Sesuatu itu (cerpen puisi)

Tersungkur aku, bersujud diatas sajadah biru. Mencoba cari sesuatu itu yang dapat buatku menangis pilu. Membuatku ratapi yang lalu.

Namun duhai kemana sesuatu itu? Hanya kudapati wangi sajadah sergap hidungku, dan indah motifnya ditangkap binar mataku. Namun tak kudapati inginku, menangis mengharu biru.

Mungkinkah hati telah keras membatu. Mungkinkah jiwa terlampau terlalu. Jauh dari benarMu, abaikan titahMu. Berlumur murkaMu.

Datang kini padaMu, aku si manusia benalu. Manusia tak tahu malu. Hanya bisa banyak mau, acap abai apapun mauMu. Ampuni aku.

Namun kutahu satu. Selangkah kepadaMu, berlari Kau padaku. Maka inilah aku, datangiMu TuhanKu. Dekap aku, raba jiwaku, mohon beri sesuatu itu, yang dapat mengharu biru.

Sungguh ku rindu, tangisku. Basahi jiwaku, basahi ragaku, lunakan hatiku. Sungguh kurindu.

Ini datangku, mohon ridhoMu. Kini kutahu, besar kasih ampunanMu. Sajadah biru saksiku.

Duhai hati, dengarlah kini, jangan abai lagi. TuhanKu Satu, Maha Pengampun, Maha Pengasih. Datangi selalu, rendahkan nafsu, bersihkan diri. Sajadah biru saksi tangisku.

Dapatkan sesuatu itu. Sebelum azal menjemputmu. Sesalkan yang lalu, tekadkan yang baru.

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites