belum selesai dan ada masalah yang masih juga mengganjal, mungkin masih belum waktunya saja. Berarti ada urusan yang belum tuntas. Tuntaskan dan lewati. Semua akan berlalu begitu cepat. Saya hanya dapat membalas dengan senyuman dan ucapan terimakasih sambil berlalu. Masih ada rasa malu pada beliau namun timbul semangat dari dalam diri untuk menuntaskan apapun itu urusan yang belum selesai.

Ternyata saya pahami kemudian. Urusan yang belum selesai adalah kedewasaan saya. Kedewasaan dalam menghadapi masalah hidup. Justru dengan memberikan ruang dalam hidup untuk menerima masalah yang datang, bersedia dan ikhlas menjalani dan menuntaskan satu persatu masalah, melihat suatu sudut pandang dari sisi lain, menyelaraskan alam dengan kondisi yang positif selalu.. adalah beberapa hal yang membuat segalanya berjalan dengan lancar. Tidak terasa satu persatu langkah membawa kepada keberhasilan, tidak terasa skripsi bisa disusun dengan baik dan tidak terasa sidang skripsi bisa dilewati dengan mudah. Dan hasil yang memuaskan pula. Saya berhasil membawa pikiran dan jiwa untuk menjadi lebih tenang. Bahwa masalah memang besar tapi Allah Maha Besar bersama orang-orang sabar yang berusaha dan berdoa.

LULUS. Alhamdulillah memuaskan. Ada perasaan berbeda pada saat wisuda ketika itu, saya diwisuda bersama dengan adik kelas dan beberapa kawan seangkatan dalam hitungan jari 😀 . Rasa bahagia amat sangat bukan karena mengantongi ijazah namun terasa mendapatkan pengalaman yang sungguh luar biasa dari banyaknya kegagalan penelitian akhir kuliah. Kala penelitian itu teman curhat saya adalah pulpen dan kertas. Tidak adil bila ada kawan yang menjadi tempat sampah masalah yang ada. Meski mereka mungkin dengan senang hati akan menampungnya. Terasa sekali bahwa dengan menulis apapun yang ada dalam pikiran dan hati, bagai mengurai benang kusut agar kembali terjalin baik. Mungkin tulisan2 saya kala itu jika dikumpulkan bisa lebih tebal dari skripsi saya sendiri. Namun saya pernah membakar semuanya di halaman rumah, dengan harapan bisa membuka lembaran baru, selain karena saat itu Ibu saya sedang bersih2 rumah dan meminta saya bakar semua kertas yang memenuhi gudang hehe.

Hingga saat ini, jika mengalami kendala dalam menjalani kehidupan. Saya mengingat peristiwa keterpurukan saya di tahun akhir masa kuliah. Kemudian mengingat kembali poin utama, yaitu menerimanya dengan ikhlas, menerima masalah itu sebagai suatu masalah dan harus diselesaikan. Kemudian selesaikan urusan yang belum selesai satu persatu dengan membaginya dalam beberapa prioritas, fokus, konsisten. Tidak akan terasa waktu akan berjalan begitu cepat dan kita akan menengok kebelakang dengan tersenyum. Hey lihat, saya sudah sampai disini. Berjalan terus ke depan. Perlahan tapi pasti.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites