Bidadari yang Tertawan di Dunia (cerpen)

Malam itu sahur kami sangat luar biasa. Sayur capcay dan ayam goreng. Senang sekali akhirnya setelah sayur labu dan tempe goreng hampir setiap hari tersaji. Kulihat wajah mama hari itu pun berseri seri. Kubahkan lupa bertanya mengapa hari ini begitu beda, terlalu nikmat mulutku mengunyah makanan mewah itu. Dan terlalu kenyang hingga habis sahur langsung tertidur pulas.

Keesokan pagi tidak kulihat mama lagi seperti hari kemarin. Namun rumah sudah rapi bersih dan wangi. Seperti biasa mama tidak tidur lagi setelah sahur, kadang pula kudengar mama mengaji. Dan hari ini karena libur kuliah, aku hanya akan habiskan waktu di rumah saja, membaca habis novel yang baru kupinjam dari kawan kuliah.

Kudengar pintu depan rumah dibuka, mama pulang dengan wajah ceria lagi. Segera aku beranjak mendekatinya. Mama masuk ke kamar tidurnya, tunggu sebentar mama mandi dulu.. Ujar mama sambil menutup pintu menahan langkahku yang hendak mengikutinya ingin ajak bicara. Aku berbalik kembali ke sofa nyaman didepan tv, namun malas hendak melanjutkan novel misteri yang belum tuntas kubaca. Kulirik jam menunjukkan pukul 5 sore sebentar lagi waktu berbuka puasa.

Mama keluar kamar masih dengan senyumnya. Wajah cantik masih terlihat dalam garis wajahnya. Namun tidak pernah lagi terkena poles kosmetika, mama nyatakan inginnya untuk tetap sendiri dan cantik hanya untuk papa, yang telah meninggal dunia sejak sepuluh tahun lalu ketika aku dibangku sekolah menengah pertama. Bagiku mama bidadari yang tertawan di dunia.

Mama membuka bungkusan plastik yang belum sempat aku sentuh. Sepulang tadi pun mama letakkan begitu saja di meja makan. Dan aku khawatir itu barang titipan lalu mama marahi aku lagi seperti hari lalu ketika membuka bungkusan sembarangan. Kali ini tak akan kusentuh barang2 mama kecuali mama minta aku membantunya.

Ini makan untuk kita berbuka ujar mama seraya menyiapkannya. Kolak pisang, kurma, es buah dan beberapa bungkusan lagi yang mama bawa ke kulkas dan disimpan disana. Apa itu mah? Tanyaku, makan malam dan sahur” ayo solat maghrib dulu, jadi imam. Jangan lupa siap2 ke mesjid tarawih berjamaah. Iya jawabku singkat. Kadang jika ada momen dimana aku merasa mama memerlukan seorang kawan untuk bercakap2, aku sangat ingin segera mencarikan menantu cantik dan baik untuknya. Tunggu saatnya, Akan kuselesaikan kuliahku, lalu dapatkan pekerjaan yang layak dan boyong menantu untukmu.

Dan seperti kemarin, sahur hari ini kembali makanan mewah. Rendang, dan sayur singkong, dibeli dari rumah makan padang sepertinya. Aku perhatikan wajah cantikmu masih berseri. Urung kutanyakan apapun itu dalam hatiku. Kau wanita anggun dan mulia yang pernah ada, semua tersaji di meja makan pun pasti karena kemuliaanmu, tak akan kau buat dirimu terhina. Dan aku percaya.

Sejak papa meninggal dunia, mama membesarkan aku sendiri. Dan aku bukan anak manja. Sebagai anak tunggal dan seorang lelaki, aku pun berkerja ringan membantu mama dan membayar sekolahku. Hingga sekarang aku kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sebagian besar uang kusisihkan untuk biaya kuliah, uang untuk mama hanya cukup untuk makan kami secara sederhana. Kau tak pernah mengeluh, kau iringi setiap langkahku dengan doa.

Pagi itu seperti biasa terbangun tidak kudapati sosok mama. Kusesalkan diri atas belum tuntas tanyaku, perlu jawaban segera hendak kutanya sajian mewah sahur dua hari belakngan ini. Ku ambil HP dari saku celana dan menekan nomer mama. Tidak ada jawaban. Aku sms : “Mama sedang dimana?” Tak berapa lama sms balasan datang Jemput berkah ramadhan jawabmu singkat. Segera kutelepon mama kembali, namun tidak dijawab lagi. Maksudnya apa mah? tanyaku via sms lagi. Kali ini mama tidak membalasnya. Dan aku khawatir mengganggunya. Kali ini akan kutanya bila mama tiba di rumah.

Waktu menunjukkan pukul 5, tidak ada tanda mama pulang kerumah. Kunyalakan televisi menanti waktu berbuka. Lintasan berita di tv sore itu bagai palu godam dihujam didadaku. Tidak ada gempa bumi sore itu namun tubuhku limbung ke kanan kekiri saat mencoba mencapai pintu rumah, sesaat kubuka, beberapa tetangga sudah hadir disana, tetangga persis samping rumahku, seorang ibu tua segera menubruk tubuhku yang limbung kemudian dia menangis sekerasnya. Aku seorang lelaki pantang untuk menangis tak sadar diri. Meski hati remuk redam. Meski jiwa luluh lantak. Aku terdiam dan kesulitan untuk berkata berpandangan dengan seorang bapak tua tetanggaku yang kemudian merangkul tubuhku dan membawaku masuk kedalam mobil angkutan umum miliknya, beberapa oranglain ikut serta dengan kami. Menuju rumah sakit PMI jakarta pusat. Tempat dimana tubuh mamaku dibawa akibat kecelakaan beruntun dipersimpangan lampu merah Kelapa Gading persis pukul 5 sore tadi.

Disana, terbujur kaku jasad seorang wanita yang pernah melahirkanku. Beliau tidak bisa menungguku tuntaskan janjiku membawakan seorang menantu, menungguku berikan hidup yang layak seperti dulu ketika bapak masih ada, menungguku membahagiakannya. Beliau sudah beristirahat dari kelelahan hidup, tidak ada lagi masalah yang akan datang membuat bulir airmata jatuh ke pipinya, tidak ada lagi rasa rindu ingin bertemu bapak, mama akan bersama dengannya.

Disini terbaring seorang wanita yang sangat mulia demikian kupatri dengan indah diatas batu nisan mama. Kemarin saat pemakaman mama, ada seorang wanita datang mendekat, usia setengah baya, berpenampilan seadanya, bahkan sedikit compang camping bajunya. Mendekatiku dan berbisik sesuatu yang sempat merontokkan harga diriku. Harga diri seorang lelaki, yang dipercaya bapak memelihara mama, seakan tak percaya dia memberi kabar bahwa mama selama dua hari ini ikut wanita itu menjemput berkah ramadhan, di persimpangan jalan yang ramai di ibukota. Sebagai peminta-minta. Semua jadi jelas, makan mewah yang tersaji ketika sahur terjawab sudah. Namun tak akan pernah mengubah apapun, rasa sayang hormatku bahkan berlebih untuk mama.

Kau tetap mamaku yang mulia. Bidadari yang tertawan di dunia.

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites