Sekali lagi tentang MSG

May 09 2008

Beberapa waktu lalu, husband dapet parsel yang isinya berbagai macem snack made in lokal sini (chinese company). Salah satunya saya coba makan Snack chiki sotong. Belum habis setengah dus mendadak kepala jadi pusing, kleyengan. Baca komposisinya, makanan ini mengandung MSG (monosodium Glutamate). Namun tidak disebutkan jumlah kandungan MSG yang terkandung. Tak aneh lah, semakin banyak produsen makanan yang menganggap sepele kandungan MSG dalam makanan. Masyarakat dituntut pintar untuk memilih makanan yang baik dan sehat untuk dikonsumsi, kalo produsen pastinya menuntut keuntungan sebesar-besarnya dari penjualan makanan, semakin gurih makanan yang dijual dan masyarakat semakin suka, laba makin gedee..

Namun tak jarang juga saya temukan makanan yang tidak mengandung MSG dan reduced salt (tertera pada kemasan). Setelah saya coba memang terasa kurang gurih namun tetap enak. Perut kenyang.

Eniwei, jika anda penyuka makanan gurih karena kandungan MSG seperti penyuka bakso kuah yang anda lihat sendiri tukang baksonya menaburkan satu sendok teh vetsin kedalamnya, maka anda harus mencobanya sekali-kali tanpa MSG atau buat bakso sendiri di rumah. Gurih pada makanan yang mengandung MSG hanya terasa nikmat sesaat di lidah saja. Dampak lebih besar anda rasakan pada kemampuan otak. Jika para produsen makanan menganggap omong kosong hasil penelitian para ahli terhadap kandungan MSG pada makanan, maka saya tergolong yang mempercayai pembuktian hasil ilmiah tersebut. Cobalah anda kunyah satu sendok teh vetsin, yang anda rasakan pasti pusing kepala, cukup experience saja jadi pembuktian kan? Dukung makan sehat bagi tubuh dan otak! (yooo..!)

Sempat penasaran juga dengan presiden/wapres yang membuka pesta bakso di Yogyakarta, Indonesia, beberapa waktu lalu, apakah juga beliau memberikan wejangan kepada para tukang bakso untuk membatasi kandungan MSG/vetsin pada bakso2 mereka? Dududuuh..pentiiing banget buat mengurangi kandungan vetsin pada bakso, kadang saya lihat tukang bakso itu ga tanggung tanggung pake vetsin banyak banget. Apalagi di Indonesia bakso bisa ditemui di tiap tikungan, udah jadi brand makanan rakyat..

Ini saya kutip dari majalahTRUST.com, bisa jadi acuan. Meski dikatakan MSG aman jika dikonsumsi dibawah kandungan minimum, pake atau ga, its our choices..

**
Ribut-ribut soal monosodium glutamat (MSG) sebagai bahan penyedap kembali mencuat. Kali ini, Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) yang mempersoalkan kandungan monosodium glutamat alias vetsin dalam makanan ringan yang biasa dikonsumsi anak-anak. Menurut lembaga swadaya masyarakat ini, banyak makanan ringan dalam kemasan tak mencantumkan kandungan MSG yang bisa mengancam kesehatan anak.

Kata Nurhasan, peneliti di PIRAC, lembaganya meneliti 13 merek makanan snack sejak Juni hingga Juli 2003. Dari 13 merek itu, ternyata sebanyak tujuh merek tak menyebutkan adanya MSG dalam kemasannya. Ketujuh merek itu adalah Chiki, Chitato, Cheetos, Taro Snack, Smax, Golden Horn, dan Anak Mas. Padahal, sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988 tentang bahan tambahan makanan, kandungan MSG dalam makanan harus disebutkan.

Sementara itu, enam merek makanan ringan lainnya memang menyatakan adanya kandungan MSG. Tapi, menurut Nurhasan, berapa gram kandungan MSG ini tak disebutkan secara tegas. Hal ini tentu tak sejalan pula dengan prinsip kejelasan bagi konsumen.

Dari hasil penelitian itu pula, PIRAC memperoleh persentase kandungan MSG dalam makanan snack yang dimaksud. Tiga makanan ringan, yakni bermerek Cheetos, Chitato, dan Twistko, ternyata mengandung MSG lebih dari 1% (lihat Info Grafik). Bayangkan, bila seorang anak memakan sampai 100 gram snack berkadar 1,02% MSG, berarti si anak telah mengonsumsi MSG sebanyak 1,02 gram. Bagaimana jadinya kesehatan anak bila pola mengonsumsi snack ber-MSG ini terjadi berulang kali?

Tapi, berapa gram persisnya konsumsi MSG yang bisa membahayakan kesehatan anak? Nurhasan mengaku tak bisa memastikan. Hitung-hitungan ini memerlukan penelitian khusus,” ucapnya. Masalahnya, hingga sekarang belum ada penelitian klinis tentang dampak MSG terhadap kesehatan manusia. Boleh jadi ini karena kendala etis penelitian yang tak membolehkan manusia dijadikan kelinci percobaan. Kalau di bidang obat-obatan, penelitian klinis masih memungkinkan.

Yang jelas, Nurhasan menyodorkan referensi berdasarkan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat. Menurut institusi ini, batas aman MSG yang bisa dikonsumsi adalah di bawah dua gram. Kalau sudah dua gram sampai tiga gram, sebagaimana hasil penelitian lembaga itu pada tahun 1995, MSG bisa menimbulkan alergi. Dan, bila sampai mengonsumsi lima gram MSG, ini bisa membahayakan orang yang menderita penyakit asma.

Dulu, pada tahun 1975, Institut Pertanian Bogor pernah meneliti efek MSG terhadap ayam. Hasilnya, unggas itu mati setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Menurut Nurhasan, efek negatif ini bisa dianalogikan dengan kasus Chinese Restaurant Syndrome. Dalam kasus ini, seorang dokter di Amerika makan di sebuah restoran Cina pada tahun 1969. Sekitar 20 menit kemudian, dia merasa mual, pusing, dan kemudian muntah-muntah. Sindrom atau kumpulan gejala ini terjadi lantaran makanan Cina mengandung banyak MSG. Ini berarti pula, Mengonsumsi MSG tergolong berisiko, ujar Nurhasan.

Karena itulah, kata Nurhasan lagi, PIRAC meminta agar pemerintah melalui Departemen Kesehatan membuat peringatan bahwa mengonsumsi MSG lebih dari satu gram adalah berbahaya. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat, yang menyebutkan bahwa batas aman MSG adalah di bawah dua gram.

Selama ini, yang digunakan selalu patokan dari Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, yang hanya menyatakan bahwa pemakaian MSG secukupnya. Tak bisa hanya dikatakan secukupnya. Harus ditegaskan juga batas amannya dalam satuan gram atau miligram, tutur Nurhasan menambahkan.

Ternyata, hasil penelitian sekaligus pendapat PIRAC itu langsung diprotes keras oleh Sunarto Prawiro Sujanto, Ketua Persatuan Pabrik MSG dan Glutamic Acid Indonesia. Pernyataan PIRAC itu omong kosong. Penelitiannya bohong, kata mantan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan (POM) pertama pada tahun 1974, ini.
Sunarto menambahkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat sudah secara resmi menyatakan MSG aman. MSG beredar di Amerika dan tak merugikan kesehatan konsumen, ujarnya.

Ia juga mengkritik hasil penelitian PIRAC tentang kadar MSG dalam berbagai merek makanan ringan. Menurut PIRAC, kandungan MSG yang dimaksud antara 0,46% dan 1,02%. Kalau benar kandungannya sebesar itu , berarti sebungkus makanan snack yang beratnya antara 14 dan 20 gram hanya mengandung MSG antara 64,4 miligram hingga 204 miligram. Tapi, PIRAC mengatakan bahwa makanan ringan tersebut seberat 200 gram berarti jumlah MSG-nya adalah 0,92 gram sampai 2,04 gram. Tak ada makanan ringan seberat 200 gram, kata Sunarto.

Di Amerika pun, snack dalam kemasan kaleng hanya seberat 180 gram—artinya tak sampai 200 gram. Di kalengnya memang disebutkan adanya kandungan MSG, tapi tak dicantumkan kadar kandungannya. Sebab, tak ada aturan yang mengharuskan itu. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 juga tak mengharuskan disebutkannya kandungan MSG. Bahkan menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 235 Tahun 1979, MSG atau vetsin boleh dipakai, asalkan secukupnya. Itu semua membuktikan bahwa MSG memang aman untuk dikonsumsi, ujar Sunarto.

Sunarto tak lupa memprotes kalangan dokter yang acap mengatakan bahwa MSG berbahaya. Omong kosong kalau ada orang sakit karena makan MSG, ucapnya. Lagi pula, sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa membuktikan bahaya yang dimaksud. Pernah bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada melakukan penelitian serius tentang efek MSG. Penelitian ini dibantu oleh Departemen of Mathematical Sciences, Faculty of Business and Technology, University of Western Sydney, Australia.

Hasilnya? Sebagaimana dipresentasikan di Italia pada 12-14 Oktober 1998, ternyata tak ditemukan gejala gangguan kesehatan pada orang-orang sehat yang makanannya ditambah MSG sampai tiga gram pada setiap porsinya. Tekanan darah, kecepatan denyut nadi, dan pernapasan pada kelompok sampel orang-orang yang diberi MSG antara 1,5 sampai 3 gram juga tak berbeda nyata dengan mereka yang diberi makanan tanpa MSG.

Atas dasar itu, menurut Sunarto, batasan kandungan MSG yang bisa dikonsumsi tak perlu dicantumkan. Berbagai makanan ringan itu pun paling banter kandungan MSG-nya 0,004%. Kalau terlalu banyak, rasanya asin. Jadi enggak laku dong, katanya.

Hal senada juga diutarakan Ketua Badan POM, Sampurno. Menurutnya, makanan ringan yang diteliti PIRAC itu aman untuk dikonsumsi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa MSG aman bagi kesehatan. Tentu saja bahan ini tak boleh sampai dikonsumsi oleh bayi, terutama yang masih berusia di bawah tiga bulan. Kendati demikian, Sampurno sependapat bila kandungan MSG harus dicantumkan di label kemasan makanan.
**Riza Sofyat, Dikky Setiawan, Kartina Ika Sari, dan Feby Indirani – MajalahTRUST.com

Incoming search terms:

  • apakah chitato aman
  • bolehkah ibu hamil makan chetos
  • bolehkah ibu hamil makan snack ringan
  • bumil makan chitato
  • ibu hamil muda sekali makan ciki boleh tidak
TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites

You might also like

MTI UI here i come.. My husband, dony isnandi, Thanks ya for all your support thiz just the beginning of the real battle i...
Sunway Piramide : lomba mewarnai ‘lost world of Tambun’ (2) Puas menikmati donat bulet Jco di Sunway Piramide, tak dinyana disebelah kios Jco ada event launching...
kartu kredit banci ^^ Semasa masih gawe di Jakarta dulu para sales kartu kredit gencar menawarkan kartu kredit dengan berbagai...
Bantu sebisa mungkin si kecil berdialog Putri kami Audine pindah ke Malaysia ini sejak berumur 2 tahun. Awal datang kesini baru belajar bicara....
Grab This Widget

7 responses so far

  • icha says:

    saya tetap MENOLAK MSG!
    They horible…bukti nyata saya rasakan.klo makan pake vetsin..langsung kerongkongan kering terus, kakakku punggungnya sakit, suamiku..langsung ngga bisa tidur dan sweating a lot!!

    I wish i knew waktu kecil saya pasti menolak Chiki and teman2nya..pasti sy jauh lbh pintar dr skarang ya…!

    -Good article-

  • Dini Susanti says:

    betul, jauhi MSG sebisanya dalam masakan, terutama untuk anak2.

    saya mau berbagi resep tanpa msg :
    bahan :
    sayur caisin,
    jamur merang,
    paprika,
    bawang bombay, bawang putih, cabai
    cara:
    tumis semua bahan dalam minyak goreng (2sdm) beri garam secukupnya, masukkan sayur, angkat ketika sayur layu.
    sebenarnya setiap tumisan masakan saya sederhana, hanya bahan sayurnya pakai bumbu sederhana, jadilah tumisan yang enak dimakan dengan nasi hangat. tumisan dibuat langsung habis dimakan saat itu juga.
    enak dan sehat..

  • abdul says:

    saya setuju msg tidak berbahaya tapi bagaimana klo msg dikonsumsi terus mnerus oleh orang dwasa pa gk mnimbulkN AKIBAT BURUK PADA MASA tua kan mnurut yang saya KETahui msg tidak bisa dikeluarkn artinya msg mengendap di dlm tubuh qt n kan tmbulkan kanaker, gmn mnrut anda

  • Dini Susanti says:

    Justru artikel diatas agar kita waspadai makanan yang mengandung banyak msg, meski kontroversi antara berbahaya dan tidak, namun akibat langsung dari banyak makan mengandung msg sudah bisa langsung terasa seperti pusing kepala, ingin muntah seperti yang saya alami pada kejadian di artikel diatas.

  • rHey eLva says:

    god article…..

  • ra2 says:

    hmmm….klo bikin chetos n taro dkk tanpa MSG resepnya gmn tu???? q pgn cb tu klo ada resepnya.

  • ivo says:

    Kalo mau tumisan yang gurih tanpa msg, tambahin aja jamur (bisa jamur merang, tiram atau jamur lain yang edible). Kalo mau sayur yang gurih, atau sop tanpa msg, rebus ayam atau daging ditambah batang daun bawang dan kulit wortel (atau wortelnya aja sekalian) (Ini pernah saya baca di koran apa gitu, saya lupa). Saya sih seringnya begitu. So far, enak kok. Dijamin deh :)

Leave a Reply