Anak 2 tahun bandel? Tegur dengan cinta..

Putri saya sudah berusia 2 tahun. Setiap 2 kali dalam seminggu sekolah di playgroup Al-May. Dalam waktu dekat saya juga akan mencari sekolah lain agar setiap hari dalam seminggu beliau bisa bersekolah. Tidak bikin anak capek? menurut saya tidak, terutama Neng Audin tergolong anak yang pintar dan kreatif. Sesaat setelah buka mata di pagi hari beliau akan mencari kesibukan yang selalu bikin saya takjub, seperti main air, mencoret dinding rumah, ikutan bibik mencuci baju, mengajak jalan-jalan, ke warung, main bola, teriak teriak, bernyanyi, nonton, wah banyak lain deh.. Dan di usia ini kadang tantrum nya datang. Tantrum datang jika tidak ada kesibukan lain yang menarik hatinya, atau beliau bosan dengan mainan yang ada. Jadi Neng harus selalu dibuat sibuk, sibuk otaknya untuk berfikir, sibuk matanya untuk melihat, sibuk telinganya mendengar music, sibuk tangan memainkan alat, dan sibuk kaki berlari-lari..Nah sekolah setiap hari salah satu solusi untuk mengurangi tantrumnya dan menyalurkan kreatifitasnya. Solusi lain juga saya akan membeli banyak alat permainan baru agar Neng semakin sibuk menggunakan inderanya.
………..
Jika tantrum datang, saya pernah mengeluh pada papah Dony. Wah Neng mulai bandel nih..dan sulit menanganinya. Jika tantrum barang yang dimainkannya bisa dibanting atau susu yang diminumnya tumpah..pokoknya menanganinya capek deh. Yang saya lakukan biasanya meninggalkannya sendirian, saya biarkan Neng marah-marah, menangis, kesal.. Lalu saya dekati setelah sekitar satu menitan. Biasanya marah atau tangisnya mereda, atau jika belum maka akan mereda, setelah saya dekati saya minta peluk dan menciuminya. Biasanya sih beliau pasti balas peluk.
Ternyata cara saya cukup jitu. Jika beliau tantrum, Neng jadi paham pasti mamanya menjauh sebentar. Sehingga tantrumnya tak pernah lama. Nah itu baru satu solusi jika menghadapi tantrum. Bagaimana jika kreatifitasnya mulai datang? kreatif dalam banyak pengertian orang disebut “bandel” atau “nakal”. Pada banyak artikel yang saya baca, memang di usia batita dan atau dalam rentang usia 2 sampai 4 tahun, anak memulai masa eksplorasi. Eksplorasi emosi, dan eksplorasi keingintahuan. Baru saja hari ini saya menemukan satu artikel bagus mengenai cara menangani perilaku anak tersebut, bagus juga.. terima kasih untuk penulis artikel ini “Irawati Istadi: Mendidik dengan Cinta” dan artikel ini saya kutip dari blog suryaningsih
** artikel Mendidik Dengan Cinta
“Dasar bandel! Dasar anak nakal! Sudah dibilangi kalau minta susu ya diminum, dihabisin. Nggak malah ditumpahkan ke lantai seperti itu! Susu itu mahal!” Seorang ibu uring-uringan memarahi Fifi, anaknya yang baru berusia 3 tahun. Bagaimana ia tidak jengkel, bila lantai yang baru saja dipel kini kotor lagi oleh tumpahan susu si kecil. Si kecil pun diam sambil menatap wajah ibunya yang kecapekan.
Sementara seorang ayah memarahi Latif, anaknya yang kelas satu SD, setelah dilapori wali kelasnya bahwa anaknya itu ketahuan mencuri uang temannya. “Kecil-kecil sudah jadi pencuri! Mau jadi apa kamu kalau besar nanti?” Katanya sambil berkacak pinggang.
Memang, mendidik anak memerlukan kesabaran ekstra. Ada kalanya orang tua kehilangan kontrol saat kondisi fisiknya lelah atau emosinya tidak stabil. Kata-kata makian terhadap anak seperti bandel, nakal, badung, dan sebagainya, seringkali meluncur tanpa dapat ditahan. Padahal, makian atau celaan seperti itu akan sangat menjatuhkan harga diri anak dan berakibat buruk bagi perkembangannya.
Mencerca Pribadi Hancurkan Harga Diri
Dalam masa perkembangannya semenjak lahir, setiap anak belajar menilai segala sesuatu. Begitu juga yang terjadi pada persoalan penilaian diri. Setiap anak akan menilai dan memandang seperti apa keadaan dirinya sendiri sesuai dengan cara pandang orang tuanya terhadap diri si anak.
Apabila pribadinya sering dicerca dengan julukan-julukan burukseperti anak nakal, bengal, tak tahu aturan, pencuri, bodoh, pemalas, dan sejenisnya, maka akan terbentuk keyakinan dalam diri anak bahwa memang seperti itulah sebenarnya taraf kepribadiannya. Selanjutnya ia akan merasa wajar jika berbuat nakal, toh ayah ibu menyebutnya ‘anak nakal’.
Perkembangan buruk seperti ini bila diteruskan akan sampai pada tahap di mana anak akan selalu berusaha berperilaku sesuai anggapan terhadap kepribadiannya tersebut, sehingga ia akan merasa tak pantas jika berbuat baik, yang notabene menyalahi keyakinannya sebagai anak nakal dan bengal tersebut.
Sampai tahap ini perilaku anak bisa jadi sangat membuat orang dewasa terheran-heran, sebab ia sudah tak mempan lagi diberi nasihat dan motivasi untuk mau berbuat baik, kecuali jika perbaikan dimulai dengan mengubah cara pandangnya yang keliru dalam menghargai pribadinya sendiri. Sungguh ini sebuah perbaikan yang sulit untuk dilakukan.
Begitulah kenyataannya, bahwa setiap orang membentuk kepribadian sesuai dengan cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Itu sebabnya, akan sangat fatal akibatnya jika dalam masa perkembangan anak diberi contoh untuk menilai dirinya dengan sebutan dan panggilan yang buruk.
Anak tetap anak, sekalipun perilakunya buruk. Yang buruk adalah perilakunya, sementara pelakunya tetaplah anak baik. Jika patut dibenci, maka perilakunya yang harus dikutuk, bukan pelakunya. Sang anak sebagai pelaku tetap berhak untuk dicintai, disayangi, dan dihargai.
Jika Anak Salah, Tegur Perilakunya
Ketika seorang anak berbuat kesalahan, orang tua harus menegur ‘perilaku’ tersebut, tanpa mencela pelakunya. Anak harus mengerti letak kesalahannya. Ia harus mengerti betul bahwa orang tuanya marah, kecewa dan membenci perilaku yang baru saja dilakukannya, bukan marah dan membencinya.
Agar anak tahu bahwa orang tuanya tidak menyukai perilakunya, maka sebaiknya orang tua menunjukkan perasaan kecewa, marah dan ketidaksukaannya dengan sejelas-jelasnya. Bisa dengan mimik wajah yang penuh emosi, bisa pula dengan kata-kata yang keras.
Kembali pada kedua contoh kasus di awal tulisan ini, untuk Fifi yang menumpahkan susunya, akan lebih baik bila ibu marah dengan menegur perilakunya. “Fifi, sudah ibu bilangi berkali-kali kalau menumpahkan susu itu jelek! Itu perbuatan mubadzir! Susu itu harganya mahal!”
Sedangkan untuk kasus Latif, akan lebih baik bila ayah tidak menyebutnya sebagai pencuri. “Latif, kamu kan tahu mencuri itu perbuatan buruk? Dosa! Kenapa kamu melakukannya? Kalau butuh uang, bilang sama ayah, jangan mencuri milik orang lain!”
Kedua contoh tersebut sudah dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dirasakan oleh ayah dan ibu. Tujuannya agar anak mengerti perasaan orang tua tentang perilaku anak yang buruk itu. Di sisi lain diharapkan dalam diri anak sendiri akan timbul perasaan yang tidak enak menghadapi kemarahan orang tuanya.
Cukup Sekali Saja
Teguran orang tua cukup dinyatakan sekali saja, anak sudah bisa memahami perasaan orang tuanya. Bila pernyataan ini diulang-ulang justru akan menimbulkan kebosanan, dan anak merasa digurui. Cara mendisiplinkan anak seperti itu tidak efisien.
Banyak orang tua yang merasa perlu memberi nasihat panjang lebar terhadap kesalahan anaknya, karena menangkap kesan anak tidak mendengar nasihat yang dikatakan orang tua. Anak-anak itu berbuat seenaknya, tak mendengar omelan orang tua.Tingkah anak itu membuat orang tua jengkel dan merangsangnya untuk semakin memperpanjang dan mengulang-ulang nasihat, semata-mata untuk melampiaskan kejengkelannya.
Sekali lagi, sikap orang tua sebenarnya cukup dinyatakan sekali, ditunjang ekspresi wajah tak lebih dari satu menit. Inilah bagian awal dari metode disiplin yang disebut teguran satu menit. Selanjutnya, akan tercipta suasana yang tidak menyenangkan bagi anak. Pada saat ini sebaiknya orang tua diam sejenak agar suasana yang tidak enak ini benar-benar dirasakan anak. Manfaatkan waktu ini untuk menarik nafas panjang, seakan telah usai menyelesaikan tugas berat berupa pengungkapan rasa kecewa atas perilaku anak yang buruk.
Selanjutnya, Hargai Pelakunya
Bagian berikutnya adalah saatnya menggunakan kebenaran lain selain kebenaran pertama yang telah dikatakan terlebih dahulu. Kebenaran kedua ini adalah bahwa diri anak-anak sebagai ‘pelaku’ sebenarnya tetap baik, bahwa orang tua tetap mencintai sepenuh hati, karena mereka pada dasarnya adalah anak-anak yang salih.
Bagian kedua ini harus diucapkan orang tua dengan ekspresi wajah penuh kasih sayang dan kelembutan. Bila perlu dengan memeluk dan mencium, agar anak bisa langsung merasakan bahwa bagaimanapun buruknya perilaku mereka, ternyata orang tua tetap mencintainya. Pernyataan ini pun tidak perlu diulang, cukup sekali saja.
Misalnya, untuk kasus Fifi, setelah ibu marah dan menegur perilakunya yang buruk, maka sebaiknya ibu membelai kepalanya sambil berkata, “Fifi kan anak salihah, anak pintar. Lain kali jangan menumpahkan susu lagi ya sayang…”
Demikian juga untuk kasus Latif. Setelah ayah menunjukkan kemarahannya, alangkah bijaksananya bila kemudian ia memeluk anaknya itu seraya berkata, “Latif kan anak yang salih…Masa’ anak salih mencuri, nanti jadi temannya setan. Lain kali jangan diulangi lagi ya….”
Kelebihan Metode Ini
Metode teguran satu menit mempunyai banyak kelebihan.
Pertama, melatih disiplin anak-anak untuk bisa meninggalkan perilaku yang buruk. Dalam setengah menit yang pertama, anak mengerti bahwa tindakannya yang buruk telah membuat orang tuanya kecewa dan marah. Peristiwa itu akan masuk ke alam memorinya, selanjutnya memorinya mencatat mana perilaku baik yang disenangi orang tua, dan mana perilaku buruk yang membuat orang tuanya kecewa dan marah.
Selanjutnya, dalam setengah menit kedua, anak segera dapat menemukan kembali citra dirinya yang positif sebagai anak yang baik. Mereka sangat menikmati belai kasih orang tua dalam selang waktu yang singkat ini. Buahnya, mereka menjadi senang dan bagga terhadap dirinya sendiri yang baik seperti kata orang tuanya.
Satu hal penting yang tak boleh dilupakan orang tua adalah semakin anak menyenangi dirinya sendiri, semakin besar kemauannya untuk berperilaku lebih baik.
Keuntungan kedua, metode ini bisa digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Banyak orang tua mengeluh karena tak bisa memahami jalan pikiran anaknya. Banyak yang tak mengenal anaknya sendiri karena kemacetan komunikasi. Anak tak pernah mau menyampaikan permasalahan yang ia hadapi kepada orang tua. Dengan bantuan metode ini, sedikit demi sedikit mulai berkembang iklim keterbukaan antara orang tua dengan anak. Komunikasi pun menjadi lancar, akrab dan harmonis. Hal ini bisa terjadi karena keberanian orang tua menunjukkan perasaan terhadap anak tanpa mencerca. Dalam setengah menit pertama menyalahkan habis-habisan perilaku anak yang buruk. Tetapi setelah itu menyatakan bahwa diri pribadi anak selalu tetap baik dan dicintai orang tua.
Memang dalam praktiknya metode ini agak sulit dilakukan, karena orang tua seolah-olah harus ‘bersandiwara’. Setelah marah-marah harus mengungkapkan rasa sayang. Yang pasti, walaupun sulit, tetapi demi perkembangan jiwa anak, tentu metode ini layak untuk dibiasakan. (Oel)
Sumber: Mendidik dengan Cinta. Irawati Istadi










[16.03.2010 10:44], United States - Santa Clara:
[16.03.2010 10:41], Indonesia - Jakarta:
[16.03.2010 10:28], Poland - Warsaw:
[16.03.2010 10:25], Israel - Haifa:
dq
ak pnya keponakan usia 2 tahun biasanya kalo udah ngantuk, segalanya jd serba salah dan dia mulai seperti memilih2, tp lucu. misalnya ak mbetulin sepeda yg miring terus kponakanku merengek minta yg mbetulin mama saja, hehehe. ya udah biasanya klo gitu tandanya ngantuk.
December 29th, 2007 at 6:06 pmDini
ponakannya lucu juga ya,
January 2nd, 2008 at 7:55 pmanak saya juga begitu tuh,
tapi beliau tidak pilih2 waktu kapan saja bisa serba salah dan memilih yang dia mau. misalnya ingin susu, kadang minta papah yang buat kadang harus oleh mamahnya Hehehe.sabaaar..
dzeqe
wah sama nih anakku lagi kena tantrum kali ya,,ini bermula saat dia step saat sebelum ramadhan dan dah dua minggu ini uring2an terus marah2 smua barang di banting2 kalo dah mulai kemudian g amu didekati sama sekali pilih2 kadang hanya mau mamanya kadang eyangnya or kadang budenya pusing deh kadang kl marah terus sampai berhenti bernafas…. kapan ya gejala ini hilang
September 16th, 2008 at 1:20 pmDini Susanti
jika sudah sekolah dan ketemu banyak temen2 lain atau kira2 3th akan mulai berkurang tantrumnya.
Anak saya sekarang 3th, sudah bisa di ajarkan yang boleh dan yang ga boleh. anak 1-2 th bisa tantrum ga jelas penyebab marahnya, dan kalo udah umur 3 tahunan jika anak marah2 biasanya karena ada maunya, tinggal gimana orangtua menghadapinya.
Sekarang saya punya aturan, kalo saya ga setuju (karena memang ga baik buat anak) saya akan cuekin anak saya nangis, sampai berhenti sendiri. Biar beliau tau saya tidak setuju. Lain kali beliau minta sesuatu saya tidak ijinkan beliau tau kalo nangis percuma karena pasti saya cuekin tetep ga ijinkan.
Cuman masalahnya adalah, kadang beliau merajuk manja bikin gemes dan anak saya sekarang udah bisa ngomong “plis mama pliiiissss” nyerah deh ^^ hehehe..papahnya juga ga tegaan kadang.
Ya biar gimana pun ayo kita biarkan anak menikmati masa kecilnya dengan bahagia, dan bikin larangan jangan terlalu mengekang anak.
oya kalo anak banting2 barang, hati hati ya jangan sampai anak terluka, kalo mau dipeluk, peluk aja. Trus kalo bisa sih alihkan perhatiannya ke hal lain, misalnya banting barang karena ingin es krim tapi lagi batuk, peluk aja yg kuat sampai berontak bawa ke tempat tidur trus kelitikin sampe ketawa atau bawa ke kolam ikan untuk lihat ikan berenang, biasanya sih anak cepet lupa.
September 16th, 2008 at 3:37 pmaci
wahhh… info y berguna, apalagi sekarang kembar dah 2 tahun dan mulai “bandel” juga… TFS Din..
October 14th, 2008 at 2:01 pmmella
waaah, makasih banget, artikel ini kembali membangkitkan semangatku supaya tetep sabar dan terus mencari cara menghadapi tantrum si kecil tanpa harus menyakiti perasaan dia. Kadang setelah aku marahin dia, aku selalu merasa berdosa, tapi aku bingung gak tau cara menghadapi anakku. Thanks ya…
March 13th, 2009 at 8:37 pmsinta
sebenernya saya disini bukannya mau comment tapi mau minta tolong mengatasi masalah anak sy, sekarang anak sy berumur 2 th 4 bln, sudah sebulan yang lalu dia saya berhentikan menyusu asi, semenjak diberhentikan menyusu sifatnya jadi aneh, dia marah sama sy jangankan dicium atau dipeluk didekati saja dia ga mau, maunya sama neneknya terus, mau melakukan apa2 harus sm neneknya, contohnya dia minta dibikinin susu neneknya lagi repot jadi sy yg bikinin tapi dia ga mau marah2 sampai nangis berlebihan, apa yg dia mau harus dituruti kalo dia bilang A ya harus A kalau tdk dituruti nangisnya sangat histeris sampai mau pingsan. sekarang sy merasa kehilangan keceriaan dia, biasanya anak sy itu aktif dan ceria sering nyanyi2 nari2 main dengan teman2nya, sekarang semuanya ga ada lagi, sekarang anak sy maunya digendong terus sm neneknya dan setiap hari cuma nangis dan nangis… gimana cara mengatasinya sy bingung dikasarin sampai sy pukul dibaikin dan disayangi juga sudah tapi dia tetap seperti itu. sampai kapan anak saya bisa seperti dulu jadi anak yg ceria lagi.. thanks mohon bantuannya…
March 27th, 2009 at 7:55 pmhastuti
ibu sinta saya mo cb ksh saran ya:mungkin anak ibu jd pemarah karena skr dia sdh tidak minum asi lg.kmr pas menyapihnya mungkin membuat anak ibu terluka,jd skr sama mamanya jd g deket lagi.klo bisa kasih penjelasan ke dia,skr kakak udah gede jd g blh nenen lagi,kan yg nenen adik bayi.dan berusaha te2p deket ama anaknya dan sabar menghadapi kemauannya.dulu waktu proses penyapihan anak saya jg bgt,tp sy ksh pengertian berulang-ulang klo sdh gede g blh nenen lagi.Alhamdulilah dia ngerti n g rewel.maaf jika tdk membantu..
April 30th, 2009 at 2:57 pmfaricha
waktu pertemuan yang singkat antara ayah dan bundanya buat putri kecilku “Khalila” (2 tahun) minta waktu spesial untuk memperhatikannya! Kita Bertiga bertemu sekitar sebelum jam 7 pagi dan setelah jam 5 sore, nah saat jam sore tersebut ayah-bunda tidak boleh beraktivitas selain menemaninya seperti bermain dan membacakan buku atau dongeng. Sungguh seringkali kami terheran-heran dengan perkembanganya, setiap hari selalu ada saja perkembangan baru dalam sikap maupun kemapuannya. Namun seringkali kami harus mengecewakan dia ketika tantrumnya muncul karena kita sama-sama capek terkadang emosi yang muncul, sungguh putri kecilku bunda-ayahmu tak bermaksud buatmu kesal dan kecewa. Walau sesunggguhnya kami tahu bahwa kamu tidak bermaksud membuat kegudahan tapi kamu inginkan perhatian lebih dan tunjukkan kehebatanmu.
June 8th, 2009 at 10:27 amsandra
anak saya naya sekarang 2,4th. selama ini saya tidak pernah merasa kesulitan dalam menghadapi semua tahapan perkembangan anak saya.hanya akhir2 ini anak saya sulit sekali di pakaikan baju dia hanya mau pakai diapers saja,segala macam cara sudah saya pakai dari cara yang tegas hingga memberikan pengertian secara halus.saya hanya bisa memakaikan pakaian disaat anak saya tidur tapi setelah ia bangun ia melepaskan pakaiannya kembali dia bilang ‘tercekik’ pabila memakainya,padahal baju yang dipakaikan longgar dan nyaman.saya betul2 habis ide..tapi tidak menyerah.apa anda bisa memberikan solusi atau ide lain..trims
June 14th, 2009 at 7:16 pmmarina
Salam kenal,mo.minta saran jg dong sy jg lg bingung menghadapi anak sy laki2 usianya 2th 5bln.sy ibu rmh tangga yg pny kegiatan jg diluar paruh waktu.knp ya setiap klo.ditinggal prg sm sy segala aktivitas sehari2 itu pintar dilakukan bersama pengasuhnya.tp klo.ada sy dirmh itu selalu harus sy marah2 trs krn semua yg sy suruh jwbanya selalu tidak.contohnya:mandi,gosok gigi,mkn,minum susu,mkn buah.itu semua selalu jwbanya tdk sampai2 sy hrs lalukan memukul dia atau sy kurung dulu dikmr mandi,baru setelah terjadinya kekerasan baru menurutlah dia.
July 19th, 2009 at 9:38 pmTerkadang hbs itu sy kasian sm dia,tol.saranya bgmn menghadapi anak seusia ini tnp kekerasan&marah2 untuk anak sy berkata ia klo.disuruh melakukan sesuatu.Sy takut dampaknya mgkn ga yach anak sy bs jd anak yg pendendam,soalnya jg dg usia ini udh suka memukul pengasuhnya maupun saya ibunya.terima kasih sebelumnya…..
Dini Susanti
Hai ibu marina, saya ingin berikan saran berdasarkan pengalaman pribadi. Anak saya sudah melewati usia tersebut, pada umumnya memori anak blm terbentuk sempurna pd usia tsb, semua kegiatan dilakukan krn spontanitas saja, disiplin blm bisa di terapkan dng istilahnya ’saklek’ atau baku. semua kegiatan yg diarahkan keanak harus atas dasar hanya karena anak menyukainya, dan semua dilakukan secara fleksible, misalnya gini, jika ada rutinitas gosok gigi sebelum tidur dan anak mengalami kelelahan tidak mau gosok gigi maka jangan dipaksa, seorang ibu bisa mengajaknya hanya berkumur2 saja atau ibu membantu basuh giginya dng kain kasa. Dan biasakan semua dilakukan dengan komunikasi, meski anak belum mengerti namun bisa kita ajak bercakap2 mirip bicara dng pimpinan perusahaan kita ^^ misalnya, mau gosok gigi sekarang ga? kalo tidak nanti bisa bau mulut dan banyak kuman di gigi? *ga mau!! (kata anak),
July 20th, 2009 at 7:26 amjawab : ya sudah, cape ya habis main seharian? lain kali kita gosok gigi lebih awal supaya ga terlalu cape ya sayang, kalo gitu kumur2 aja yuk sama mamah, biar giginya tetep bersih..
pasti banyak kata2 baru yang aneh2 dia tidak mengerti seperti apa itu kuman, apa itu bau mulut dan lain-lain namun hal tersebut akan menjadi pertanyaan di usia 3 atau 4 tahun nanti, yg dia akan sering bertanya : apa itu kuman mah? apa itu bau mulut mah? itu hanya salah satu contoh saja.
perihal suka memukul jangan kawatir bu, mungkin ada contoh yg diterapkan ibu sendiri atau pengasuhnya dan beliau menirunya, usahakan sang ibu jangan memukul anak di usia ini, biarkan saja bila hal2 yg kurang baik dilakukannya namun di ajarkan dengan komunikasi supaya anak mau belajar dan mengerti bahwa itu ga baik.
perihal mengurung di kamar mandi jangan pernah dilakukan lagi bu, menurut saya hal tsb akan berdampak ke psikis yang mendalam, misalnya anak beranggapan kamar mandi itu tempat hukuman menakutkan, lebih baik takut2i saja seperti mau mamah tinggalkan ke kantor lagi? nanti abang sendirian di rumah?? semua memakai komunikasi verbal.
selalu jadikan anak agar mereka selalu membutuhkan kita ayah dan ibunya, anda bisa memulai dengan sering memberikan hadiah2 kecil tanpa dia minta, sehingga beliau beranggapan ibunya paling baik dan paling mengerti beliau..
semoga saran saya membantu ya.. salam dan cium buat si kecil ..
didy
waa..thanks bgt nii..artikel ini banyak membantu saya..Lumayan bikin pikiran lebih fresh,jadi ada cara baru menghadapi anak saya yang baru berusia 2,3 th.Ternyata nggak cuma saya yang punya masalah Tantrum dan “lebay” dari anak saya..Thank u..
August 24th, 2009 at 2:38 pmHery Afandi
Saya mempunyai anak yang berumur dua tahun setengah. keseharian anak saya, dia bandel dan tidak mau dibilangin. dia selalu ingin diturutin apa maunya. kadang - kadang saya kesal dan kepingin memarahi dia, dan bahkan sampai - sampai saya memarahi dia. nah. bagaimana caranya saya mengendalikan emosi saya agar saya tidak sampai berbuat lebih pada anak saya yang berusia dua tahun tersebut
September 3rd, 2009 at 7:20 amDini Susanti
Pak Hery, beberapa info pada artikel diatas dapat bpk terapkan :
1. pada satu perbuatan bandel cukup marah satukali, bilang bahwa kita tidak suka atau marah dng kelakuan atau perbuatannya. ” papa tidak suka kalo kamu begini..begitu atau papa marah .. itu perbuatan tidak baik.. dll” kita tanamkan pengertian ke anak bahwa kita tidak menyenangi perbuatannya bukan pelakunya. Lalu kita kasi contoh gimana seharusnya yang baik itu.
2. kalo kita sudah marah lalu beliau jadi tantrum atau marah2 ga jelas, emosi kita bisa tinggi disini, kita tinggalkan sebentar semenit dua menit hilang dari pandangannya. dan turunkan emosi kita, lalu datang lagi dan ngajak ngobrol. tetep pake logika.
3. fleksible aja sama anak, setiap perbuatannya masih dilakukan karena melihat orang lain dan nyontek dari mana aja (jadi kalo kita doyan marah2 anak juga bisa begitu atau nonton sinetron atau dari lingkungan buruk) anak umur segitu belum punya inisiatif sendiri masih atas dasar mencopy meniru.
jika kita selalu ngajak ngobrol (biasakan ngajak ngobrol) lama-kelamaan kita bisa seru adu bicara dng anak, bukan lagi pake perbuatan jelek tapi berdebat ^^ karena sudah terbiasa diajak ngobrol pake logika, nah disini lebih baik.. perbuatan jeleknya biasanya sudah dikurangi karena sudah tau sejak awal kalo yang ini nanti papa mama marah, yang ini papa mama seneng (pada dasarnya mereka ga mau kita marah, mereka ingin disayang) - tinggal kitanya deh adu pinter sama anak.. lama-kelamaan bnyk yang dipelajari dan ingin ditanyakan pada kita ^^
September 3rd, 2009 at 7:35 amakangonny
informasi sangat berguna bagi keluarga saya,,banyak terimakasih
September 24th, 2009 at 2:02 pmony
Salam kenal mbak,Gmn ya mbak biar anak ga mudah gemes.Anak saya 21 bln,laki2, kalo melihat anak kecil lainnya sering gemes dengan memegang kenceng {mencengkeram} tubuh temennya ato baju temennya sambil geget2 gitu,padahal sdh dibilangin nanti temennya sakit kalo dibegitukan,anaknya jg sdh mengangguk sambil bilang iya..iya..ee tp kok msh aja diulangi ya mbak.Jadi kalo bermain hrs ditungguin takutnya menyakiti temen2nya.Hal ini ternyata tdk cm trjadi pd anak saya,anak lain pun ada yg suka gemes gitu.trksh masukannya
November 17th, 2009 at 10:31 pmyully
ass Dini,saya ibu 3 orang anak laki2,punya masalah yg kira2 sama dengan ibu2 yg lain.Yang anak2nya agak ,istimewa’.yg 2 diatas sudah agak besar,sudah mendapatkan ‘kontaminasi’ dr luar.Kadang2 mereka suka membawa prilaku yg di dapat dr ‘luar’ ke dalam rumah,yg akhirnya ditiru mentah2 sama anak saya yg bungsu (3thn).Si bungsu jadi suka memaki,dan kl bercanda kasar.Apa yg Dini sarankan di atas sdh sy cb lakukan,tapi belum ada hasilnya sampai sekarang.Apa ya kesalahan yg kira2 saya lakukan?Mungkin ada yg kurang dr apa yg sudah saya lakukan?
December 9th, 2009 at 7:45 pmDini Susanti
Dear Ony, anaknya 21 bulan atau kira2 dua tahun yah, menurut saya jika beliau punya kebiasaan seperti itu tidak apa2. karena usia dua tahun belum punya sifat khusus yang permanen, tapi memang harus diingatkan setiap kali berbuat, supaya tidak keterusan, sikap mbak ony sudah betul cukup diingatkan dan diberitahu. Jika beliau selalu lupa wajar saja karena memory anak dua tahun masih terbatas. Jadi jangan kuatir nanti juga berubah lagi kelakuannya (bisa jadi lebih rumit :D) wait and see, semua yang orangtua tanamkan dan contohkan akan kelihatan hasilnya di usia 4 tahun. Usia 4 tahun anak sudah mulai punya sifat dasar, apakah seneng komentar, pendiam, rajin, perusak dll, sabar ya mbak..
Dear Yully, sama seperti opini saya pada mbak Ony diatas, anak 2 sampai 3 tahun belum punya sifat permanen, masih berubah2 sesuai contoh dan sikap yang kita (orang terdekat) contohkan. Jika kedua kakaknya lebih dekat dengan beliau maka mereka yang akan dicontoh abis-abisan. Setelah 4 tahun nanti barulah logika bisa berjalan dan bisa menolak, setuju atau argumentasi lainnya dari mereka keluar (walau terbatas). Jika contoh yang buruk didapat diusia beliau ini, maka sang ibu atau ayah harus menunjukkan who’s the boss, dalam artian positif. Jika anda lebih dominan dalam memberikan contoh yang baik maka beliau bisa ikut pada anda (mencontoh anda). jadikan siapa yang bisa beri contoh baik pada anak menjadi orang yang paling dekat dan paling disayang anak. coba berikan beliau hadiah2 yang disuka dan diajak ngobrol selalu bahwa ini baik itu buruk dsb. jangan lupa kedua kakak juga diajak ngobrol ya mbak agar juga belajar ada banyak yg bisa diambil dari luar ada yang perlu dibuang.
December 10th, 2009 at 12:38 pm