Sehari Bersama Ayah

Pagi tadi ayah meminta saya menemani beliau ke Depag kab. Bogor di Cibinong. Saya menyanggupi karena memang urusan di Bogor sudah hampir selesai, agenda saya selanjutnya ada di pukul 11 siang. Melirik waktu masih sangat pagi segera saya siapkan keperluan anak2 untuk saya tinggal pergi sebentar lalu memarkirkan mobil untuk persiapan berangkat.

Pagi itu Bogor sangat bersahabat. Udara sejuknya sehabis hujan kemarin, dan lalu lintas yang lancar sama sekali tidak macet, benar2 memunculkan sosok kota sebenar yang sangat saya cintai. Dulu Bogor seperti ini, ketika saya masih SD. Angkot Bogor saat itu berwarna kuning bukan biru dan jumlahnya sangat sedikit. Gak ada istilah macet dan udaranya juga sejuk sepanjang hari, selain karena masih banyak area hijau juga dulu hampir setiap hari hujan. Bogor kota hujan. Memang demikian dulu itu.

Sepanjang perjalanan dari Ciomas menuju Cibinong, sama sekali tidak ada hambatan. Ayah adalah orang yang senang bercerita. Sehingga waktu perjalanan terasa sangat singkat. Diusianya yang mendekati 70 tahun, ingatan beliau akan masa lalunya sangat luar biasa. Pagi itu beliau bercerita tentang history air mancur Bogor. Pada masa pemerintahan Soekarno ditengah persimpangan air mancur Bogor adalah berupa tugu pancang mirip tugu kujang. Tugu tersebut merupakan warisan penjajah belanda dibangun konon untuk memantau Istana Bogor, didirikan satu arah tegak lurus dengan istana. Namun kemudian dihancurkan dimasa pemerintahan Soeharto dan diubah menjadi air mancur. Hingga kini kita mengenalnya sebagai air mancur Bogor meski sudah gak ada lagi air mancurnya.

Lalu jangan tanya ayah tentang masa kelam bangsa kita akan peristiwa PKI. Ayah akan bercerita tentang banyaknya korban masyarakat gak bersalah saat itu. Ketika hanya karena ketidak tahuan masyarakat awam tentang kepentingan politis suatu komunitas, banyak diantara mereka yang dicap dan dihukum penjara hanya karena menandatangani suatu formulir. Mereka diiming imingi oleh berbagai maksud terselubung. Ada menandatanganinya karena dijanjikan sebidang tanah, ada juga karena dikatakan singkatan PKI adalah Partai Kyai Indonesia. Dan dengan tidak ada sedikitpun rasa kasihan, semua dinyatakan bersalah dan kena coret hitam partai komunis tak pandang bulu. Mungkin sedikit yang ayah saya ceritakan namun saya berasa cukup dengan cerita beliau karena hati saya bergemuruh emosi, kasihan dan sedih.

Sepanjang perjalanan tadi pagi saya merasa sangat bersyukur, ayah saya masih sehat dan bisa memberikan banyak nasehat yang baik2. Beliau lelaki pertama yang saya sangat cintai.

Semoga Allah SWT memberikan umur yang berkah dan meridhoi beliau selalu dalam kasih sayangNya. Aamiin Allahuma Aamiin.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites