Mungkin Aku Sampai Esok Lusa, Rey.. (Cerpen)

Hah!
Deena terbangun kaget setelah mimpi yang menyeramkan. Dibuka matanya dan bersyukur tengah berada di bandara. Segera ia teringat Rey yang akan menjemputmya disana. Rasa nyaman dihati menyergap jika teringat tunangannya itu, lelaki yang telah menawan hatinya bertahun-tahun dalam setianya. Kekasih yang tiada ragu akan menjadi imam hidupnya.

Bolak balik dibacanya sebuah majalah usang resep masakan. Edisi Holand dengan bahasa yang pasti Rey akan berkerut muka. Geli bila Deena mengingat dia, yang mencintainya apa adanya. Rey pernah katakan jatuh cinta pada aroma masakan Deena, seorang chef di Belanda, dan dia penikmat setia setiap sajiannya. Mereka hendak menikah beberapa bulan lagi, visa kerja tunangannya itu hendak diperpanjang, itulah mengapa Rey ke Malaysia beberapa hari sebelum Deena datang menjemputnya untuk kembali.

Deena melirik jam dinding di bandara KLIA itu. Detaknya pasti namun terasa sangat mengganggu, entah karena ketidaksabarannya atau memang karena suaranya yang menyebalkan. Detak itu bagai kayu kecil yang menggetok kepala berulang-ulang, tik tok tik tok tik tok sangat mengganggu!

Berdiri Deena bangun dari sofa empuk yang beberapa jam terakhir ini menjadi dirasa kurang nyaman. Seluruh adrenalin tubuh dan kesukacitaan menguap karena penantian yang dirasa dialami lebih dari tiga jam. Deena gelisah menunggu bagai tanpa akhir. Tiga jam cukup untuk membuat adonan roti mengembang sempurna Rey! Ia teriak dilanda lapar. Dan entah kenapa bandara ini sangat sepi. Deena baru saja landing, menginjakkan kaki di Malaysia. Perjalanan yang bukan sebentar. Rasa lelah belum lagi hilang harus pula dikecewakan rasa gelisah.

Arrgh!
Deena membanting majalah dalam genggamannya, berinisiatif untuk keluar bandara dan sewa taksi ke hotel terdekat. Mengapa pula sedari tadi hanya menemukan satu atau dua orang saja melintasiku. Lirih Deena penuh tanda tanya. Memang sepikah bandara Malaysia??

Deena menarik koper merahnya dengan amarah. Rey! Jika sampai kudapati dirimu nanti akan kucubit sampai kau minta ampun. Aku kesal! Ditegaskan kembali langkahnya untuk pergi dari sana, tak perduli bila Rey datang ataupun tidak.

Baru beberapa langkah.
Darahnya mendesir. Televisi di ruang tunggu bandara menyala otomatis. Telinganya menangkap sebuah berita.

Diangkat kepala kearah suara, ditangkapnya berita disana dengan kedua mata yang terbelalak sulit percaya. Di layar itu ditayangkan kehancuran pesawat MH17 akibat rudal teroris di perbatasan Uraine. Pesawat tersebut adalah.. pesawat yang ditumpanginya.. beberapa jam yang lalu lalu .. mengapa aku disini???? Mendadak semakin kalut dan takut Deena dalam sendirinya.

Reeeyyyy! Teriaknya sekuatnya menghalau gelisah. Namun hanya berbalas gaung. Dialihkan pandangan ke seluruh pejuru, semua berubah menjadi putih, pandangannya pun kabur
Putih..
Lalu gelap.

Sayup terdengar suaranya pernah berjanji Mungkin aku sampai esok lusa, Rey..

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

** Duka Cita yang dalam untuk seluruh korban pesawat MH17 yang meledak oleh serangan rudal 17 Juli 2014, semoga segera diusut dan dituntaskan secara hukum yang berlaku **

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites