Mengapa Ibu Tidak Mengerti?..

Hari itu sangat panas, Aryo menyetop angkot biru yang lewat kesekian kalinya setelah membulatkan hati untuk pulang kerumah.

…Yang paling penting
buat Aryo adalah
tidak ingin
dianggap ‘kurang gaul’…
Dua hari Aryo pergi dari rumah sejak pertengkaran dengan seorang wanita yang melahirkannya. Hari itu merupakan puncak kemarahan Aryo karena beliau tidak mengijinkannya mengikuti 1 minggu Bali Camp , alasan Ibu adalah karena kegiatan ini dilaksanakan bukan dari SMU 1 Bogor tempatnya menuntut ilmu, namun dilaksanakan oleh organisasi grafiti yang diikutinya baru dua bulan belakangan ini.

Memang Aryo akui ia mengikuti Bali Camp bukan karena terpilih dalam 10 orang yang karya grafitinya akan dilombakan di ajang grafiti Internasional namun karena sebagai orang yang baru dua bulan join kedalam organisasi Aryo merasa wajib untuk mempererat persaudaraan dengan anggota lain yang juga ikut kesana. Yang paling penting buat Aryo adalah tidak ingin dianggap ‘kurang gaul’, hal ini Aryo sembunyikan dari orangtuanya. Segenap upaya dan alasan dikeluarkan Aryo untuk mendukung keinginannya ikut Bali Camp.

Hari itu sang Ibu menyampaikan keputusan bulat hasil musyawarah Ibu dengan Bapak. Bapak tidak ada disana, Ibu mengajak bicara Aryo berdua saja, Aryo tidak terima kenyataan itu, ” Aah payah deh! Ibu gak ngerti anak muda sekarang sih! Ibu cuma lulusan SMP! Jaman dulu gak ada acara internasional gini! Jaman udah berubah buuu..acara beginian gak diadakan setiap hari gitu loh! payaah..Bapak juga payaah! katanya Bapak lulusan Master tapi udah ikut ga gaul kayak Ibu!!..” Teriak Aryo seraya pergi dari rumah membawa tas yang sudah disiapkannya sejak pagi, Aryo berencana kabur dari rumah hanya untuk menyadarkan kedua orangtuanya akan anak semata wayang yang dicintai mereka. Aryo juga sebenernya kaget bisa mengeluarkan kata kata sekasar itu pada Ibu. Biasanya mereka jarang bicara satu sama lain. Setiap hari pembicaraan antara Aryo dan kedua orangtuanya hanya basa basi biasa seperti ”Pagi Bu”, ”Pagi Pa”, ”Bu Aryo pulaaang”, ”Bu Aryo pergi lagi yaa ada acaraa.. ” Aryo lupa kapan terakhir mereka bercanda bersama, mungkin sejak Aryo SMP, sejak Aryo punya dunia sendiri, dunia anak muda. Dan Aryo menganggap Ibu dan Bapaknya sedikitpun tidak mengerti dunia Aryo. Dunia kebebasan dan kreatifitas. Hanya Aryo dan teman-teman sebaya yang bisa mengerti.

Namun Aryo tidak menyangka bahwa dua hari pergi dari rumah sangat berat bagi dirinya. Selama dua hari Aryo berpikir mengenai banyak hal, terutama Aryo semakin menyadari bahwa banyak sekali kasih sayang yang diberikan Ibu dan Bapaknya. Uang jajan yang cukup besar salah satunya sehingga tabungan Aryo cukup banyak untuk menyewa wisma selama satu minggu dibayar dimuka yang sekarang ditinggalinya, dan berfoya foya cukup banyak mentraktir kawan-kawan di club grafitinya. Namun wisma itu terasa sangat dingin, di rumah meski hanya ada Ibu yang jarang mengajaknya bicara namun banyak cemilan yang beliau sajikan, seluruh kebutuhan sekolah dan bermainnya dipenuhi, fasilitas game dan elektronik yang lengkap untuk memuaskan hobinya. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Aryo kangen Ibu dan Bapak, Aryo kangen rumah, namun Aryo takut pulang. Takut Ibu dan Bapak marah, namun mengingat sifat Ibu yang lemah lembut, tidak pernah marah sedikitpun padanya, Aryo membulatkan dirinya untuk pulang. Aryo sangat kangen pada Ibu dan berjanji akan bersimpuh dihadapan Ibu untuk meminta maaf.

Angkot yang dinaiki Aryo mulai memasuki jalan menuju perumahan Yasmin Bogor. Lima menit lagi Aryo akan berada di pintu gerbang perumahan dan beberapa tapak kaki menuju rumah besar di jalan boulevard Yasmin Bogor.

Aryo turun dari angkot. mulai berjalan menapaki jalan boulevard. Dua hari terasa dua tahun baginya, mungkin Ibu pun merasa begitu bila ditinggal Aryo, Aryo ingin tahu nanti apakah Ibu juga kangen Aryo.

Beberapa langkah dari pintu gerbang rumah Aryo mendadak dada Aryo berdebar keras. Tubuhnya terasa menggigil dan hampir kehilangan tenaga. Pintu gerbang rumah terbuka penuh, banyak kursi berjejer di garasi rumah, ada banyak rangkaian bunga di depan rumah, dan disana ada eyang dan saudara-saudara jauh sedang berkumpul di dekat pintu gerbang. Aryo jatuh pingsan di trotoar jalan.

Sedikit mata Aryo terbuka, Aryo dibaringkan di ruang tengah rumah, sebenarnya Aryo sangat berharap tidak akan pernah membuka mata selamanya. Namun Tuhan berkehendak lain, Aryo masih bisa membuka mata dan melihat seseorang terbaring di hadapannya dikelilingi oleh sanak saudara dan tetangga jauh maupun dekat. Orang itu di tutupi kain putih, terbujur kaku.

“sss…ssiapa?” tanya Aryo kepada seorang paman disebelahnya, menunjuk kepada tubuh kaku dihadapannya. ” Ibu kamu..” ujar paman getir. Aryo merasakan tubuhnya tergonjang hebat melebihi apapun. Hatinya hancur melebihi kehancuran apapun. Yang dirasakan kemudian Aryo mati rasa. Seluruh pandangannya kembali gelap. “Ibu maafkan Aryo..maafkan..Aryo cinta Ibu, sangat mencintai Ibu..” bisik Aryo dalam hati, hanya air mata yang mengalir tipis itu bisa bicara. Aryo tak sadarkan diri.

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites