Mengenai Rasa Syukur atas Peran Apapun

Beberapa waktu lalu ada pengkajian oleh peggy melati sukma dengan tema sibukkan diri dengan syukur, namun karena berbarengan dengan waktu kontrol Fauzi Ilmi ke dokter sunat saya berhalangan hadir. Sayang sekali seorang kawan yang saya tanya summary dari pengkajian tidak bisa menyampaikan dengan detail isi acara yang lalu, hanya menyarankan saya untuk membeli salah satu buku karangan mba peggy.

Sebagai seorang wanita, istri dan juga ibu yang kebetulan diberi nikmat oleh Allah memiliki suatu pekerjaan, saya mensyukuri banyak hal. Terutama rasa syukur atas banyak waktu yang diberikan untuk bisa memberikan perhatian dan kasih sayang untuk orang-orang tercinta disekitar. Kuncinya hanya satu, seperti telah saya tulis dalam salah satu artikel beberapa tahun lalu ketika saya masih aktif bekerja diluar rumah 9 to 5 setiap hari, yaitu work smart not work hard. Meski sebagian orang menganggap work hard berbanding lurus dengan kesuksesan, saya tidak menyangkalnya, karena ada beberapa pekerjaan yang memang harus dilakukan dengan hard, namun the smarter we work the less hard we do. Salah satunya dari kelelahan otak dalam berfikir. Jika menemukan cara praktis maka pekerjaan akan menjadi lebih mudah. Dan bukan hanya dalam karir di luar rumah, pekerjaan domestik dalam rumah pun memakai taktik yang sama. Semisal, mencuci menggunakan mesin cuci lebih cepat, memblender bumbu dengan hand blender lebih praktis, transfer kirim bayar online lebih nyaman aman dibanding teller atau atm, dan lain lain kepraktisan lainnya. Sehingga banyak waktu yang bermanfaat lainnya selain mengurusi domestik rumah.

Saya bersyukur atas banyak hal, dan rasa syukur itu menjadi kebahagiaan dalam hati yang membuat hati terpatri rasa cukup bahkan berlebih. Dalam hal materi saya tidak pernah merasa kuatir, rezeki Allah sudah aturkan dengan baik, bahkan janjiNya pasti bahwa setiap manusia sudah terjamin rezekinya ketika lahir. Yang sering saya kuatirkan adalah dalam hal non materi. Yaitu isi hati dan level keimanan yang naik turun, sedangkan keduanya sebagai penentu keridhoan Allah atas kita.

Seringkali isi hati yang berubah melencengkan niat awal yang mulia, dan level iman yang menurun membawa hati dan diri terjatuh berkali-kali dalam kesalahan. Jika terjadi demikian, minimal ikhtiar manusia adalah lakukan ‘auto pilot’ atas semua amal ibadah, memaksakan pribadi untuk sholat wajib, sholat sunat, puasa, sedekah dll sehingga kembali mendapat kontrol diri untuk sadar melakukan semua kewajiban manusia yaitu untuk bekerja dan beribadah, disamping juga berusaha meluruskan hati kembali.

bukan sejauh mana kita berpijak. namun sejauh mana mensyukuri posisi ini..
secara sadar atau tidak, kita sendiri sebenarnya yang mengunci posisi itu sendiri.
Bukan sejauh mana kita bisa berpijak saat ini. Di sebuah gedung tinggi perusahaan ternama, di sebuah persawahan seluas mata memandang, di sebuah pesawat jet pribadi, di sebuah ruko kecil, di sebuah warung nasi, di sebuah metromini, ataupun di sebuah rumah yang penuh dengan teriakan anak2 kecil.. Namun hidup itu lebih ke arah, sejauh mana kita mensyukuri posisi di dunia ini. Yang mau tidak mau atau kadang sadar tidak sadar sebenarnya kita sendiri yang mengkunci posisi itu sendiri, melalui kepantasan diri kita sehingga Allah ridhoi kita pada posisi sekarang ini. Jika ingin turun tinggal minta saja lalu pantaskan diri, jika ingin naik pun sama. Minta pada Yang Memiliki dunia. Sehingga jangan khawatirkan materi, mudah bagi Allah mewujudkannya untuk manusia, namun khawatirkan isi hati dan level iman yang berubah-ubah naik turun seperti rel coaster, karena kita yang mengelolanya senantiasa. Pastikan selalu berada dalam tracknya agar bisa kembali dalam track menuju ridhoNya.

belajar terus cara bersyukur yang disukai Allah.
Pijakkan kaki kebumi, bahkan untuk berlaripun ada jarak dan waktu tempuh maksimal yang dapat dicapai manusia. Lelah jika terlalu banyak memikirkan dunia. Salah satu kunci kekayaan sudah bukan rahasia lagi. Tinggal mau atau tidaknya kita bersyukur. JanjiNya adalah pasti. bersyukurlah maka akan ditambah nikmatmu belajar teruss cara bersyukur yang Allah sukai dalam posisi apapun, dalam peran apapun yang kita lakoni di dunia ini. Dan selain perbanyak rasa syukur, saya mengutip salah satu perkataan Aa Gym jagalah hati.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites