Nasehat dikutip dari Laily..
Nasehat kawan baik : Laily Dwi Arsyianti - via facebook - cheers me up again ..:D
Doa Rasulullah (Kesusahan/Kesedihan, Kelemahan/Kemalasan)
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan dominasi manusia.”

Demikianlah bunyi salah satu penggalan bait doa-doa Rasulullah yang terangkum dalam al-Ma’tsurat.
Secara specific Rasulullah menguraikan keempat fenomena di atas dalam doa beliau. Hal ini bisa
menunjukkan bahwa keempat hal tersebut termasuk dalam hal-hal yang perlu dihindari. Jika ditelaah
satu per satu maka dapat kita perhatikan keempatnya merupakan fenomena yang selalu hadir dalam
keseharian kita hingga saat ini.
Kasusahan dan Kesedihan
Hendaklah kita jadikan sabar dan sholat sebagai penolong kita. Rahmat Allah sangatlah luas dan hendak
pula kita tidak berlarut dalam kesusahan dengan semangat dan berusaha, dan tidak pula larut dalam
kesedihan. Bisa jadi kesusahan dan kesedihan kita kemudian berkembang menjadi penyakit lemah dan
malas. Dan hanya kepada-Nya-lah kita memohon pertolongan.
Firman Allah swt dalam QS an-Nahl: 53
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa
kesengsaraan, maka kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”
Setelah tercabut oleh-Nya apa yang menjadi keluhan (kesusahan dan kesedihan) maka hendaklah kita
bersyukur dan bersabar agar kita tidak termasuk dalam orang-orang yang lalai.
Allah swt berfirman dalam QS Hud: 9-11
”Dan jika Kami memberikan rahmat Kami kepada manusia, kemudian (rahmat itu) kami cabut kembali,
pastilah dia menjadi putus asa dan tidak berterima kasih. Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya
setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, ”Telah hilang bencana itu dariku.”
Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga, kecuali orang-orang yang sabar, dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
Kelemahan dan Kemalasan
Kedua hal ini merupakan penyakit bagi orang-orang yang lalai. Karena keduanya dapat menyebabkan
seseorang menunda-nunda dalam pelaksanaan ibadah, menunda-nunda dalam berbuat kebaikan dan penyakit ini turun dari panjangnya angan-angan tentang keyakinan termasuk yakin jika ia ada pagi ini maka ia akan ada sore harinya.
Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang
lemah. Namun keduanya itupun sama memperoleh kebaikan. Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah.
Jikalau engkau terkena oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: “Andaikata saya
mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.” Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir
Allah dan apa saja yang dikehendaki oleh-Nya tentu Dia melaksanakannya,” sebab sesungguhnya ucapan “andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan.” (Riwayat Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebagian besar manusia yaitu kesehatan dan kelapangan waktu.” (Riwayat Bukhari)
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. menepuk bahuku lalu bersabda:
“Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau itu orang gharib - orang yang berada di suatu negeri
yang bukan negerinya sendiri - atau sebagai orang yang melalui jalan.” Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma
berkata: “Jikalau engkau bersore-sore, maka janganlah engkau menanti-nantikan waktu pagi dan jikalau
engkau berpagi-pagi, janganlah engkau menanti-nantikan waktu sore - yakni untuk mengamalkan kebaikan itu hendaklah sesegera mungkin. Ambillah kesempatan sewaktu engkau berkeadaan sehat untuk mengejar kekurangan di waktu engkau sakit dan di waktu engkau masih hidup guna bekal kematianmu.” (Riwayat Bukhari)
Allah swt berfirman dalam QS al-Munafiqun: 9-11
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah dari sebagian apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata (menyesali), ”Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh. Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Allah swt berfirman dalam QS al-Muzzammil: 20
“Dan apa saja - perbuatan baik - yang engkau sekalian berikan untuk dirimu sendiri, nanti pasti akan
engkau sekalian dapati di sisi Allah, keadaannya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya dan
mohonlah pengampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.”
Bukankah kita menginginkan segera mendapatkan kebaikan dan balasan-Nya? Maka, bukankah lebih baik
kita bersemangat untuk fastabiqul khairaat (berlomba-lomba dalam kebaikan)?
Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Tuhannya ‘Azzawajalla, firmanNya
- ini juga Hadis Qudsi :
“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)
Demikian pula dalam melakukan sesuatu, usahakan sekuat mungkin tidak meminta bantuan orang lain
apabila kita sanggup melakukannya sendiri (tidak mendesak). If we can afford going everywhere by
public cab (using our own money/we’re not that poor), just please do not ask other to drive us unless
they offer to or unless it is their job.
Dikisahkan seorang sahabat sedang mengendarai unta, kemudian tongkatnya terjatuh. Di bawahnya, di
samping untanya, berdiri seorang sahabat lain. Meskipun sahabat yang mengendarai unta bisa dengan
mudah meminta tolong sahabat yang berdiri di samping untanya untuk mengambikan tongkatnya yang
terjatuh, ia tidak melakukannya, melainkan ia turun dari untanya kemudian mengambil tongkatnya
sendiri.
Berhati-hatilah jika kemalasan ini berlanjut, karena jika terkait harta ketika kita sudah malas dalam
mengeluarkan harta –bahkan untuk diri sendiri- dan lebih memilih meminta bantuan orang lain dengan
dalih berhemat padahal sesungguhnya takut akan kekurangan harta kita maka bisa jadi penyakit kikir
bin bakhil telah menghinggapi.
-Ly, May 15, 2009-








[11.03.2010 01:45], Unknown Country - Unknown City:
[11.03.2010 01:38], United States - Santa Clara:
[11.03.2010 01:35], Indonesia - Jakarta:
[11.03.2010 01:32], Russian Federation - Moscow: