Gelisahmu dulu itu (cerpen)

Kutahu saat ini dirimu begitu tegang. Meski menunduk dapat kulihat gelisahmu disampingku. Waktu sedang berpihak pada kita, namun kedua telapak tanganmu seakan tak percaya. Berkali-kali saling menggenggam dan sedikit bergetar.

Kuhanya bisa tersenyum, maafkan aku. Namun gelisahmu itu bukti bahwa kau belum pernah begitu, dan bahwa kau tak sabar menunggu. Ingin kusentuh jemarimu dan kukatakan ‘sabar sayangku..’

Tak sanggup kuangkat kepalaku. Masih tertunduk pula aku dekatmu. Namun kupasang baik2 kupingku. Kudengar semua dengan hati menunggu.

Hingga tibalah saatnya, kau ucap kalimat itu. Bersalaman erat kau dengan ayahku dan satu nafas kau keluarkan niatmu. Hanya satu kata itu yang buat aku terharu. Sah! Semua menjadi jelas dimataku. Bulir airmata menggenangi bahagiaku.

Kala kuangkat kepalaku. Kau berikan tangan kanan menyalamiku. Dan tanpa ragu kucium tanganmu imamku.

Sejak itu, kau yang ada dalam langkahku. Ridhomu menyertai Ridho Tuhanku. Tegur aku bila terlalu, maafkan bila banyak menggerutu. Karena kau kini suamiku.

(Sebuah cerpen dini.isnandi.net)

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites