pengalaman membuat SIM 18 Januari 2007, berita basi?

Ini berita basi bukan? Hehe semoga sudah berubah sistemnya…

Hari itu saya mempunyai waktu senggang untuk mengurus pembuatan sim ke ..sama sama tau lah…di Bogor. Anak semata wayang saya titipkan kepada mbahnya. Saya tiba disana pukul 09. Sebelumnya saya kabar kabari kepada seorang kakak yang pernah juga mengurus pembuatan sim dan beliau berulang kali mengirimkan sms kepada saya untuk mengurus sim lewat seorang teman polisinya namun saya menolaknya karena baru pertama kali saya membuat sim, supaya ada pengalaman gitu. Kakak saya tertawa mengekeh silahkan saja katanya, antrian menunggu di foto yang paling mengesalkan katanya. Ah tenang aja kata saya karena saya punya banyak waktu.
Jam pertama dari sejak kedatangan saya lalui tanpa hambatan, tes kesehatan, membayar ke loket lalu isi biodata dan keterangan lainnya. Setelah itu biodata saya bawa ke ruang foto dan mulailah saya menunggu panggilan untuk difoto bersama dengan banyak orang lainnya yang duduk di depan ruangan. Tempat duduk di ruang pembuatan sim ini semua full seat. Padahal saya datang di hari kerja. Namun mungkin orang disini berpikiran sama dengan saya mengira di hari kerja akan lumayan kosong, ternyata ngobrol dengan orang sebelah saya ketahui bahwa hampir setiap hari ruang ini penuh dengan orang-orang mengantri buat sim. Waktu berlalu sangat lambat.
Tak terasa saya sudah 1 jam duduk di ruang tunggu tetap menunggu giliran dipanggil. Saya mulai menyadari ketidakberesan, ada orang-orang tertentu yang datang bersama dengan polisi lalu mereka langsung masuk ke ruang foto padahal saya jelas melihat orang-orang tersebut baru masuk ke ruangan ini, mereka datang tanpa proses kesehatan dan data diri serta sidik jari seperti yang saya lakukan. Lalu saya amati orang-orang tersebut keluar dari ruangan foto dan barulah mereka melangkah ke ruang sidik jari. Wah wah..ko jalurnya berbeda ya? Lalu seorang ibu disebelah saya mengajak saya ngobrol, dia bilang dia dan kedua temannya meminta bantuan seorang polisi juga namun sejak jam 09 belum ada panggilan, padahal sudah membayar 240rb (saya hanya bayar total 170rb). Dia kesal karena orang-orang lain yang juga minta bantuan polisi lebih cepat dan mulus jalannya.lha, ini cerita lain lagi, beliau kesal pada oknum polisi tersebut (boleh saya sebut ‘oknum’ tidak ya?) Lalu saya juga kesal nih, namun kesal pada siapa tak jelas. Ternyata oh ternyata yang coba dikatakan oleh kakak saya terbukti didepan mata. Bila ingin diproses lebih cepat maka carilah ‘oknum’ polisi atau teman polisi yang tepat. Bila tidak tepat maka terjadilah seperti ibu sebelah saya ini, beliau juga diproses lambat.
Dan kini waktu menunjukkan pukul 1400.
Saya berpindah duduk disebelah ruangan poto berharap bahwa bila nama saya terpanggil saya akan segera masuk sehingga tidak didahului orang lain. Mendadak seorang bapak disebelah saya yang sedari tadi pagi bersamaan menunggu, bangun dari duduknya dan membuka pintu ruang poto. Saya mengikutinya dari belakang penasaran dengan bapak tersebut. Lalu disana beliau berkata dengan nada tinggi namun dengan bahasa teratur yang menandakan beliau orang berpendidikan. ” Saya menunggu sejak pukul 0900 seperti yang lain, saya adalah warga negara yang taat hukum dan taat pajak. Saya seorang pengusaha yang ingin proses ktp seperti warga negara lainnya. Namun yang saya lihat sungguh mengesalkan!. Orang yang datang baru saja dengan hanya diantar seorang polisi langsung diproses foto tanpa menunggu seperti yang lain. Jika demikian proses yang memang terjadi, maka saya akan adukan kepada Mabes Polri!!.” Setelah bapak tersebut selesai bicara, polwan yang duduk dihadapan bapak bersahaja tersebut menanyakan nama bapak tersebut, lalu mencari map berisi file bapak tersebut. Dan mempersilahkan sang bapak untuk duduk di foto. tanpa BaBiBu Bapak tersebut duduk menurut dan langsung di foto. Maka keluarlah beliau tanpa sepatah kata. Dan tinggal menunggu kartu sim selesai dicetak di loket yang lain.
Saya yang melihat kejadian tersebut memberanikan diri untuk juga masuk ke ruangan foto ” maaf bu, Dini Susanti kapan diproses??” sang polwan mencari file saya dan mengatakan masih ada banyak file lain yang harus diproses sembari menunjukkan tumpukan file antara jempol dan telunjuknya.
Hhhh.. Saya pasrah deh dan kembali duduk di kursi tunggu. Namun tak sampai dua menit , nama saya dipanggil. Wah ternyata berhasil! !!
Anda harus aktif bertanya masuk ke ruang foto, menanyakan kapan giliran Anda dipanggil!.
Saya sampaikan pada yang lain-lain di ruang tunggu foto. Mereka rame-rame masuk ke ruang poto hehehe.
Selesai sudah sim saya dicetak. Hampir kurang lebih 6 jam euy!… Saya pikir lain kali perpanjangan sim saya mo cari teman polisi saja ach…

TwitterGoogle+WhatsAppBookmark/Favorites